Assalamu’alaykum
   
  Sebentar lagi kita umat Islam akan memasuki bulan Muharrom.
  Namun kita lihat di sekitar kita, masih banyak kekeliruan-2 berkenaan dg 
bulan Muharrom tsb.
   
  Ada sebagian umat islam yg meyakini bahwa bulan Muharrom (atau biasa disebut 
bulan Suro) adalah bulan sial, sehingga mereka meyakini apabila dilaksanakan 
hajat pada bulan tsb maka akan berdampak kesialan dan lain sebagainya. 
   
  Sebagian yang lain pun bertindak berlebihan terhadap bulan Muharrom tsb yaitu 
dengan melakukan ritual “melukai” diri sendiri dengan senjata tajam atau yg 
semisalnya, dengan alasan meratapi kematian salah satu cucu Rasulullah . 
Padahal Rasulullah  sendiri melarang umatnya utk berbuat niyahah (meratapi 
kematian seseorang). Dan menjelang memasuki bulan Muharrom ini, biasanya mereka 
ini sudah berancang-ancang menghembuskan syubhat-2nya kepada umat Islam 
sehingga diharapkan umat Islam pun mau meridhoi perbuatan dan keyakinan-2 rusak 
mereka yg lainnya. 
   
  Di sisi lain, Rasulullah  telah mendorong kepada umatnya utk berpuasa Asy 
Syuro (tgl 10 Muharrom) dan ditambah satu hari sebelum atau sesudahnya untuk 
menyelisihi kaum Yahudi. Sungguh, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk 
Rasulullah  dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yg diada-adakan dalam 
agama.
   
  Semoga Allah memperbaiki kondisi umat Islam agar mau kembali kepada Islam yg 
benar sesuai dg apa yg diajarkan oleh Rasulullah . Amin.
   
  Semoga artikel berikut ini bermanfaat. Barokallahu fiikum
   
   
   
   
  BULAN MUHARROM Bukan Bulan Sial
   
  "Bulan Muharram telah tiba, jangan mengadakan hajatan pada bulan ini, nanti 
bisa sial." Begitulah kata sebagian sebagian orang di negeri ini. Ketika hendak 
mengadakan hajatan, mereka memilih hari/bulan yang dianggap sebagai hari/bulan 
baik yang bisa mendatangkan keselamatan atau barakah. Dan sebaliknya, mereka 
menghindari hari/bulan yang dianggap sebagai hari-hari buruk yang bisa 
mendatangkan kesialan atau bencana. Seperti bulan Muharram (Suro) yang sudah 
memasyarakat sebagai bulan pantangan untuk keperluan hajatan. Bahkan kebanyakan 
mereka meyakininya sebagai prinsip dari agama Islam. Apakah memang benar hal 
ini disyariatkan atau justru dilarang oleh agama? 


  Maka simaklah kajian kali ini, dengan penuh tawadhu' untuk senantiasa 
menerima kebenaran yang datang dari Al Qur'an dan As Sunnah sesuai yang telah 
dipahami oleh para sahabat Rasulullah . 

Apa Dasar Mereka Menentukan Bulan Suro Sebagai Pantangan Untuk Hajatan?
  
Kebanyakan mereka sebatas ikut-ikutan (mengekor) sesuai tradisi yang biasa 
berjalan di suatu tempat. Ketika ditanyakan kepada mereka, "Mengapa anda 
berkeyakinan seperti ini ?" Niscaya mereka akan menjawab bahwa ini adalah 
keyakinan para pendahulu atau sesepuh yang terus menerus diwariskan kepada 
generasi setelahnya. Sehingga tidak jarang kita dapati generasi muda muslim 
nurut saja dengan "apa kata orang tua", demikianlah kenyataannya. 


  Para pembaca sekalian, dalil "apa kata orang tua", bukanlah jawaban ilmiah 
yang pantas dari seorang muslim yang mencari kebenaran. Apalagi permasalahan 
ini menyangkut baik dan buruknya aqidah seseorang. Maka permasahan ini harus 
didudukkan dengan timbangan Al Qur'an dan As Sunnah, benarkah atau justru 
dilarang oleh agama?
  
