afwan kang rohad ada baiknya bila disertakan dalil aslinya jadi bisa
disesuaikan terjemahan dg aslinya jadi bisa dicocokkan bersama sama.
skr juga banyak ucapan allah diman mana bahkan ada sinetronya allah diman
mana
mungkin artikel dibawah bisa memberikan sedikit ilmu bagi kita
MENGATAKAN ALLAH ADA DI MANA-MANA
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana pandangan hukum
terhadap jawaban sebagian orang:Allah berada dimana-mana, bila ditanya
:Dimana Allah? Apakah jawaban seperti ini sepenuhnya benar?
Jawaban.
Jawaban seperti ini sepenuhnya batil. Apabila seseorang ditanya :Allah
dimana? hendaklah ia menjawab:Di langit, seperti dikemukakan oleh seorang
(budak) perempuan yang ditanya oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam :Dimana
Allah? jawabnya:Di langit.
Adapun orang yang menjawab dengan kata-kata: Allah itu ada, maka jawaban
ini sangat samar dan menyesatkan.Orang yang mengatakan bahwa Allah itu ada
dimana-mana dengan pengertian dzat Allah ada dimana-mana, adalah kafir karena
ia telah mendustakan keterangan-keterangan agama, bahwa dalil-dalil wahyu dan
akal serta menurut fitrah.maka Allah berada diatas segala mahluk. Dia berada
diatas semua langit, bersemayam diatas Arsy.
[Majmu Fatawaa wa Rasaail, juz 1 halaman 132-133]
[Disalin dari kitab Al Fatawaa Asy Syariyyah Fil Masaail Al Ashriyyah min
Fatawaa Ulamaa Al Balaadil Haraami, Edisi Indonesia: Fatwa Kontenporer Ulama
Besar Tanah Suci, Penyusun Khalid al Juraisy, Penerbit :Media Hidayah, Cet.1
September 2003]
Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana
Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Dalam sebuah siaran radio ditampilakan
kisah dengan menggunakan kata-kata:Seorang anak bertanya tentang Allah kepada
ayahnya, maka sang ayah menjawab: Allah itu ada dimana-mana. Bagaimana
pandangan hukum agama terhadap jawaban yang menggunakan kalimat semacam ini?
Jawaban.
Jawaban ini batil, merupakan perkataan golongan bidah dari aliran Jahmiyah
dan Mutazilah serta aliran lain yang sejalan dengan mereka. Jawaban yang benar
adalah yang diikuti oleh Ahli Sunnah wal Jamaah, yaitu Allah itu ada di langit
diatas Arsy, diatas semua mahlukNya. Akan tetapi ilmuNya ada dimana-mana
(meliputi segala sesuatu).Hal ini sebagaimana disebutkan didalam beberapa ayat
Al Quran,hadits-hadits Nabi Shalallahu alaihi wa sallam ,ijma dari pendahulu
umat ini.Sebgaimana contoh adalah firman Allah:
Artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit
dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy [Surat Al Araf:54]
Didalam Al Quran ayat ini tersebut pada 6 tempat. Yang dimaksud dengan
bersemayam menurut Ahli Sunnah ialah pada ketinggian atau berada diatas Arsy
sesuai dengan keagungan Allah.Tidak ada yang dapat mengetahui BAGAIMANA
bersemayamnya itu,seperti dikatakan oleh Imam Malik ketika beliau ditanya orang
tentang hal ini.Beliau menjawab:
Kata bersemayam itu telah kita pahami.Akan tetapi ,bagaimana caranya tidak
kita ketahui.Mengimani hal ini adalah wajib, tetapi mempersoalkannya adalah
bidah.
Yang beliau maksudkan dengan mempersoalkannya adalah bidah yakni
mempersoalkan cara Allah bersemayam diatas Arsy (cara detailnya seperti apa,
pen). Pengertian ini beliau peroleh dari gurunya ,Syaikh Rabiah bin
Abdurrahman yang bersumber dari riawayat Ummu Salamah radhiallahu anha .Hal ini
merupakan pendapat semua Ahli Sunnah yang bersumber dari shahabat Nabi
Shalallahu alaihi wa sallam dan para tokoh Islam sesudahnya. Allah telah
menerangkan pada beberapa ayat lainnya bahwa Dia dilangit dan Dia berada
diatas, seperti dalam firmanNya:
Artinya : Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang
saleh dinaikkan-Nya [Surat Faathir:10]
Artinya : Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha
Tinggi lagi Maha Besar [Al Baqarah:255]
Artinya : Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia
akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu
berguncang?, Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa
Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui
bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku [Surat Al Mulk:16-17]
Banyak ayat-ayat Al Quran yang dengan jelas memuat penegasan bahwa Allah itu
ada di langit, Dia berada diatas. Hal ini sejalan dengan apa yang dimaksud oleh
ayat-ayat yang menggunakan kata-kata bersamayam. Dengan demikian dapatlah
diketahui perkataan ahlu bidah :Allah itu berada dimana-mana, merupakan hal
yang sangat batil.Perkataan ini merupakan pernyataan firqoh yang beranggapan
bahwa alam ini penjelmaan Allah,suatu aliran bidah lagi sesat,bahkan aliran
kafir lagi sesat serta mendustakan Allah dan RasulNya Muhammad Shalallahu
alaihi wa sallam .Dikatakan demikian karena dalam riwayat yang sah dari beliau
Shalallahu alaihi wa sallam dinyatakan bahwa Allah ada dilangit, sebagaimana
sabda beliau Shalallahu alaihi wa sallam :
Alaa tamanuniy wa anaa amiinu man fis samaa
Artinya : Tidakkah kalian mau percaya kepadaku padahal aku adalah
kepercayaan dari Tuhan yang ada di langit. [Bukhari no.4351 kitabul Maghazi
;Muslim no.1064 Kitabuz Zakat]
Hal ini juga disebutkan pada hadits-hadits (tentang) Isra Miraj, dan
lain-lain.
