KORBAN IKLAN
  Fiyan Arjun
   
  “Para permirsa semua di rumah. Baru-baru ini ada peristiwa aneh. Dimana ada 
sebuah mobil tersangkut dirumah….bla…, bla…, bla…Penyebabnya belum diketahui 
keberadaannya….”
   
  Begitulah pemberitahuan dari seorang “pembaca berita” ketika memberitahukan 
ke khalayak (baca: pemirsa) tentang suatu “fenomena” aneh untuk dapat segera 
diketahui. Tak khayal pemberitahuan itu menyedot perhatian orang banyak. Begitu 
juga dengan aku ketika belum benar-benar tahu apa yang ada “didalam”-nya. 
Jujur, saat itu aku juga merasa ditipu sekaligus seperti sebuah tamsil “seperti 
gajah dicocok hidungnya” Apakah itu benar atau tidak? Untungnya aku sudah paham 
bahwa itu hanya iklan semata.  Dan itu sebelum  aku mengetahuinya. Fatalnya 
lagi keluargaku juga ikut terhipnotis dengan “rayuan” itu. Dan jadilah kami 
yakni sebagai orang-orang yang kena imbas dari suatu iklan. 
   
  Pasti tak asing dengan keberadaan commercial break (baca: iklan) yang 
baru-baru ini hilir-mudik menghias kaca televisi. Seakan-akan membuat para 
pemirsa di  rumah dikejutkan oleh iklan itu. Bayangkan gara-gara penyebab iklan 
itu di rumahku heboh sekali dengan iklan semacam itu. Orang-orang di rumahku 
me-alibi-kan peristiwa itu benar-benar nyata dan benar keadaannya. Dan…jadilah 
mereka orang-orang korban iklan.J
   
  Kalau aku? Stop! Aku tidak begitu mudah dikelabui begitu saja dengan iklan 
semacam itu (walau sebenarnya aku  juga sempat kecele juga dibuatnyaJ). Apalagi 
saat iklan itu pertama kali ditayangkan. Memang aku akui mereka (baca: tim ide 
kreatif) patut disalutkan atas gagasan yang begitu menyedot perhatian khlayak. 
Saking “kreatif”-nya sehingga terpaksa aku angkat topi dan mengajukan 4 
jempolku. 2 jempol tanganku dan ditambah 2 lagi jempol kakiku. Klop, jadinya 
kan?J   
   
  Memang sudah jelas sesuatu yang diluar konteks apalagi tidak satu selera 
dengan kita apalagi aku, sering kali tidak suka. Namun kejadian ini sering kali 
aku  temukan sewaktu menonton suatu acara TV. Misalnya Sewaktu aku  sedang 
asyik-asyiknya menonton film box office, maka perhatianku diinterupsi dengan 
tayangan pariwara tentang iklan. Aku berpikir apakah satu konteks pariwara 
tersebut? Kemudian aku berkilah mungkin banyak yang lain gemar menonton film 
atau sinetron yang selalu meninabobokan penontonnya sehingga konteks satasiun 
televisi pendapatannya dari iklan tadi. Seharusnya iklan yang muncul atau 
disuguhkan ke pemirsa yang sesuai dengan konteks acara atau tema suatu topik 
akan lebih mengena, itulah yang disebut dengan contextual advertising 
   
  Aku mau menyalahkan iklan itu? Sepertinya tidak deh! Malahan sebagai seorang 
pencinta seni aku menganggap hal itu hanya semata sebagai hiburan belaka. Ya, 
didalam iklan tersebut mengadung misi dan visi si pembuat iklan disela-sela 
program yang ditayangkan. Ya, walau orang-orang di rumahku kecewa juga karena 
sedang “khusyu”-nya  menonton acara favoritnya terganggu. Dan, iklan itulah 
menjadi penghibur sekaligus membuat kehebohan dirumahku. Apalagi kakak 
perempuanku yang notabene sebagai ibu rumah tangga biasa menyaksikan sinetron 
merasa terkejut dengan iklan itu.
   
  Suatu hari kakak prempuanku sedang asyik menonton sinetron. Dan ketika sedang 
asyiknya menonton seleb idola dianiaya oleh lawan mainnya tiba-tiba iklan itu 
muncul. Sudah pasti kakak perempuanku kecewa. Dan iklan itulah yang menjadi  
penawar obat kekecewaan sekaligus menjadi korban sebuah iklan.
   
  “Liat-liat deh ada mobil nyagkut di rumah.”  Tiba-tiba kakak prempuanku 
teriak-teriak tidak karuan. Aku yang lagi asyik baca buku di kamar tentunya 
merasa terganggu oleh teriakannya.  Lalu aku pun langsung loncat menuju TKP 
(baca: Tempat Kejadian Peneriakan) di ruang tamu.J
   
  “Ada apaan sih? Heboh baget,” kataku sedikit kesal. Lantaran tergangu oleh 
teriakan kakak perempuanku itu yang teriakannya mirip ember pecah. Menggangu 
konsentrasi aku baca buku.
   
  “Tuh, liat ada mobil diatas rumah,” ulangnya lagi.
   “Iya, iya benar juga tuh. Ada mobil diatas rumah,” timpal adik laki-lakiku 
menimpali kekeliruannya. Padahal ia tahu kalau itu bohong belaka.J
   
  “Tuh, iklan bo’ong tau. Mana ada mobil  diatas rumah. Kalau pun ada tuh orang 
emang iseng banget,”  jawabku  membenarkan segala kekeliruan tentang iklan itu
   
  “Nah  itu iklannya nongol lagi,” tunjuk kakak pempuanku lagi kalau dirinya 
tidak  tahu kalau ia itu dibohongi oleh iklan. Dan kakak perempuanku pun 
kembali meyimak lagi dan dengan seksama. Bahwa iklan itu hanya tipuan belaka.
   
  “Benarkan hanya iklan nama Bank?” ucapku memastikan lagi. Dan akhirnya kakak 
prempuanku mau mengerti juga bahwa apa yang ia saksikan itu hanya semata-mata 
menarik perhatian semua pemirsa TV di rumah.
   
  Aku yang melihat kakak perempuan sudah paham dan tahu, aku jadi ikut terharu. 
Ya, begitulah “permainan” orang-orang pembuat iklan. Harus bisa menyedot 
perhatian khlayak! Akhirnya dengan kejadian itu orang-orang di rumahku semua 
mengerti jika iklan itu hanya bohong belaka bila suatu saat nanti muncul lagi. 
Dan aku tidak lagi-lagi mendengar teriakan kakak perempuanku itu. Teriakan  
seperti ember pecah itu.J 
   
  Tertawalah Anda sebelum tertawa itu dilarang…….J
   
  Ulujami, Mei 2007
  Aku menulis untuk menghibur kati yang sedihJ
   

       
---------------------------------
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on, 
when. 

Kirim email ke