Ini adalah pertanyaan yang sering saya dengar, dan saya rasa walaupun banyak
rekan yang tahu persis jawabannya, banyak juga yang tidak tahu mengapa.

sedikit keterangan dari saya:

1. Membuat record untuk DNS itu mudah, dan selalu bisa real time, tapi
berhubung kebijakan di Indonesia tidak menginginkan munculnya domain-domain
aneh seperti "pusatpelacuran.web.id" atau "pembunuhbayaran.co.id" , maka
domain name harus dibaca dulu sebelum di approve.

2. Seandainya dapat dibuat program yang mampu melakukan filter otomatis
terhadap semua nama domain yang "tidak diinginkan", maka masih ada masalah
pembayaran. Biasanya, orang cenderung lebih mudah untuk "lupa" membayar
sesuatu yang sudah aktif. Berhubung di Indonesia semuanya masih dilakukan
dengan transfer bank, maka sebelum dilakukan pengaktifan, mesti ada yang
melakukan pengecekan dulu, untuk memastikan dana sudah masuk. Kalau semua
main diaktifkan begitu diajukan, maka muncullah segudang bad invoice

3. Kalau masalah 1 dan 2 dianggap sudah teratasi, masih ada masalah teknis
terakhir, yakni konflik registrasi. Bagaimana kalau ada 2 pihak atau lebih
yang melakukan registrasi untuk domain yang sama, pada registrar berbeda?
Siapa yang akan lebih berhak mendapatkan domain tersebut? padahal kita tahu,
walaupun program root-registrar nantinya berhasil diaktifkan, di Indonesia
sangat sulit untuk melakukan sinkronisasi program registrasi dengan database
server, dikarenakan masing-masing registrar akan lebih suka membuat program
sendiri-sendiri ketimbang menggunakan satu program yang standard.

solusi ?

Kita butuh orang yang bersedia membuatkan sebuah sistem yang sanggup
menangani semua masalah diatas, namun tidak minta dibayar dimuka, dan tidak
memasang harga setinggi langit untuk sistemnya. Jangan lupa bahwa sistemnya
harus kompatibel dengan existing database agar tidak perlu porting.
Sederhana? Ternyata sampai sekarang belum ada yang berhasil !

Mudah-mudahan keterangan singkat ini dapat membantu rekan-rekan dan
mengurangi pressure ke tim ccTLD yang sekarang.

Salam,

Irwan Effendi

Kirim email ke