Aku Peta
Oleh : Fiyan Arjun
Ini adalah suatu kebiasaan kawan saya. Pabila saya ajak kemana-mana (pergi),
entah jauh atau dekat pasti kawan saya itu akan terlebih dahulu melihat peta
penujuk jalan. Baik di buku maupun di internet. Kenapa kawan saya melihat juga
di internet katanya lebih update? Duh, segitu repotnya!
Gunanya untuk apa? Jawabnya klise! Sebagai untuk penjuk jalan kalau-kalau
nanti tidak tahu jalan. Alias, tidak menguasai (tidak tahu) jalan yang
dilaluinya. Memang sih peta yang kawan saya lihat itu tidak terlalu begitu yang
jauh-jauh. Hanya melihat peta (penujuk jalan) sekitar daerah Jabotabek saja.
Cukup gampang dan mudah dikuasaikan kalau hanya sekitar Jabotabek saja? Ya,
semoga saja kawan saya itu bisa menguasai peta daerah sekitar Jabotabek?
Se-mo-ga!
Melihat apa yang dilakukan kawan saya itu (kebiasaannya) saya jadi ingat dan
mengingatkan pada film kartun anak-anak. Film kartun yang sering ditonton
setiap pagi oleh keponakan saya yang masih duduk dibangku kelas 4 SD ketika ia
duduk manis di depan tevelevisi sebelum berangkat sekolah. Keponakan saya itu
pasti akan menontonnya tanpa terlewatkan. Itu bukan hanya sekali ia tonton
tetapi tiap hari sebelum ia on the way ke sekolah. Yup, Dora the Explorer,
begitu judul film kartun yang sering ditonton oleh keponakan saya itu. Tokoh
yang diperankan oleh gadis cilik yang memilki poni khas didepannya yang juga
memiliki hobi ber-adventure bersama kawan setianya, Bud. Si ekor kera yang lucu
lagi cerdik.
Namun sayang dalam petulangannya, Dora dan Bud, kawan setianya itu sering
kali mengalami kebuntuan. Tidak tahu jalan. Tempat yang akan mereka tuju.
Untungnya, ia dan kawannya itu selalu membawa ransel serba guna di
punggungnya. Kapan pun dan dimana pun ia akan selalu membawa ransel itu. Dimana
ransel itu banyak menyimpan benda yang apabila dibutuhkan pasti akan ada.
Halnya ketika ia kesasar dan tidak tahu jalan yang ia lalui pasti ia akan
curhat pada ransel itu. Ransel
ransel
aku adalah ransel.., ucap ransel
ajaib ketika mendengar Tuannya itu ingin membutuhkan sesuatu. Tak lain tak
bukan Tuannya itu adalah si gadis cilik berponi. Dora!
Aku ingin peta, ucapnya. Dan
tidak lama kemudian keluarlah sebuah benda
yang ia inginkan. Sebuah peta. Ya, sebuah peta. Aku peta
, aku peta
aku peta
,
pekik si peta ajaib ketika keluar dari persembunyiannya.
Memang sih kalau dilihat dari segi esensi efektifitasnya hal itu sangatlah
cepat dan sanga membantu ketika mengalami urgent tetapi melihat itu semua
seakan-akan membuat seseorang malas bekerja dan malas untuk berpikir kreatif.
Masa sih orang berpertualang tidak tahu jalan dan tidak memiliki inisiatif yang
brilian sama sekali. Sepertinya itu impossible dan hanya mengada-ada. Bukankah
Tuhan sudah menciptakan umatNya dengan sempurna? Ada mulut, ada telinga, ada
tangan, ada kaki dan pula ada otak yang selalu bekerja sesuai dengan
ketentuanNya. Kan ada mulut tanya saja sama orang yang ada disekitar itu pasti
toh akan diberitahu. Bukankah begitu? Ini menurut saya lho?
Memang kalau saya amati antara tokoh kartun (Dora the Explore) dengan kawan
saya itu tidaklah beda. Tapi hanya beda ruang, tempat dan waktu saja. Kenapa
kawan saya itu tidak tahu jalan atau mengusai jalan di Jabotabek? Karena ia
bukan penduduk asli Jakarta atau yang sudah menetap lama di kota Jakarta.
Maklumlah kawan saya itu orang baru dalam pecaturan kaum urban. Pun karena ia
ingin mengadu nasib. Merantau. Mencari kerja di kota Metropolitan ini. Jadi
saya sudah mahfum atau tidak kaget jika saya ajak kemana-mana kawan saya itu
pasti akan terlebih dulu melihat peta penujuk jalan.
Kawan saya itu berasal dari Binjai, Sumatera Selatan. Ia belum lama tinggal
di kota ini, Jakarta. Ya, sekitar baru 5 bulanan kurang ia menetap di sini. Itu
pun ia tinggal bersama pamannya. Dan juga ia seorang lulusan Sarjana Inggris
yang lagi mencari-cari kerjaan. Gawe. Halnya sama dengan saya yang lagi
luntang-lantung mencari kerjaan tetap (maisah) walau kegiatan saya sehari-hari
hanya menyibuki diri. Menulis! Ya, menulis apa sajalah yang terpenting bagi
saya bisa menyibuki diri dan tidak stress memikirkan hal yang belum pasti.
Pernah saya dan kawan saya itu mengalami kejadian yang membuat saya
geleng-geleng kepala. Saya dan kawan saya itu dikejar-kejar Pak polisi. Bukan,
bukan karena hal yang negative thiking melainkan karena salah memasuki jalaur
jalan. Salah jalan. Akhirnya kami berdua pun teguran dari Pak Polisi.
Untungnya, Pak Polisi ramah pada kami berdua. Terima kasih Pak Polisi.
Kebetulan saat itu kawan saya yang mengemudikan motor jadi ia yang paling
pertama kena batunya.
Maaf Pak saya tidak tahu jalan! ucap kawan pe-de kepada Pak Polisi yang
memberhentikan kami berdua tanpa permisi. Langsung stop! Memang sih kami berdua
yang salah, tapi yang banyak salahnya tentu saja kawan saya itu tanpa melihat
rambu-rambu lalu lintas atau petunujuk jalan yang berwarna hijau disetiap ruas
jalan terlebih dahulu.
Itulah akibat kita tidak menyadari dan tidak mengetahui bahwa peta penujuk
jalan sangatlah berguna untuk kita ketika kita akan berpergian. Baik itu
berpergian jauh (safar) maupun dekat. Itu baru sebuat peta penujuk jalan yang
salah coba kalau kita salah menjalani peta kehidupan? Wah-wah bisa bisa berabe
urusannya. Benar tidak?
Nah, untuk itu saya punya dua pilihan untuk Anda pilih apakah Anda mau
seperti kawan saya yang setiap kali (pasti) salah jalan itu atau seperti film
kartun Dora the Explorer yang diperankan oleh gadis kecil yang kemana-mana
selalu membawa peta ajaibnya itu? Atau, mungkin Anda punya pilihan lain? Ya,
itu sih sah-sah saja Anda memilihnya? Karena itu kita haruslah belajar untuk
mengetahui bahwa peta adalah sebuah benda yang sangat berguna juga untuk
kehidupan kita yang selama ini sering kita abaikan dalm kehidupan kita.
Bukankan begitu? Sebab
Aku Peta!
Kebayoran lama, 27 Agustus 2007
Tulisan ini terpirasi dari kawan saya yang sering kali salah jalan. Tentunya
saya jugaJJ
---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news,
photos & more.