Terima kasih atas koreksinya.
Semoga kita lebih berhati-hati dalam menbaca artikel
yang tidak disertai dalil aslinya.

salam kenal
Rohad Fatkhurrokhim - Batam

  ----- Original Message ----- 
  From: abu Adzka 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, December 04, 2007 4:25 PM
  Subject: Re: [cahdemak] [pks-batam] *DEBAT ABU HANIFAH DENGAN ILMUWAN KAFIR*



  afwan kang rohad ada baiknya bila  disertakan dalil aslinya jadi bisa 
disesuaikan terjemahan dg aslinya jadi bisa dicocokkan bersama sama.
  skr juga banyak ucapan allah diman mana bahkan ada sinetronya allah diman 
mana 
  mungkin artikel dibawah bisa memberikan sedikit ilmu bagi kita 


   
  MENGATAKAN ALLAH ADA DI MANA-MANA
  Oleh
  Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
  Pertanyaan.
  Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana pandangan hukum 
terhadap jawaban sebagian orang:"Allah berada dimana-mana," bila ditanya 
:"Dimana Allah?" Apakah jawaban seperti ini sepenuhnya benar?
  Jawaban.
  Jawaban seperti ini sepenuhnya batil. Apabila seseorang ditanya :"Allah 
dimana?" hendaklah ia menjawab:"Di langit," seperti dikemukakan oleh seorang 
(budak) perempuan yang ditanya oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam :"Dimana 
Allah?" jawabnya:"Di langit."
  ! 
  Adapun orang yang menjawab dengan kata-kata:" Allah itu ada," maka jawaban 
ini sangat samar dan menyesatkan.Orang yang mengatakan bahwa Allah itu ada 
dimana-mana dengan pengertian dzat Allah ada dimana-mana, adalah kafir karena 
ia telah mendustakan keterangan-keterangan agama, bahwa dalil-dalil wahyu dan 
akal serta menurut fitrah.maka Allah berada diatas segala mahluk. Dia berada 
diatas semua langit, bersemayam diatas Arsy.
  [Majmu' Fatawaa wa Rasaail, juz 1 halaman 132-133]
  [Disalin dari kitab Al Fatawaa Asy Syar'iyyah Fil Masaail Al 'Ashriyyah min 
Fatawaa Ulamaa' Al Balaadil Haraami, Edisi Indonesia: Fatwa Kontenporer Ulama 
Besar Tanah Suci, Penyusun Khalid al Juraisy, Penerbit :Media Hidayah, Cet.1 
September 2003]

  Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana
  Pertanyaan.
  Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Dalam sebuah siaran radio ditampilakan 
kisah dengan menggunakan kata-kata:"Seorang anak bertanya tentang Allah kepada 
ayahnya,! maka sang ayah menjawab: "Allah itu ada dimana-mana." Bagaimana 
pandangan hukum agama terhadap jawaban yang menggunakan kalimat semacam ini?
  Jawaban.
  Jawaban ini batil, merupakan perkataan golongan bid'ah dari aliran Jahmiyah 
dan Mu'tazilah serta aliran lain yang sejalan dengan mereka. Jawaban yang benar 
adalah yang diikuti oleh Ahli Sunnah wal Jama'ah, yaitu Allah itu ada di langit 
diatas Arsy, diatas semua mahlukNya. Akan tetapi ilmuNya ada dimana-mana 
(meliputi segala sesuatu).Hal ini sebagaimana disebutkan didalam beberapa ayat 
Al Qur'an,hadits-hadits Nabi Shalallahu alaihi wa sallam ,ijma' dari pendahulu 
umat ini.Sebgaimana contoh adalah firman Allah:
  "Artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit 
dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy [Surat Al A'raf:54]
  Didalam Al Qur'an ayat ini tersebut pada 6 tempat. Yang dimaksud dengan 
'bersemayam" menurut Ahli Sunnah ialah pada ketinggian atau berada diatas Arsy 
sesuai dengan keagungan Allah.Tidak ada yang dapat mengetahui BAGAIMANA 
bersemayamnya itu,seperti dikatakan oleh Imam Malik ketika beliau ditanya orang 
tentang hal ini.Beliau menjawab:
  "Kata bersemayam itu telah kita pahami.Akan tetapi ,bagaimana caranya tidak 
kita ketahui.Mengimani hal ini adalah wajib, tetapi mempersoalkannya adalah 
bid'ah."
  Yang beliau maksudkan dengan mempersoalkannya adalah bid'ah yakni 
mempersoalkan cara Allah bersemayam diatas Arsy (cara detailnya seperti apa, 
pen). Pengertian ini beliau peroleh dari gurunya ,Syaikh Rabi'ah bin 
Abdurrahman yang bersumber dari riawayat Ummu Salamah radhiallahu anha .Hal ini 
merupakan pendapat semua Ahli Sunnah yang bersumber dari shahabat Nabi 
Shalallahu alaihi wa sallam dan para tokoh Islam sesudahnya. Allah telah 
menerangkan pada beberapa ayat lainnya bahwa Dia dilangit dan Dia berada 
diatas, seperti dalam firmanNya:
  "Artinya : Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang 
saleh dinaikkan-Nya" [Surat Faathir:10]
  "Artinya : Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha 
Tinggi lagi Maha Besar" [Al Baqarah:255]
  "Artinya : Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia 
akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu 
berguncang?, Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa 
Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui 
bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku" [Surat Al Mulk:16-17]
  Banyak ayat-ayat Al Qur'an yang dengan jelas memuat penegasan bahwa Allah itu 
ada di langit, Dia berada diatas. Hal ini sejalan dengan apa yang dimaksud oleh 
ayat-ayat yang menggunakan kata-kata bersamayam. Dengan demikian dapatlah 
diketahui perkataan ahlu bid'ah :"Allah itu berada dimana-mana," merupakan hal 
yang sangat batil.Perkataan ini merupakan pernyataan firqoh yang beranggapan 
bahwa alam ini penjelmaan Allah,suatu aliran bid'ah lagi sesat,bahkan aliran 
kafir lagi sesat serta mendustakan Allah dan RasulNya Muhammad Shalallahu 
alaihi wa sallam .Dikatakan demikian karena dalam riwayat yang sah dari beliau 
Shalallahu alaihi wa sallam dinyatakan bahwa Allah ada dilangit, sebagaimana 
sabda beliau Shalallahu alaihi wa sallam :
  Alaa ta'manuniy wa anaa amiinu man fis samaa'
  "Artinya : Tidakkah kalian mau percaya kepadaku padahal aku adalah 
kepercayaan dari Tuhan yang ada di langit." [Bukhari no.4351 kitabul Maghazi 
;Muslim no.1064 Kitabuz Zakat]
  Hal ini juga disebutkan pada hadits-hadits (tentang) Isra' Mi'raj, dan 
lain-lain.
  [Majallatuud Dakwah no.1288]

  Luthfi Hakim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Ass.wr.wb.
    sebelumnya saya minta maaf,....bukan maksud saya mau mendebat abu hanifa 
atau mendebat antum yang mengirimkan email ini, tapi email ini ni bagi saya 
berbahaya karena sarat dengan kesalahan wallahu 'alam

    1. Pernyataan "Dia tidak bertempat dan tidak ditempatkan", apa pernyataan 
ini benar? apa ada dalilnya? di Alqur'anul kariim sudah banyak dalil yang 
menyatakan bahwa Allah bersematayam di atas Arsy, di langit yang 
ketujuh....salah satunya mungkin antum hafal yaitu : ayat kursi...

    tolong jangan sembarangan...afwan.Allahu'alam.
    2. Pernyataan " Sebab, Dia Nur cahaya langit dan bumi", apakah pernyataa 
ini benar? apa ada dalilnya? jelas sudah Allah bukan makhluk, Dia adalah 
Al-Khaliq, Nach....Nur cahaya, itu kan berwujud dan itu adalah makhluk salah 
satu yang diciptakan Allah....jangan menyamakan Allah dengan sifat-sifat 
makhluk atau bentuk makhluknya sekalipun....afwan..Allahu'alam.

