Ass. Wr.wb.
   
  Sidang Pembaca yang berbahagia dan yang saya hormati. Ini adalah sebuah 
contoh cerpen saya. Cerpen ini adalah tugas terakhir saya dalam komunitas untuk 
menaiki jenjang selanjutnya. Untuk itu saya memohon dan meminta kesediaanya 
untuk memberikan masukan dan kritikan untuk saya ini. Maklum saya ini penulis 
amatiran. Baru mau belajar menulis? Nah, itu saya dengan mohon sangat Sidang 
Pembaca yang saya hormati bilanya dengan senang mau berbagi ilmunya untuk saya, 
tentang bagaimana menulis cerpen yang baik itu? Apakah cerpen saya ini layak 
dikatakan cerpen atau tidak? Dan kalau tidak dimana letak kekeliruannya itu? 
Saya mohon tolong dikritisi dan diberi masukan cerpen saya ini. Terserah mau 
dicaci maki, mau ditindas atau mau dipreteli silakan saja. Bagi saya Sidang 
Pembaca mau memberikan masukannnya! Atas kesediannya dan waktu saya ucapkan 
banyak-banyak terima kasih. 
   
  Wassalam,
  Hormat Saya,
  Fiyan Arjun
  http://sebuahrisalah.multyiply.com
   
   
  SEBUAH PERMINTAAN
  Oleh : Fiyan Arjun
   
           Saat aku pulang dari pasar pagi aku tak sengaja melihat sosok dua 
orang yang keluar dari mobil pribadi yang amat aku kenal. Mobil itu berhenti 
tepat di halaman depan rumahku. Sosok orang satunya itu sangat aku kenal bahkan 
familiar denganku. Bunda. Ya, bundanya Mas Pri tetapi siapa sosok yang satunya 
lagi itu? Aku tidak tahu siapa dia sesugguhnya bahkan baru kali ini aku 
melihatnya. Perempuan muda dengan busana muslim yang sungguh amat menawan 
dengan sesekali memapah bunda Mas Pri  berjalan.
    
         Akhirnya bunda Mas Pri datang juga ke Jakarta dengan didampingi oleh 
seorang wanita yang sebaya dengan diriku. Berparas cantik dan anggun, begitu 
aku pertama kali melihatnya. Apalagi saat wanita itu menggenakan busana muslim 
yang membalut dirinya itu. Sungguh, sungguh amat serasi dengan dirinya sebagai 
seorang musilmah yang moderat. Tapi siapakah dia sesungguhnya? Itu yang belum 
aku ketahui!
   
           Ayu Indahswari, begitu seperti nama yang Mas Pri, suamiku itu 
katakan. Ya, Ayu namanya. Seayu parasnya dan kepribadiannya. Mas Pri mengatakan 
kepadaku, aku harus benar-benar siap menerima kehadirannya bagaimana pun yang 
terjadi. Bila nanti bundanya datang bersama wanita itu. 
           
           Ternyata benar. Perkataan Mas Pri  benar apa adanya. Bundanya itu 
akhirnya datang juga dengan didampingi oleh seorang wanita. Aku pun tak bisa 
mengelak apalagi menepis kehadirannya. Bukankah ia datang bukan seorang diri 
melainkan datang bersama bunda Mas Jun. Mertua perempuanku. Entahlah. Hadapi 
dengan sabar dan tenang itu yang aku harus lakukan. Itu pun karena permintaan 
dari Mas Pri tentunya. Aku harus bersikap seperti itu. Seperti robot yang 
dikendalikan oleh remote cantrol aku saat itu agar aku tak memberi kesan yang 
tak baik dihadapan mereka berdua. Baik dihadapan bunda Mas Pri maupun dengan 
wanita asing itu.
           Jujur sebagai seorang wanita sekaligus sebagai seorang istri aku tak 
ingin menghadapi kenyataan yang pelik ini. Tapi apa hendak dikata toh itu harus 
terjadi walau ada seseorang yang merasa tersakiti. Tak lain tak bukan orang 
yang merasa tersakiti itu adalah aku. Ya, aku! Aku ini wanita malang. Wanita 
tak sempurna. Baik dihadapan bunda Mas Pri maupun dimata bundanya. Baginya aku 
adalah wanita yang benar-benar malang! Andai aku harus memilih diantara dua 
pilihan. Aku tak ingin kedua-duanya itu menjadi pilihanku atau melimpah diriku.
           