Sikap selalu mengekor dengan apa kata orang tua dan tidak memperdulikan 
dalil-dalil syar'i, merupakan perbuatan yang tercela. Karena sikap ini 
menyerupai sikap orang-orang Quraisy ketika diseru oleh Rasulullah untuk 
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Apa kata mereka? (artinya): 
"Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (nenek moyang) kami menganut suatu 
agama (bukan agama yang engkau bawa -pent), dan sesungguhnya kami orang-orang 
yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka." (Az Zukhruf: 22) 
  
Jawaban seperti ini juga mirip dengan apa yang dikatakan oleh kaum Nabi Ibrahim 
 ketika mereka diseru untuk meninggalkan peribadatan kepada selain Allah. 
"Kami dapati bapak-bapak kami berbuat demikian (yakni beribadah kepada berhala, 
pen)." (Asy Syu'ara': 74) 
  
Demikian juga Fir'aun dan kaumnya, mengapa mereka ditenggelamkan di lautan? Ya, 
mereka enggan untuk menerima seruan Nabiyullah Musa, mereka mengatakan: 
"Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami 
dapati nenek moyang kami mengerjakannya …" (Yunus: 78) 
  
Kaum 'Aad yang telah Allah binasakan juga mengatakan sama. Ketika Nabi Hud 
menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah dan meninggalkan kesyirikan, mereka 
mengatakan: 
"Apakah kamu datang kepada kami, agar kami menyembah Allah saja dan 
meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?" (Al A'raf: 70) 
  
Apa pula yang dikatakan oleh kaum Tsamud dan kaum Madyan kepada nabi mereka, 
nabi Shalih dan nabi Syu'aib? 
Mereka berkata: "Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah 
oleh bapak-bapak kami?..." (Hud: 62) 
  
"Wahai Syu'aib, apakah agamamu yang menyuruh kami agar kami meninggalkan apa 
yang disembah oleh bapak-bapak kami …" (Hud: 87) 
  
Demikianlah, setiap rasul yang Allah utus, mendapatkan penentangan dari 
kaumnya, dengan alasan bahwa apa yang mereka yakini merupakan keyakinan nenek 
moyang mereka. 
  
"Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah. 
Mereka menjawab: (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami 
dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." (Al Baqarah: 170) 
  
Lihatlah, wahai pembaca sekalian, mereka menjadikan perbuatan yang dilakukan 
oleh para pendahulu mereka sebagai dasar dan alasan untuk beramal, padahal 
telah nampak bukti-bukti kebatilan yang ada pada mereka. 
"(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak 
mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (Al Baqarah: 170) 
  
Agama Islam yang datang sebagai petunjuk dan rahmat bagi semesta alam, telah 
mengajarkan kepada umatnya agar mereka senantiasa mengikuti dan mengamalkan 
agama ini di atas bimbingan Allah  dan Rasul-Nya . Allah berfirman (artinya): 
"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti 
pemimpin-pemimpin selain-Nya." (Al A'raf: 3) 

Sudah Ada Sejak Zaman Jahiliyyah 
  
Mengapa sebagian kaum muslimin enggan untuk mengadakan hajatan (walimah, dan 
sebagainya) pada bulan Muharram atau bulan-bulan tertentu lainnya? 
Ya, karena mereka menganggap bahwa bulan-bulan tersebut bisa mendatangkan 
bencana atau musibah kepada orang yang berani mengadakan hajatan pada bulan 
tersebut, Subhanallah. Keyakinan seperti ini biasa disebut dengan Tathayyur 
(تَطَيُّر) atau Thiyarah 
(طِيَرَة), yakni suatu anggapan bahwa 
suatu keberuntungan atau kesialan itu didasarkan pada kejadian tertentu, waktu, 
atau tempat tertentu. 
Misalnya seseorang hendak pergi berjualan, namun di tengah jalan dia melihat 
kecelakaan, akhirnya orang tadi tidak jadi meneruskan perjalanannya karena 
menganggap kejadian yang dilihatnya itu akan membawa kerugian dalam usahanya. 
Orang-orang jahiliyyah dahulu meyakini bahwa Tathayyur ini dapat mendatangkan 
manfaat atau menghilangkan mudharat. Setelah Islam datang, keyakinan ini 
dikategorikan kedalam perbuatan syirik yang harus dijauhi. Dan Islam datang 
untuk memurnikan kembali keyakinan bahwa segala sesuatu itu terjadi atas 
kehendak Allah dan membebaskan hati ini dari ketergantungan kepada selain-Nya. 
"Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan 
tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al A'raf: 131) 

