Aku juga suka rubrik parodi, seringkali bagus, kadang2 saja garing.  Aku
sudah mengikutinya sejak pertama kali rubrik parodi ada.  Anyway, aku memang
selalu mengikuti kompas minggu.

On 7/26/07, fiyan arjun <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

   *MULUTMU HARIMAUMU*
**
* *
Sudah dua minggu ini saya lagi kerajingan. Atau, bahasa gaul anak muda
sekarang adalah lagi *sakau.* Bukan! Ini bukan karena saya lagi sakau
mengkonsumsi obat-obatan haram itu. Itu tidak sama sekali! Malahan
diharamkan oleh agama. Melainkan saya lagi kerajingan membaca sebuah rubrik
diharian ibukota ternama, KOMPAS. *Parodi*,  itu rubrik yang sudah dua
minggu berturut-turut ini yang membuat saya kerajingan. Baik dari segi gaya
bahasanya maupun tata cara bertuturnya dalam menyampaikannya.

Jujur pertama kali saya membaca rubrik itu saya tidak sama sekali *
interest* apalagi melihatnya. Karena apa? Ya, paling-paling isi ceritanya
konyol (tanpa saya membaca terlebih dahulu secara seksama) seperti yang
sudah-sudah saya abaca. Baik itu ketika saya membaca buku kompilasi cerita
konyol, humor maupun dalam cerita singat. Sekali baca langsung *the end*dan 
basi. Namun lain hal dengan rubrik yang saya gandrungi itu. Rubrik itu
benar-benar *different*! Apalagi ketika secara tidak sengaja saya melihat
si penulis rubrik itu pada salah salah satu stasiun televisi swasta. Dalam
acara bincang-bincang pada malam hari.

*"Oh, ini toh orangnya? Kok beda ya orangnya sama tulisannya?"*  Begitu
kesan pertama saya ketika melihat si penulis rubrik itu di layar kaca.
Terkesan saya lihat di televisi si penulis rubrik yang *nongol *saban hari
Minggu itu terkesan *jutek *dan* *rada *jaim. *Namun ketika saya amati
dari awal sampai akhir acara itu  ternyata ketahuan juga belangnya.
Ternyata orangnya cukup asyik dan *rame*.  Itu menurut saya lho? Tahu *deh
* kalau dilihat secara *live*? Apakah sama seperti itu : jutek dan rada
jaim. Entahlah saya juga tidak tahu dan tidak mau men-*judge*- nya seperti
itu. Terpeting bagi saya sebagai pembaca rubrik setianya saat ini sangat
suka sekali dengan rubrik yang ditulisannya itu.

Mulutmu harimaumu. Kenapa saya beri judul artikel saya seperti itu. Karena
saya ingin memberi lampu kuning kepada Anda sebagai pembaca artikel saya
ini. Haruslah berhati-hati jika berbicara. Janganlah asal *goblek * begitu
orang Jakarta bilang. Jangan ASBUN (Asal Bunyi) saja!  Albert Einstein
pernah berujar, *"Jangan sekali kali melakukan sesuatu yang bertentangan
dengan hati nurani, sekali pun itu dituntut oleh Negara."* Begitu juga
bagi seorang penulis haruslah berhati-hati jika menulis atau menuliskan
sesuatu agar tidak membuat orang yang membacanya terkesan melukai. Ingat,
senjata ampuh seorang penulis terletak di penanya. Memang  secara tidak
langsung kita sebagai seorang penulis contohnya seperti saya ini tidak
mengetahui kalau tulisannya itu melukai hati seseorang. Seperti penulis
rubrik yang sangat saya sukai itu ia sering kali mendapatkan komentar dan
kritik tajam sama pembacanya itu : mulutnya kok tidak *disekolahin*.
Padahal ia sendiri seorang *public figure*. Begitu ketika suatu hari
ketika saya membaca dan mengetahui ia berbicara melalui rubriknya yang ia
tulis.

Memang kesan pertama kali saya amati rubrik yang saya baca tiap pekan itu
terkesan rada menyentil dan menggurui. Tapi si penulis itu sangat pandai dan
apik membungkus cerita itu dengan dibubuhi anekdot dan kelakar seakan-akan
tidak terlalu "mengdikriminasi" yang membacanya. Entahlah! Saya sendiri
pertama membaca rubrik itu juga tidak tahu dan memang tak mau tahu menahu
kalau tulisannya itu seperti kategori yang saya sebutkan diatas. Dan juga
saya sendiri tidak tahu apakah artikel yang saya tulis ini bisa dikategori
seperti itu : menyentil dan menggurui. Saya sendiri juga tak tahu secara
mendetail. Seperti apa tulisan yang menyetil dan menggurui itu? Apakah
artikel yang saya tulis ini yang termasuk kategori seperti itu? Mungkin
Andalah yang lebih mengetahui sebagai pembaca dari pada saya. Bukankah
begitu?