[Majallatuud Dakwah no.1288]
Luthfi Hakim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ass.wr.wb.
sebelumnya saya minta maaf,....bukan maksud saya mau mendebat abu hanifa atau
mendebat antum yang mengirimkan email ini, tapi email ini ni bagi saya
berbahaya karena sarat dengan kesalahan wallahu 'alam
1. Pernyataan "Dia tidak bertempat dan tidak ditempatkan", apa pernyataan ini
benar? apa ada dalilnya? di Alqur'anul kariim sudah banyak dalil yang
menyatakan bahwa Allah bersematayam di atas Arsy, di langit yang
ketujuh....salah satunya mungkin antum hafal yaitu : ayat kursi...
tolong jangan sembarangan...afwan.Allahu'alam.
2. Pernyataan " Sebab, Dia Nur cahaya langit dan bumi", apakah pernyataa ini
benar? apa ada dalilnya? jelas sudah Allah bukan makhluk, Dia adalah Al-Khaliq,
Nach....Nur cahaya, itu kan berwujud dan itu adalah makhluk salah satu yang
diciptakan Allah....jangan menyamakan Allah dengan sifat-sifat makhluk atau
bentuk makhluknya sekalipun....afwan..Allahu'alam.
dan masih banyak lagi...antumbisa koreksi sendiri, renungkan, pikirkan dan cari
dalilnya dalam Alqur'an dan As-sunnah..
Allahu'alam
Luthfi Hakim, S.Hut,M.Si
Forest Product Department
Faculty Of Agriculture
University Of North Sumatera
Jalan Tri Dharma Ujung No 1 Kampus USU Medan 20155
Telp. +62 61 8201920
Fax. +62 61 8220605
Mobile +62 81361627984
----- Original Message ----
From: Rohad <[EMAIL PROTECTED]>
To: "[EMAIL PROTECTED]" <[email protected]>
Sent: Tuesday, December 4, 2007 1:35:32 PM
Subject: [cahdemak] [pks-batam] *DEBAT ABU HANIFAH DENGAN ILMUWAN KAFIR*
*DEBAT ABU HANIFAH DENGAN ILMUWAN KAFIR*
Pada Zaman Imam Abu Hanifah hiduplah seorang ilmuwan besar, atheis dari
kalangan bangsa Romawi.
Pada suatu hari, Ilmuwan Atheis tersebut berniat untuk mengadu kemampuan
berfikir dan keluasan ilmu dengan ulama-ulama Islam. Dia hendak menjatuhkan
ulama Islam dengan beradu argumentasi. Setelah melihat sudah banyak manusia
yang berkumpul di dalam masjid, orang kafir itu naik ke atas mimbar. Dia
menantang siapa saja yang mau berdebat dengannya.
Dan diantara shaf-shaf masjid bangunlah seorang laki-laki muda, dialah Abu
Hanifah dan ketika sudah berada dekat di depan mimbar, dia berkata : "Inilah
saya, hendak bertukar fikiran dengan tuan".
Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap
merendahkan diri karena usianya yang masih muda.
Abu Hanifah berkata, "sekarang apa yang akan kita perdebatkan! ".
Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, dia lalu memulai
pertanyaannya :
Atheis : Pada tahun berapakah Tuhan-mu dilahirkan?
Abu Hanifah : Allah berfirman "Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula
melahirkan".
Atheis : Masuk akalkah bila dikatakan bahwa Allah adalah yang pertama dan
tidak ada sesuatu sebelum-Nya? , pada tahun berapa Dia ada?
Abu Hanifah : Dia (Allah) ada sebelum adanya sesuatu.
Atheis : Kami mohon diberikan contoh yang lebih jelas dari kenyataan!