Tathayyur Termasuk Kesyirikan Kepada Allah
  
Seseorang yang meyakini bahwa barangsiapa yang mengadakan acara walimahan atau 
hajatan yang lain pada bulan Muharram itu akan ditimpa kesialan dan musibah, 
maka orang tersebut telah terjatuh ke dalam kesyirikan kepada Allah . 
Rasulullah yang telah mengkabarkan demikian, dalam sabdanya: 
"Thiyarah itu adalah kesyirikan." (HR. Ahmad dan At Tirmidzi) 
  
Para pembaca, ketahuilah bahwa perbuatan ini digolongkan ke dalam perbuatan 
syirik karena beberapa hal, di antaranya: 
1. Seseorang yang berthiyarah berarti dia meninggalkan tawakkalnya kepada Allah 
. Padahal tawakkal merupakan salah satu jenis ibadah yang Allah perintahkan 
kepada hamba-Nya. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, semuanya di 
bawah pengaturan dan kehendak-Nya, keselamatan, kesenangan, musibah, dan 
bencana, semuanya datang dari Allah . 
Allah berfirman (artinya): 
"Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu, tidak ada suatu 
makhluk pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasai 
sepenuhnya)." (Hud: 56) 
  
2. Seseorang yang bertathayyur berarti dia telah menggantungkan sesuatu kepada 
perkara yang tidak ada hakekatnya (tidak layak untuk dijadikan tempat 
bergantung). Ketika seseorang menggantungkan keselamatan atau kesialannya 
kepada bulan Muharram atau bulan-bulan yang lain, ketahuilah bahwa pada 
hakekatnya bulan Muharram itu tidak bisa mendatangkan manfaat atau menolak 
mudharat. Hanya Allah-lah satu-satunya tempat bergantung. Allah berfirman 
(artinya): 
"Allah adalah satu-satunya tempat bergantung." (Al Ikhlash: 2) 
  
Para pembaca, orang yang tathayyur tidaklah terlepas dari dua keadaan; 
Pertama: meninggalkan semua perkara yang telah dia niatkan untuk dilakukan. 
Kedua: melakukan apa yang dia niatkan namun di atas perasaan was-was dan 
khawatir. 
Maka tidak diragukan lagi bahwa dua keadaan ini sama-sama mengurangi nilai 
tauhid yang ada pada dirinya. 

Bagaimana Menghilangkannya? 
  
Sesungguhnya syariat yang Allah turunkan ini tidaklah memberatkan hamba-Nya. 
Ketika Allah dan Rasul-Nya melarang perbuatan tathayyur, maka diajarkan pula 
bagaimana cara menghindarinya. 
'Abdullah bin Mas'ud, salah seorang shahabat Rasulullah telah membimbing kita 
bahwa tathayyur ini bisa dihilangkan dengan tawakkal kepada Allah. 
Tawakkal yang sempurna, dengan benar-benar menggantungkan diri kepada Allah 
dalam rangka mendapatkan manfaat atau menolak mudharat, dan mengiringinya 
dengan usaha. Sehingga apapun yang menimpa seseorang, baik kesenangan, 
kesedihan, musibah, dan yang lainnya, dia yakin bahwa itu semua merupakan 
kehendak-Nya yang penuh dengan keadilan dan hikmah. 
Rasulullah juga mengajarkan do'a kepada kita: 

"Ya Allah, tidaklah kebaikan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidaklah kesialan 
itu datang kecuali dari-Mu, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah 
kecuali Engkau." (HR. Ahmad) 

Hakekat Musibah
  
Suatu ketika, Allah menghendaki seseorang untuk tertimpa musibah tertentu. 
Ketahuilah bahwasanya musibah itu bukan karena hajatan yang dilakukan pada 
bulan Muharram, tetapi musibah itu merupakan ujian dari Allah. 
Orang yang beriman, dengan adanya musibah itu akan semakin menambah keimanannya 
karena dia yakin Allah menghendaki kebaikan padanya. 