           Hidup adalah sebuah pilih. 
           Itu sering aku dengar dari omongan-omongan dari beberapa pembicaraan 
yang sering dilontarkan oleh para pengusahawan sukses ketika ia memberikan 
sebuah kebijakan dalam untuk memilih sebuah kehidupan di televisi. Memang aku 
akui itu ada benarnya juga. Dan menjadi istri yang taat dan berbakti kepada 
suami itu adalah pilihanku. Halnya seperti Khadijah yang selalu berbakti dan 
membantu kemajuan Rasulullah dalam berbagai hal. Walau ia sendiri seorang 
pengusaha sukses dan juga ibu dari anak-anaknya. Namun ia menjalani itu semua 
dengan sabar dan penuh kewajiban tanpa ada rasa mengeluh apalagi berkeluh 
kesah. Itulah pilihan Khadijah, seorang istri Rasulullah.
           
           Halnya dengan diriku aku ingin layaknya seperti Khadijah. Menjadi 
istri yang taat dan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Tetapi sebuah 
pemintaan tetap sebuah permintaan yang harus dilaksanakan. Pun bila aku menjadi 
Mas Pri mungkin aku harus memilih permintaan bundanya segera dituruti. Untuk 
Mas Pri hidup bersama wanita yang tak memberi apa-apa melainkan hanya 
kesusahan.Tentunya sebagai seorang anak yang berbakti kepada orangtua jalan 
terbaik adalah menuruti keinginannya itu. Tapi tidak halnya dengan Mas Pri ia 
malah meminta keputusan bundanya itu aku yang menentukan. Apa yang harus 
dilakukan dan jalan terbaik mana yang harus ia ambil? Memilih aku sebagai 
istrinya yang tak sempurna atau bundanya yang sejak kecil memberi kasih sayang 
kepadanya seorang? Apalagi Mas Pri anak semata wayang. Tentunya ia tak ingin 
mengecewakan permintaan bundanya itu.
   
           Memang semenjak pernikahanku dengan Mas Pri bunda Mas Pri tidak 
pernah suka kepadaku ketika aku menikahi anak semata wayangnya itu, Mas Pri. 
Namun karena keteguhan Mas Pri untuk meluluhkan hati bundanya untuk merestui 
pernikahanku dengan Mas Pri akhirnya membuahkan hasil. Bunda Mas Pri mau 
merestui pernikahanku dan mau menerimaku sebagai menantunya. Untuk hidup 
bersama-sama dengan Mas Pri dengan sebuah syarat yang menohok hatiku. Bila 
nanti dalam pernihakanku menginjak tahun ke lima aku harus merelakan Mas Pri 
berbagi cinta kepada wanita lain. Tentunya dengan cara halal. Menikah. 
Menyedihkan! Tapi itulah hidup aku harus memilih.
           Awalnya aku dulu menolak untuk dipersunting oleh Mas Pri. Tapi 
lagi-lagi Mas Pri selalu merajukku agar mau diperistri olehnya. Pada saat itu 
aku bukanlah dari kalangan wanita baik-baik apalagi dari kalangan wanita 
terhormat. Aku? Apalah aku ini? Aku ini bersalah dari wanita kelas orang-orang 
kotor. Aku ini hanyalah wanita mantan pelacur yang kerjanya hanya memuaskan 
nafsu para hidung belang. Entah kenapa saat itu aku begitu tergoda dengan bujuk 
rayuan manis  Mas Pri untuk menjadi istrinya yang  sah. Aku sendiri juga tak 
tahu kenapa hal itu begitu cepat dan aku langsung meniyakan : aku siap menjadi 
istrinya. Seingatku Mas Pri saat itu memohon-mohon kepadaku seperti para 
pengemis cinta yang sering aku temui dimana-mana. Halnya seperti di tempat aku 
bekerja dahulu sebagai penjaja cinta  Menerima cinta dari kaum laki-laki.
    
           “Ayolah, Wit jadilah istriku. Aku janji akan membahagiakan dirimu?” 
Rayu Mas Pri saat itu. Memohon permintaannya kepadaku agar lekas diterima.
   
           “Mas aku ini wanita kotor. Mana mungkin ada lelaki normal yang sudi 
menikahiku. Kalau pun itu ada itu hanya mereka ingin memiliki tubuhku bukan 
aku. Aku mohon Mas jangan mempesulit keadaan. Apa kata orang-orang nanti jika 
Mas memperistri aku?’          
           Bukan Mas Jun namanya jika ia menyerah. Lelaki itu paling bisa 
membuat aku jadi goyah terhadap prinsipku. Aku tak menikah oleh lelaki mana pun.
   