Abu Hanifah : Tahukah tuan tentang perhitungan?
Atheis : Ya.
Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka satu?
Atheis : Tidak ada angka (nol).
Abu Hanifah : Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang
mendahuluinya, kenapa tuan heran kalau sebelum Allah Yang Maha satu yang
hakiki tidak ada yang mendahului-Nya?
Atheis : Dimanakah Tuhan-mu berada sekarang?, sesuatu yang ada pasti ada
tempatnya.
Abu Hanifah : Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?, apakah di dalam susu itu
keju?
Atheis : Ya, sudah tentu.
Abu Hanifah : Tolong perlihatkan kepadaku di mana, di bagian mana tempatnya
keju itu sekarang?
Atheis : Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan
bercampur dengan susu di seluruh bagian.
Abu Hanifah : Kalau keju makhluk itu tidak ada tempat khusus dalam susu
tersebut, apakah layak tuan meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Allah
Ta'ala?, Dia tidak bertempat dan tidak ditempatkan!
Atheis :Tunjukkan kepada kami zat Tuhan-mu, apakah ia benda padat seperti
besi, atau benda cair seperti air, atau menguap seperti gas?
Abu Hanifah : Pernahkan tuan mendampingi orang sakit yang akan meninggal?
Atheis :Ya, pernah.
Abu Hanifah : Sebelum ia meninggal, sebelumnya dia bisa berbicara dengan
tuan dan menggerak-gerakan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam tak
bergerak, apa yang menimbulkan perubahan itu?
Atheis : Karena rohnya telah meninggalkan tubuhnya.
Abu Hanifah : Apakah waktu keluarnya roh itu tuan masih ada disana?
Atheis : Ya, masih ada.
Abu Hanifah: Ceritakanlah kepadaku, apakah rohnya itu benda padat seperti
besi, atau cair seperti air atau menguap seperti gas?
Atheis : Entahlah, kami tidak tahu.
Abu Hanifah : Kalau tuan tidak boleh mengetahui bagaimana zat maupun bentuk
roh yang hanya sebuah makhluk, bagaimana tuan boleh memaksaku untuk
mengutarakan zat Allah Ta'ala?!!
Atheis : Ke arah manakah Allah sekarang menghadapkan wajahnya? Sebab segala
sesuatu pasti mempunyai arah?
Abu Hanifah : Jika tuan menyalakan lampu di dalam gelap malam, ke arah
manakah sinar lampu itu menghadap?
Atheis : Sinarnya menghadap ke seluruh arah dan penjuru.
Abu Hanifah : Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma buatan itu,
bagaimana dengan Allah Ta'ala Pencipta langit dan bumi, sebab Dia nur cahaya
langit dan bumi.
Atheis : Kalau ada orang masuk ke syurga itu ada awalnya, kenapa tidak ada
akhirnya? Kenapa di syurga kekal selamanya?
Abu Hanifah : Perhitungan angka pun ada awalnya tetapi tidak ada akhirnya.
Atheis : Bagaimana kita boleh makan dan minum di syurga tanpa buang air
kecil dan besar?
Abu Hanifah : Tuan sudah mempraktekkanya ketika tuan ada di perut ibu tuan.
Hidup dan makan minum selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang
air kecil dan besar disana. Baru kita melakukan dua hajat tersebut setelah
keluar beberapa saat ke dunia.
Atheis : Bagaimana kebaikan syurga akan bertambah dan tidak akan
habis-habisnya jika dinafkahkan?
Abu Hanifah : Allah juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan
malah bertambah banyak, seperti ilmu. Semakin diberikan (disebarkan) ilmu
kita semakin berkembang (bertambah) dan tidak berkurang.
"Ya! kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, apa yang
sedang Allah kerjakan sekarang?" tanya Atheis.
"Tuan menjawab pertanyaan-pertanya an saya dari atas mimbar, sedangkan saya
menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya
mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan",
pinta Abu Hanifah.
Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas.
"Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa
pekerjaan Allah sekarang?".
Ilmuwan kafir mengangguk.
" Ada pekerjaan-Nya yang dijelaskan dan ada pula yang tidak dijelaskan.
Pekerjaan-Nya sekarang ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri
seorang kafir yang tidak hak seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti
sekarang, sedangkan apabila ada seorang mukmin di lantai yang berhak, dengan
segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan
Allah setiap waktu".
Para hadirin puas dengan jawapan yang diberikan oleh Abu Hanifah dan begitu
pula dengan ilmuwan besar atheis tersebut dia mengakui kecerdikan dan
keluasan ilmu yang dimiliki Abu Hanifah.
*Salah satu tugas agama ialah memelihara akal.*
*Memelihara akal ialah dengan jalan menambah ilmu melatih diri berfikir &
merenungkannya. *
*( Hamka)*
.
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.