"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan timpakan musibah 
padanya." (HR. Al Bukhari) 
  
Ketahuilah, wahai pembaca, bahwa musibah yang menimpa seseorang itu juga 
merupakan akibat perbuatannya sendiri. Allah berfirman (artinya): 
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan 
tanganmu sendiri …" (Asy Syura: 30) 
  
Yakni disebabkan banyaknya perbuatan maksiat dan kemungkaran yang dilakukan 
manusia. 
  
Tinggalkan Tathayyur, Masuk Al Jannah Tanpa Hisab dan Tanpa Adzab 
  
Salah satu keyakinan Ahlussunnah adalah bahwa orang yang mentauhidkan Allah dan 
membersihkan diri dari segala kesyirikan, ia pasti akan masuk ke dalam Al 
Jannah. Hanya saja sebagian dari mereka akan merasakan adzab sesuai dengan 
kehendak Allah dan tingkat kemaksiatan yang dilakukannya. 
  
Namun di antara mereka ada sekelompok orang yang dijamin masuk ke dalam Al 
Jannah secara langsung, tanpa dihisab dan tanpa diadzab. Jumlah mereka adalah 
70.000 orang, dan tiap-tiap 1.000 orang darinya membawa 70.000 orang. Siapakah 
mereka? 
  
Mereka adalah orang-orang yang telah disifati Rasulullah dalam sabdanya: 

"Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikay (suatu 
pengobatan dengan menempelkan besi panas ke tempat yang sakit), tidak melakukan 
tathayyur, dan mereka bertawakkal kepada Rabbnya." (Muttafaqun 'Alaihi) 
  
Meraka dimasukkan ke dalam Al Jannah tanpa dihisab dan tanpa diadzab karena 
kesempurnaan tauhid mereka. Ketika ditimpa kesialan atau kesusahan tidak 
disandarkan kepada hari/bulan tertentu atau tanda-tanda tertentu, namun mereka 
senantiasa menyerahkan semuanya kepada Allah. 
Semoga tulisan yang singkat ini, dapat memberikan nuansa baru bagi 
saudara-saudaraku yang sebelumnya tidak mengetahui bahaya tathayyur dan semoga 
Allah selalu mencurahkan hidayah-Nya kepada kita semua. Amiin.
   
   
  HUKUM PUASA ASYURA

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah hukumnya puasa Asyura?

Jawaban.
Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau mendapati 
orang-orang Yahudi berpuasa pada hari kesepuluh bulan Muharram, Nabi 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Saya lebih berhak dengan Musa daripada kalian!, lalu beliau 
mengerjakan puasa pada hari itu dan memerintahkan muslimin untuk berpuasa 
padanya” [Diriwayatkan oleh Bukhari : Kitab Shaum/Bab Puasa Hari Asyura 2004. 
Muslim Kitab Syiyam/Bab Puasa Hari Asyura 1130]

Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas Radhiyalahu ‘anhuma yang disepakati 
keshahihannya bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari 
Asyura dan menyuruh untuk berpuasa padanya. Ditanyakan kepada beliau tentang 
keutamaan puasa hari itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

“Artinya : Aku mengharap kepada Allah untuk menghapuskan dosa setahun yang 
sebelumnya” [Diriwayatkan oleh Muslim : Kitab Shiyam/Bab Disukainya berpuasa 
tiga hari tiap bulan atau puasa di hari Arafah 1162]

Akan tetapi Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah itu memerintahkan untuk 
menyelisihi Yahudi dengan berpuasa satu hari sebelumnya yakni tanggal 9 
Muharram atau satu hari sesudahnya yakni tanggal 11 Muharram.

Atas dasar itu, yang paling utama adalah berpuasa pada hari kesepuluh (10 
Muharram) lalu merangkaikan satu hari sebelumnya, atau satu hari sesudahnya. 
Tambahan di hari kesembilan lebih utama daripada hari kesebelas.

Sebaiknya engkau, wahai saudaraku muslim, berpuasa hari Asyura, demikian juga 
hari kesembilan Muharram 
  [Majmu Fatawa Arkanul Islam edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika 
Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih 
Al-Utsaimin, Pustaka Arafah] 
http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1947&bagian=0 

 
---------------------------------
The fish are biting.
 Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.

Kirim email ke