Samuel Mulia, nama si penulis rubrik itu. Ia seorang penulis mode dan gaya
hidup sekaligus (dulu) perancang busanna. Publik figur lagi. Bisa jadi
saking ia banyak bergaul dari berbagai kalangan ia bisa menumpahkan ide-ide
yang brilian itu. Akhirnya dari ide-idenya itu lahirlah tulisan yang cerdas
tapi mengernyitkan dahi. Namun bagi saya hal itu membuat saya termotivasi
dan terinspirasi ingin mengikuti jejaknya dalam hal menulis artikel yang
apik *tenan *itu. Tapi kalau saya sadari hal itu tidaklah kbenar. Itu sama
saja saya tidak memiliki cirri khas tersendiri dan tidak *pede *pada diri
sayasebagai penulis. Terbesit dalam benak saya ingin mengikuti gaya dan cara
ia menuliskan dalam rubrik itu.

Mulutmu harimau. Ini bukan sekedar kiasan biasa. Atau, hanya basa-basi
semata yang masuk telinga kiri lalu keluar  telinga kanan tapi tak
berarti. Itu salah! Karena dengan kata kiasan seperti itu sebagai manusia
kita harus bisa mengerem dan *mewanti-wanti* apabila kita berbicara.
Katanya, orang yang dikatakan berpendidikan atau tidaknya itu terlihat dari
cara ia bicara dan dari tulisannya. Saya katakan lagi saya sendiri juga
tidak tahu apa ukuran orang yang berpendidikan itu? Apakah hanya dari bicara
saja dan juga dengan cara ia menulis? Kalau begitu apakah saya ini termasuk
orang tidak berpendidikan saat menulis artikel saya ini. Karena secara tidak
langsung saya telah melukai hati yang membaca artikel saya ini. Hanya
Andalah yang tahu?

Maka untuk itu bagi Anda yang membaca tulisan saya selama ini apabila ada
tulisan yang bernada kesannya yang meyentil dan menggurui harap layangkan
saja surat, email atau kritikan. Kalau perlu maki-maki saja saya ini. Karena
apa? Karena saya tidak ingin dalam tulisan saya nanti bisa melukai hati
penikmat tulisan saya .Untuk itu maukah Anda memberitahukannya?

Mulutmu harimaumu.Ini bukanlah dagelan atau iklan yang sering menggangu
Anda saat Anda sedang menyaksikan acara favorit Anda? Ini soal lain! Ini
soal cara etika bagaimana cara kita menyampaikan sesuatu agar tidak melukai
hati orang lain. Baik itu cara menyampaikan tulisan maupun lisan yang baik.
Sebab kalau hal ini tidak diperhatikan secara serius berarti itu seterusnya
tanpa sadar telah melukai hati seseorang. Setuju? Dan satu lagi jika nanti
akhirnya artikel saya ini dibaca oleh empunya. Si penulis rubrik itu yang
sangat saya kagumi setiap  hari Minggu  tiba saya harap mohon dimaklumi.
Karena secara tidak sengaja saya telah melukai hati penulis rubrik itu?
Bukankah begitu Mas? *Sorry*, ya Mas kalau nanti Mas baca tulisan saya
ini. Tapi walau pun begitu saya sangat suka dengan tulisan Mas sampai
sekarang ini. Tapi bukan diri Mas lho? Kalau saya suka diri Mas nanti saya
dibilang jeruk makan jeruk lagi. *Tuh kan mulutnya Fiyan nggak
disekolahin….*
* *
*Cipulir, 25 Juli 2007*
*Ketika hidup tak  terasa terlalu banyak melakukan berbuat dos*

------------------------------
Get the free Yahoo! 
toolbar<http://us.rd.yahoo.com/evt=48226/*http://new.toolbar.yahoo.com/toolbar/features/norton/index.php>and
 rest assured with the added security of spyware protection.






--
salam

Ken Terate
www.kenterate.multiply.com

Kirim email ke