           “Tapikan….”
   
           “Aku tidak pakai tapi-tapian …Kalau kamu menerima cintaku aku ingin 
kita besok menikah. Andai kamu tidak menerima cintaku mau tidak mau kamu jangan 
mengenal aku lagi!” ancam Mas Pri saat itu.
   
           Sungguh ancaman Mas Pri saat itu bagai dilema. Disatu sisi memang 
aku sangat menyukai Mas Pri. Bukan saja dari fisiknya yang tampan tapi hatinya 
juga yang lembut. Perhatian kepada diriku. Karena itulah aku dibuat bimbang 
oleh dua pilihan yang membuat masing-masing aku terpaksa memilih salah satunya. 
Yakni adalah aku siap menjadi istri Mas Pri.
   
           Perjalananku bersama Mas Pri sudah cukup lama. Apalagi saat aku 
pertama kali mengenal Mas Pri. Mas Pri tidak pernah tahu pekerjaanku yang 
sebenarnya sebelum aku menjadi istrinya. Pertama kali aku mengenal Mas Pri saat 
aku mendapatkan pertolongan darinya saat aku dikeroyok oleh para penggundal 
yang ingin memperkosaku. Dan saat itu aku mengenal sosok Mas Pri hingga 
akhirnya Mas Pri mengetahui pekerjaanku dan memintaku untuk segera meninggalkan 
pekerjaan durjana itu. Sungguh aku bahagia sekali saat hari-hari indah selalu 
bersama dengan Mas Pri. Tapi sayang saat pernikahanku menginjak tahun ke lima 
aku harus menghadapi hal itu. Aku harus memenuhi permintaan bunda Mas Pri untuk 
berbagi posisi sebagai istri sahnya kepada wanita lain. Tak lain tak bukan 
wanita itu adalah wanita yang bersama bunda Mas Pri. 
    
           “Dik, aku ingin bilang sama kamu. Jika nanti bundaku datang dengan 
seorang wanita apakah kamu sudah siap menghadapinya?” tanya Mas Pri suatu hari 
memberitahukan aku bila nanti kedatangan bunda bersama seorang wanita 
bersamanya.
           “Lalu kenapa dengan aku, Mas? Bukankah kita selama ini baik-baik 
saja,” ucapku tak habis mengerti dengan maksud dan tujuan Mas Pri menyampaikan 
hal itu.
   
           “Itulah, Dik, aku tak tega untuk memberitahukan apa maksud dan 
tujuan aku mengatakan seperti itu…” tiba-tiba Mas Pri mengenggam tanganku 
sambil bersumpah memohon ma’af kepadaku.
   
           “ Nantilah Mas kita lihat saja bila itu benar-benar menjadi 
kenyataan.” Jawabku lirih saat aku melihat Mas Pri memohon meminta maaf 
kepadaku saat itu.
  ***
           “Heh, bunda kok datang  tidak memberitahukan kami dulu,” ujarku saat 
aku baru saja pulang dari pasar pagi. “Mas Pri baru berangkat kerja, Bu.” 
Kataku lagi.
    
           Kebetulan hari itu aku tak tahu sama sekali atas kedatangan bunda 
Mas Pri. Andai aku tahu aku akan menyambut semeriah mungkin. Aku akan memasak 
masakan kesukaan bunda, membersihkan rumah dahulu serta menjemputnya. Tapi ini 
tidak, aku tidak menyambut seperti apa yang aku bayangkan, tidak sama sekali. 
   
           “Sudahlah kamu tidak usah repot-repot. Kami berdua kemari ingin 
memberitahukan kamu dan anakku, Priyantno,” sambil meyisik sirih di mulutnya 
bunda Mas Pri memberitahukan maksud dan tujuannya ia datang.
   
           Mungkin benar apa yang dikatakan Mas Pri belum lama ini. Entah 
apakah aku harus bahagia atau malah sebaliknya. Tak bahagia atas kedatangan 
bunda bersama seorang wanita atau tidak? Entahlah. Walau pun aku dan Mas Pri 
tidak memiliki masalah. Pun ada hanyalah soal anak dan hal  itu Mas Pri tak 
terlalu permasalahkannya. Seorang anak. Ya, seorang anak yang sudah lama aku 
impikan keluar dari rahimku tapi tak membuahkan hasil sampai pernikahanku 
beranjak tahun ke lima. Dan sesuai permintaan bunda Mas Pri jika aku tak 
memiliki anak dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Ya, dalam waktu lima 
tahun  sebagai syarat aku harus menerima Mas Pri untuk menikah lagi kepada 
seorang wanita yang sudah dicarikan oleh bundanya itu.
   