    dan masih banyak lagi...antumbisa koreksi sendiri, renungkan, pikirkan dan 
cari dalilnya dalam Alqur'an dan As-sunnah..
    Allahu'alam


    Luthfi Hakim, S.Hut,M.Si
    Forest Product Department
    Faculty Of Agriculture
    University Of North Sumatera
    Jalan Tri Dharma Ujung No 1 Kampus USU Medan 20155
    Telp. +62 61 8201920
    Fax. +62 61 8220605
    Mobile +62 81361627984 



    ----- Original Message ----
    From: Rohad <[EMAIL PROTECTED]>
    T! o: "[EMAIL PROTECTED]" <[email protected]>
    Sent: Tuesday, December 4, 2007 1:35:32 PM
    Subject: [cahdemak] [pks-batam] *DEBAT ABU HANIFAH DENGAN ILMUWAN KAFIR*



    *DEBAT ABU HANIFAH DENGAN ILMUWAN KAFIR*

    Pada Zaman Imam Abu Hanifah hiduplah seorang ilmuwan besar, atheis dari
    kalangan bangsa Romawi.
    Pada suatu hari, Ilmuwan Atheis tersebut berniat untuk mengadu kemampuan
    berfikir dan keluasan ilmu dengan ulama-ulama Islam. Dia hendak menjatuhkan
    ulama Islam dengan beradu argumentasi. Setelah melihat sudah banyak manusia
    yang berkumpul di dalam masjid, orang kafir itu naik ke atas mimbar. Dia
    menantang siapa saja yang mau berdebat dengannya.
    Dan diantara shaf-shaf masjid bangunlah seorang laki-laki muda, dialah Abu
    Hanifah dan ketika sudah berada dekat di depan mimbar, dia berkata : "Inilah
    saya, hendak bertukar fikiran dengan tuan".
    Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap
    merendahkan diri karena usianya yang masih muda.
    Abu Hanifah berkata, "sekarang apa yang akan kita perdebatkan! ".

    Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, dia lalu memulai
    pertanyaannya :

    Atheis : Pada tahun berapakah Tuhan-mu dilahirkan?
    Abu Hanifah : Allah berfirman "Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula
    melahirkan".

    Atheis : Masuk akalkah bila dikatakan bahwa Allah adalah yang pertama dan
    tidak ada sesuatu sebelum-Nya? , pada tahun berapa Dia ada?
    Abu Hanifah : Dia (Allah) ada sebelum adanya sesuatu.

    Atheis : Kami mohon diberikan contoh yang lebih jelas dari kenyataan!
    Abu Hanifah : Tahukah tuan tentang perhitungan?

    Atheis : Ya.
    Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka satu?

    Atheis : Tidak ada angka (nol).
    Abu Hanifah : Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang
    mendahuluinya, kenapa tuan heran kalau sebelum Allah Yang Maha satu yang
    hakiki tidak ada yang mendahului-Nya?

    Atheis : Dimanakah Tuhan-mu berada sekarang?, sesuatu yang ada pasti ada
    tempatnya.
    Abu Hanifah : Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?, apakah di dalam susu itu
    keju?

    Atheis : Ya, sudah tentu.
    Abu Hanifah : Tolong perlihatkan kepadaku di mana, di bagian mana tempatnya
    keju itu sekarang?

    Atheis : Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan
    bercampur dengan susu di seluruh bagian.
    Abu Hanifah : Kalau keju makhluk itu tidak ada tempat khusus dalam susu
    tersebut, apakah layak tuan meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Allah
    Ta'ala?, Dia tidak bertempat dan tidak ditempatkan!

