MULUTMU HARIMAUMU
Sudah dua minggu ini saya lagi kerajingan. Atau, bahasa gaul anak muda
sekarang adalah lagi sakau. Bukan! Ini bukan karena saya lagi sakau
mengkonsumsi obat-obatan haram itu. Itu tidak sama sekali! Malahan diharamkan
oleh agama. Melainkan saya lagi kerajingan membaca sebuah rubrik diharian
ibukota ternama, KOMPAS. Parodi, itu rubrik yang sudah dua minggu
berturut-turut ini yang membuat saya kerajingan. Baik dari segi gaya bahasanya
maupun tata cara bertuturnya dalam menyampaikannya.
Jujur pertama kali saya membaca rubrik itu saya tidak sama sekali interest
apalagi melihatnya. Karena apa? Ya, paling-paling isi ceritanya konyol (tanpa
saya membaca terlebih dahulu secara seksama) seperti yang sudah-sudah saya
abaca. Baik itu ketika saya membaca buku kompilasi cerita konyol, humor maupun
dalam cerita singat. Sekali baca langsung the end dan basi. Namun lain hal
dengan rubrik yang saya gandrungi itu. Rubrik itu benar-benar different!
Apalagi ketika secara tidak sengaja saya melihat si penulis rubrik itu pada
salah salah satu stasiun televisi swasta. Dalam acara bincang-bincang pada
malam hari.
Oh, ini toh orangnya? Kok beda ya orangnya sama tulisannya? Begitu kesan
pertama saya ketika melihat si penulis rubrik itu di layar kaca. Terkesan saya
lihat di televisi si penulis rubrik yang nongol saban hari Minggu itu terkesan
jutek dan rada jaim. Namun ketika saya amati dari awal sampai akhir acara itu
ternyata ketahuan juga belangnya. Ternyata orangnya cukup asyik dan rame. Itu
menurut saya lho? Tahu deh kalau dilihat secara live? Apakah sama seperti itu :
jutek dan rada jaim. Entahlah saya juga tidak tahu dan tidak mau men-judge- nya
seperti itu. Terpeting bagi saya sebagai pembaca rubrik setianya saat ini
sangat suka sekali dengan rubrik yang ditulisannya itu.
Mulutmu harimaumu. Kenapa saya beri judul artikel saya seperti itu. Karena
saya ingin memberi lampu kuning kepada Anda sebagai pembaca artikel saya ini.
Haruslah berhati-hati jika berbicara. Janganlah asal goblek begitu orang
Jakarta bilang. Jangan ASBUN (Asal Bunyi) saja! Albert Einstein pernah
berujar, "Jangan sekali kali melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati
nurani, sekali pun itu dituntut oleh Negara." Begitu juga bagi seorang penulis
haruslah berhati-hati jika menulis atau menuliskan sesuatu agar tidak membuat
orang yang membacanya terkesan melukai. Ingat, senjata ampuh seorang penulis
terletak di penanya. Memang secara tidak langsung kita sebagai seorang penulis
contohnya seperti saya ini tidak mengetahui kalau tulisannya itu melukai hati
seseorang. Seperti penulis rubrik yang sangat saya sukai itu ia sering kali
mendapatkan komentar dan kritik tajam sama pembacanya itu : mulutnya kok tidak
disekolahin. Padahal ia sendiri seorang public figure. Begitu
ketika suatu hari ketika saya membaca dan mengetahui ia berbicara melalui
rubriknya yang ia tulis.
Memang kesan pertama kali saya amati rubrik yang saya baca tiap pekan itu
terkesan rada menyentil dan menggurui. Tapi si penulis itu sangat pandai dan
apik membungkus cerita itu dengan dibubuhi anekdot dan kelakar seakan-akan
tidak terlalu mengdikriminasi yang membacanya. Entahlah! Saya sendiri pertama
membaca rubrik itu juga tidak tahu dan memang tak mau tahu menahu kalau
tulisannya itu seperti kategori yang saya sebutkan diatas. Dan juga saya
sendiri tidak tahu apakah artikel yang saya tulis ini bisa dikategori seperti
itu : menyentil dan menggurui. Saya sendiri juga tak tahu secara mendetail.
