Nggak usah bingung, karena sebetulnya ada beberapa jalur untuk nerbitin buku, fiksi atau non fiksi

- Kalo kita sama sekali belum pernah nerbitin, maka kita akan masuk jalur reguler. Disini kita harus ikut prosedur baku dari penerbit. Naskah antri ikut dibaca, lalu dinilai layak terbit atau nggaknya. Ini bis amakan waktu lama, berbulan2

- Umumnya setiap penerbit punya kebijaksanaan memprioritaskan naskah dari penulis yang bukunya pernah terbit, apalagi kalo terbit di penerbit tersebut. Jadi kalo kita udah pernah nerbitin di suatu penerbit, naskah kita berikutnya bisa diprioritaskan dibaca begitu datang, tanpa melewati antrian naskah. Apalagi kalo buku kita sebelumnya laris manis atau kita udah kenal dengan editornya. Dalam hal ini biasanya si penulis langsung ngirim naskahnya ke editor tanpa lewat sekeretariat. Pertimbangannya tentua ja soal pasar. Menerbitkan buku dari seorang penulis yang udah pernah nerbitins ebelumnya lebih menguntungkan karena si penulis itu minimal udah punya pasar, pembaca tetap buku2nya. Jadi gak perlu capek2 promosi ngenalin penulsi tsb. Keuntungan bisa datang lebih cepat.

- Kalo kita orang terkenal/tokoh/seleb dan mo nerbitin buku, biasanya penerbit juga punya "kebijakan khusus". Lagi2 pertimbangannya soal pasar. Menerbitkan karya seseorang yang sudah terkenal di masyarakat diyakini akan mendatangkan keuntungan dalam waktu singkat, karena kemungkinan buku milik tokoh tersebut akan dibeli oleh penggemar2nya.

- Juga kalo ada momen/event khusus yang sedang hangat, seperti kasus IPDN, tentu aja penerbit akan berlomba2 sesegara mungkin menerbitkan buku yang berhubungan dengan momen tersebut, mumpung masih jadi pembicaraan orang, mak diharapkan bukunya akan ikut meraup keuntungan. Bayangin aja kalo buku "IPDN Undercover" diterbitkan 6 bulan kemudian. Apa bakal selaris sekarang? Malah mungkin udah dianggap basi dan gak laku.

Dan sekali lagi, Ini berlaku untuk buku fiksi dan non fiksi.

Jadi jangan putus asa dan minder kalo kita liat penulis2 lain cepat terbit bukunya sementara kita masih nol. Jalan untuk menembus penerbit emang susah dan panjang kalo kita belum jadi apa-apa. Tapi sekali kita bisa masuk dan sukses, untuk buku selanjutnya bakal gampang kok jalannya (Walau tetep aja itu tergantung dari keinginan dan usaha kita) :-)





T O N I wrote:
Temens, sekadar diskusi ajah.
Berapa minggu lalu, saya liat di toko buku (ada iklannya juga di koran), udah terbit buku tentang IPDN 2007 (kalo gak salah judulnya IPDN undercover deh?!)  Yang nulis, ya si dosen yg bikin heboh itu (Inu Kencana).
 
Taon lalu, gak lama sesudah A'a Gym nikah lagi, saya juga baca ada buku yg judulnya "Seandainya Aku Istri Pertama A'a Gym".
 
Pertanyaan gw, koq buku-buku itu bisa terbit cepet banget yah (setelah kejadiannya).  Apa kalo buku nonfiksi emang punya kelebihan itu (untuk terbit lebih cepet dibandingin fiksi)?
 
Thanks sebelonnya buat komentar temans.
 
Toni 

Kirim email ke