InsyaAllah bisa buat pelajaran untuk kita...

---------- Forwarded message ----------
From: <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Dec 16, 2007 6:49 AM
Subject: [Agricultural Engineering 37] Refleksi buat para orang tua atau
calon orang tua
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]



artikel bagus ni...

*Ungkapan Jujur Seorang Anak*

Tahun 2005 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak
sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya
memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya
menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yangduduk di kelas
unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru
tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika,
guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga
anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di
kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.

Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: "Apa yang kamu inginkan ?"
Dika hanya menggeleng. "Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya.
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat. Beberapa kali saya berdiskusi dengan
wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian
lama tak ada kemajuan.Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang
psikolog.Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah
untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal
demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil
bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana
skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu
pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160.
Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untukkemampuan verbalnya tidak lebih
dari 115 (Rata-Rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat
kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan
pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun
menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi.
Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang
dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang
menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan
verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban
yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri,
melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."Dika pun
menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja" Dengan
beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang
memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas.

Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif
sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan
waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya
membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya.
Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika
perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu
luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan
untuksekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu
pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata
permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya,
menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..." Dika
pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku
ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu".

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau
diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini danitu. Ia
hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari,seperti apa yang
diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian
membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani
orang lain, menonton TV secukupnya,merapikan sendiri koran yang habis
dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti
itu justru sulit dilakukanoleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."Maka Dika
menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal saya merasa bahwa
pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk
mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan
bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri
saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak
sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang
dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."Dika pun
menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa
kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan
bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk
berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah
dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk
berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan
jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa
yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami
lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk
berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar darikesalahannya. Konsekuensi
dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran
berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang
serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang....." Dika
pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja". Saya cukup kaget
karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit,
sekembalinya dari kantor untukmembahas hal-hal yang menurut saya penting,
seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata
hal-hal yangmenurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak
saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa
kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akanTuhan.
Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....", Dika pun
menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku
ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah
berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf
kepadaku".

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia,
orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana,
yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu
meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua
kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ....." Dika
berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin
ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk
adikku". Memang ada kalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi
saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk,apalagi dicium-cium. Ternyata
saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan
supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa
perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh
anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari...."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata
"tersenyum".

Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan
senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman
tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi
justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan
segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku
memanggilku. ..." Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan
nama yang bagus" Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah
memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi
Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan
sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti
laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku
memanggilku .." Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".Selama
ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena
sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan
logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena
selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan
hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan
hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak
ramai saya bagikan poster bertuliskan"To Respect Child Rights is an
Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati
Hak Anak adalahKewajiban, bukan Pilihan".

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah
memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam
diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang
membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel,
ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah
mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satu pun anak yang kecewa atau marah
kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan
ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati
anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan
nasehat yang baik.

(Ditulis oleh : Lesminingtyas)


===========================================================================
This email is confidential.  If  you are not the  addressee tell the sender
immediately  and destroy this  email without using,  sending or storing it.
Emails are not secure  and may suffer  errors, viruses, delay, interception
and amendment.  The Trakindo Group of Companies do not accept liability for
damage   caused   by   this   email   and   may   monitor   email  traffic.
Unless expressly stated, any opinions are the sender's and are not approved
by  the  Trakindo  Group  of  Companies  and  this  email  is not an offer,
solicitation,     recommendation     or    agreement    of    any     kind.
===========================================================================

 

Kirim email ke