    Atheis :Tunjukkan kepada kami zat Tuhan-mu, apakah ia benda padat seperti
    besi, atau benda cair seperti air, atau menguap seperti gas?
    Abu Hanifah : Pernahkan tuan mendampingi orang sakit yang akan meninggal?

    Atheis :Ya, pernah.
    Abu Hanifah : Sebelum ia meninggal, sebelumnya dia bisa berbicara dengan
    tuan dan menggerak-gerakan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam tak
    bergerak, apa yang menimbulkan perubahan itu?

    Atheis : Karena rohnya telah meninggalkan tubuhnya.
    Abu Hanifah : Apakah waktu keluarnya roh itu tuan masih ada disana?

    Atheis : Ya, masih ada.
    Abu Hanifah: Ceritakanlah kepadaku, apakah rohnya itu benda padat seperti
    besi, atau cair seperti air atau menguap seperti gas?

    Atheis : Entahlah, kami tidak tahu.
    Abu Hanifah : Kalau tuan tidak boleh mengetahui bagaimana zat maupun bentuk
    roh yang hanya sebuah makhluk, bagaimana tuan boleh memaksaku untuk
    mengutarakan zat Allah Ta'ala?!!

    Atheis : Ke arah manakah Allah sekarang menghadapkan wajahnya? Sebab segala
    sesuatu pasti mempunyai arah?
    Abu Hanifah : Jika tuan menyalakan lampu di dalam gelap malam, ke arah
    manakah sinar lampu itu menghadap?

    Atheis : Sinarnya menghadap ke seluruh arah dan penjuru.
    Abu Hanifah : Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma buatan itu,
    bagaimana dengan Allah Ta'ala Pencipta langit dan bumi, sebab Dia nur cahaya
    langit dan bumi.

    Atheis : Kalau ada orang masuk ke syurga itu ada awalnya, kenapa tidak ada
    akhirnya? Kenapa di syurga kekal selamanya?
    Abu Hanifah : Perhitungan angka pun ada awalnya tetapi tidak ada akhirnya.

    Atheis : Bagaimana kita boleh makan dan minum di syurga tanpa buang air
    kecil dan besar?
    Abu Hanifah : Tuan sudah mempraktekkanya ketika tuan ada di perut ibu tuan.
    Hidup dan makan minum selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang
    air kecil dan besar disana. Baru kita melakukan dua hajat tersebut setelah
    keluar beberapa saat ke dunia.

    Atheis : Bagaimana kebaikan syurga akan bertambah dan tidak akan
    habis-habisnya jika dinafkahkan?
    Abu Hanifah : Allah juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan
    malah bertambah banyak, seperti ilmu. Semakin diberikan (disebarkan) ilmu
    kita semakin berkembang (bertambah) dan tidak berkurang.

    "Ya! kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, apa yang
    sedang Allah kerjakan sekarang?" tanya Atheis.
    "Tuan menjawab pertanyaan-pertanya an saya dari atas mimbar, sedangkan saya
    menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya
    mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan",
    pinta Abu Hanifah.

    Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas.
    "Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa
    pekerjaan Allah sekarang?".
    Ilmuwan kafir mengangguk.
    " Ada pekerjaan-Nya yang dijelaskan dan ada pula yang tidak dijelaskan.
    Pekerjaan-Nya sekarang ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri
    seorang kafir yang tidak hak seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti
    sekarang, sedangkan apabila ada seorang mukmin di lantai yang berhak, dengan
    segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan
    Allah setiap waktu".

    Para hadirin puas dengan jawapan yang diberikan oleh Abu Hanifah dan begitu
    pula dengan ilmuwan besar atheis tersebut dia mengakui kecerdikan dan
    keluasan ilmu yang dimiliki Abu Hanifah.
    *Salah satu tugas agama ialah memelihara akal.*
    *Memelihara akal ialah dengan jalan menambah ilmu melatih diri berfikir &
    merenungkannya. *
    *( Hamka)*


    .
     





----------------------------------------------------------------------------
    Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. 




------------------------------------------------------------------------------
  Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. 

   

Kirim email ke