Seperti apa tulisan yang menyetil dan menggurui itu? Apakah artikel yang saya
tulis ini yang termasuk kategori seperti itu? Mungkin Andalah yang lebih
mengetahui sebagai pembaca dari pada saya. Bukankah begitu?
Samuel Mulia, nama si penulis rubrik itu. Ia seorang penulis mode dan gaya
hidup sekaligus (dulu) perancang busanna. Publik figur lagi. Bisa jadi saking
ia banyak bergaul dari berbagai kalangan ia bisa menumpahkan ide-ide yang
brilian itu. Akhirnya dari ide-idenya itu lahirlah tulisan yang cerdas tapi
mengernyitkan dahi. Namun bagi saya hal itu membuat saya termotivasi dan
terinspirasi ingin mengikuti jejaknya dalam hal menulis artikel yang apik tenan
itu. Tapi kalau saya sadari hal itu tidaklah kbenar. Itu sama saja saya tidak
memiliki cirri khas tersendiri dan tidak pede pada diri sayasebagai penulis.
Terbesit dalam benak saya ingin mengikuti gaya dan cara ia menuliskan dalam
rubrik itu.
Mulutmu harimau. Ini bukan sekedar kiasan biasa. Atau, hanya basa-basi semata
yang masuk telinga kiri lalu keluar telinga kanan tapi tak berarti. Itu salah!
Karena dengan kata kiasan seperti itu sebagai manusia kita harus bisa mengerem
dan mewanti-wanti apabila kita berbicara. Katanya, orang yang dikatakan
berpendidikan atau tidaknya itu terlihat dari cara ia bicara dan dari
tulisannya. Saya katakan lagi saya sendiri juga tidak tahu apa ukuran orang
yang berpendidikan itu? Apakah hanya dari bicara saja dan juga dengan cara ia
menulis? Kalau begitu apakah saya ini termasuk orang tidak berpendidikan saat
menulis artikel saya ini. Karena secara tidak langsung saya telah melukai hati
yang membaca artikel saya ini. Hanya Andalah yang tahu?
Maka untuk itu bagi Anda yang membaca tulisan saya selama ini apabila ada
tulisan yang bernada kesannya yang meyentil dan menggurui harap layangkan saja
surat, email atau kritikan. Kalau perlu maki-maki saja saya ini. Karena apa?
Karena saya tidak ingin dalam tulisan saya nanti bisa melukai hati penikmat
tulisan saya .Untuk itu maukah Anda memberitahukannya?
Mulutmu harimaumu.Ini bukanlah dagelan atau iklan yang sering menggangu Anda
saat Anda sedang menyaksikan acara favorit Anda? Ini soal lain! Ini soal cara
etika bagaimana cara kita menyampaikan sesuatu agar tidak melukai hati orang
lain. Baik itu cara menyampaikan tulisan maupun lisan yang baik. Sebab kalau
hal ini tidak diperhatikan secara serius berarti itu seterusnya tanpa sadar
telah melukai hati seseorang. Setuju? Dan satu lagi jika nanti akhirnya artikel
saya ini dibaca oleh empunya. Si penulis rubrik itu yang sangat saya kagumi
setiap hari Minggu tiba saya harap mohon dimaklumi. Karena secara tidak
sengaja saya telah melukai hati penulis rubrik itu? Bukankah begitu Mas? Sorry,
ya Mas kalau nanti Mas baca tulisan saya ini. Tapi walau pun begitu saya sangat
suka dengan tulisan Mas sampai sekarang ini. Tapi bukan diri Mas lho? Kalau
saya suka diri Mas nanti saya dibilang jeruk makan jeruk lagi. Tuh kan mulutnya
Fiyan nggak disekolahin
.
Cipulir, 25 Juli 2007
Ketika hidup tak terasa terlalu banyak melakukan berbuat dosa
---------------------------------
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on,
when.