On Fri, Apr 15, 2005 at 02:50:21PM +0700, ACCESS wrote:
> Ya dimilis yang lalu, aku minta keterbukaan,
> tolong diberikan informasi terbuka, dimana
> keberadaan "bayi-yang-jadi-juragan-registry"
> itu, mana akta-nya tampilkan ke publik,
> kita lihat bersama "jeroan-nya", bagaimana
> kok bisa dapat "previledge" ditunjuk jadi
> Registry. Itu yang pertama.

Nggak masalah. Siapapun yang mau lihat aktanya, silahkan datang
ke kantor kami. Silahkan. Saya tidak keberatan. Kapan mau datang?

Hal yang sama saya tanyakan kepada anda.
- Coba beberkan akta2 dari organisasi2/yayasan2 yang dibentuk APJII.
- Coba beberkan dokumen2 mengenai IIX
- Coba tunjukkan akta2 perusahaan2 dan organisasi2 yang anda buat
  (misal Mahatel) yang terkait dengan Internet resources.
Jika anda minta keterbukaan, maka saya minta juga keterbukaan.
Anda sanggup? 
Jangan menuntut pihak lain untuk melakukan sesuatu yang anda sendiri
tidak sanggup melakukannya.

Sebagai perbandingan: coba tunjukkan akta ISOC.
Siapa-siapa saja yang tanda tangan di sana?
Di sana kan ada anda, saya, dan beberapa nama yang lain.
Mengapa akta ISOC tidak anda pertanyakan, misalnya.
Padahal proses pembentukannya juga sama saja dengan PDII.
Apakah ada proses public hearing? Tidak.
[Saya khawatir akhir-akhir ini anda mencoba mempolitisir ISOC lagi.
Untung di sana ada Irwan yang menjadi benteng.]

Saya bisa ceritakan hal-hal lain mengenai tidak jalannya IIX di 
tempat anda, atau move anda dalam bentuk proposal ASIANIC yang
memojokkan APNIC sehingga Paul Wilson marah besar, misalnya. 
But that's another story.

Masalahnya sederhana sih. Di PDII (pengelola domain) tidak ada nama
anda. Sementara yang lain ada nama anda. Itu saja.


> 2: Presentasi CAMEL untuk Non-for-
>         profit Organization PPDI tersebut.
> [Capital, Asset, Management, Equity, Liquidity]
> cc-TLD Kelembagaan vs cc-TLD Perorangan.
> 
> Peninggalan IANA sebelum ICANN memang
> melahirkan Admin2 Teknik yang disebut dengan
> cc-TLD Manager.

Maaf, tidak mengerti. Anda bicara apa ya?

> 3: Arsip dokumentasi komunikasi IANA dan ICANN?
> Di era ICANN, policy, banyak proses penyegaran
> cc-TLD establishment melalui re-delagation, krn
> berkaitan dengan CAMEL tadi.

Anda bicara apa di sini? Yang to the point begitu.

 
> 4: cc-TLD Infrastructure saat ini, coba kita audit?
> Daftar para sponsor/Anggota APJII yang bisa menjadikan
> cc-TLD in operation sampai APJII di coret,
> masih adakah peninggalan hasil APJII/IDNIC
> dalam operasional New Registry. Istilahnya
> dari sini keluar unit cost vs capital per unit.

Lagi-lagi saya tidak mengerti.
Mau cek infrastruktur kami saat ini, silahkan. Siap.
Anda mau tahu apanya?

Maaf, sebutkan daftar sponsor APJII yang menjadikan ccTLD operasional.
Dan kemudian cek, apakah itu atas usaha kami atau usaha anda?
Kami menempatkan NS di beberapa ISP adalah karena kerjasama kami dengan
ISP tersebut (dalam rangka meningkatkan kecepatan query dan kestabilan).
Anda mau melarang kami menyimpan NS kami di tempat ISP (anggota APJII)?
Anda mau claim ini sebagai portfolion anda/APJII? Begitu kan?

Lebih jauh lagi, hubungan kami dengan para ISP *SANGAT BAIK*.
Yang tidak baik adalah hubungan kami dengan APJII, karena anda.
Kami membuka lowongan registrar untuk ISP. Apanya yang kurang dari kami?
Yang heran justru APJII *MELARANG* ISP untuk mendaftar menjadi registrar.
Bahkan (informally) ada permintaan kepada kami untuk menolak permohonan 
registrar dari ISP. 
Apa yang kurang dari layanan kami kepada ISP/anggota APJII???


Mau saya bongkar lagi? Berapa bad debt domain yang tidak
tertagih oleh APJII (sebagai billing)? Anda mau nanggung itu?
Saya hanya bisa mengatakan itu kebodohan saya (for trusting .....).
Mau saya lanjutkan lagi?
Saya tidak ingin menungkapkan borok-borok di depan umum seperti ini.
But, you asked for it. 

Lihatlah beberapa kasus terakhir ini orang yang heran karena proses
pembayaran dahulu banyak yang tidak tertagih dan dibiarkan saja,
seolah-olah itu ok. Bayangkan, dari x domain, kami hanya terima y.
Maka dari itu kami tetap beroperasional dalam mode ikat pinggang ketat.

Orang tidak tahu pada awal-awal pengelolaan domain, ada kalanya kami
menggunakan perangkat pribadi, komputer pribadi, dana pribadi untuk
menjaga kestabilan domain Indonesia. Pernah suatu saat server (mau)
crash. Maka komputer pak Maman yang di rumahnya terpaksa dikorbankan
untuk dijadikan server. Untuk fax konfirmasi, terpaksa saya membujuk
pak Maman untuk menggunakan line telepon di rumahnya.
Hal-hal heroism seperti ini banyak terjadi. Tapi tidak untuk diumbar.
Ini menjadi kenangan bagi kami semua supaya tetap tegar dan tidak
cengeng dengan kondisi yang ada. 
Kadang-kadang saya sedih dan malu juga tidak bisa memberi honor tetap
kepada pada domain admin saya. Tapi the show must go on.
Layanan kepada pengguna domain di Indonesia *harus* tetap jalan.
Apa pun kondisinya.

Yang saya tidak rela adalah bila mereka sudah bekerja keras akan tetapi
mendapat intrik-intrik seperti ini. Saya tidak bisa membiarkan hal ini
berlarut larut. Ini sudah keterlaluan. The buck has to stop here. 
Yang tidak benar harus diluruskan.

Informasi yang saya utarakan ini bisa dicek dengan orang-orang Internet
yang tergolong "tua". Silahkan rekan-rekan verifikasi.
Kebanyakan rekan-rekan saya yang lain tidak ingin adanya debat kusir di
Internet ini. Tapi saya harus melakukannya. 

Now, go away. Leave us alone, will you?

-- budi

Kirim email ke