           “Kamu sudah berisi belum, Wit?” tiba-tiba suara bunda Mas Pri 
memecahkan lamunanku saat aku sedang menyajikan teh untuknya.
   
           “Belum, Bu! Mungkin Tuhan belum mempercayai kami untuk memiliki 
anak,” jawabku datar. Tak tak harus berkata apa lagi aku menjawab pertanyaan 
dari bunda Mas Pri.
  ***
           Tiga hari sudah bunda Mas Pri dan wanita yang bersamanya bermalam di 
rumah kami. Tak satu pun yang istimewa aku memperlakukannya. Mungkin lebih baik 
begitu. Toh, daripada nanti kepedihan yang aku harus terima. Lambat laun pasti 
itu akan terjadi juga. Apakah akau harus berbuat lebih atau tidak sama sekali. 
Namun hati kecil kewanitaanku sangatalah pedih untuk menerima itu semua.
   
           “Dik, ibuku sudah kamu beri teh pahit? Ingat lho ibuku paling suka 
teh pahit dipagi hari,” tiba-tiba Mas Pri memperingatkan aku agar aku tak 
ketinggalan memberi teh pahit untuk bundanya usai Mas Pri mandi untuk berangkat 
kerja.
   
           “Sudah kok Mas? Malah Ayu yang mennyajikannya.”
   
           “Lho, kok bukan kamu, Dik,” kata Mas Jun lagi. Terkejut saat aku 
memberitahukan bahwa bukan aku yang memberikanya. Melainkan wanita yang bersama 
bundanya yang memberi teh pahit untuk bundanya.
   
           “Tadi aku Mas yang ingin meyajikan tetapi ibu melarangnya. Katanya 
lebih baik Ayu saja.” Tanpa sengaja mataku berkaca-kaca hingga membentuk anak 
sungai kecil di pipiku.
   
           “Kamu menangis, Dik?”
   
           “Ti.-ti…dak-tidak kok, Mas!” kataku langsung menyeka airmataku.
   
           “Pri dan Sawitri kemari kamu berdua. Bunda ingin bicara sama kamu 
dan Ayu sekalian.” Suara bunda Mas Pri menghentikan rasa sedihku. Akhirnya 
satu-persatu : aku, mas Pri dan wanita yang bersama bunda itu sudah berada di 
ruang tamu.
   
           Dengan gontai aku melangkah kedepan bersama Mas Pri. Saat itu kakiku 
sangat berat untuk melangkah. Kulihat bunda Mas pri sedang membaca koran pagi 
yang sejak tadi berada di ruang tamu.
   
           “Silakan kalian duduk! Bunda ingin memberitahukan kalian semua. 
Khusus buat kamu Sawitri bunda harap kamu tegar dan tak perlu terkejut. Mungkin 
anakku sudah memberitahukan kamu sebelumnnya. Bukankah  pernikahan kalian  
sudah berjalan lima tahun? Nah sesuai syarat yang bunda ajukan kepada kamu Wit 
tentunya kamu sudah tahu bahwa kamu harus merelakan anakku beragi cinta kepada 
wanita lain. Menikah lagi sesuai syarat yang bunda ajukan sebelum kamu menikah 
kepad anakku.” Panjang lebar bunda Mas pri menceritakan semua itu. Aku yang 
mendengar perkataan dari bunda Mas Jun sudah tak sanggup untuk meneruskan. Aku 
tak sanggup untuk menentangnya.
   
           “Anakku apa kamu bersedia menikahi Ayu dan mau berbagi cintamu 
kepadanya. Ingat Priyantno kamu sudah menikah cukup lama. bunda harap kamu 
harus mengambil tindakan yang benar dan bisa membahagiakan bunda. Dan perlu 
kamu ingat lagi bunda hanya seorang diri hanya kamu anak laki-laki bunda yang 
mampu meneruskan keturunan keluarga besar kita.”
   
           Belum sempat aku mendengar penjelasan dari Mas Pri dari permintaan 
bundanya tiba-tiba seluruh badanku dingin dan mataku gelap. Pekat. Seperti 
kiamat yang sedang menghantuiku. Aku pingsan. Dan aku tak tahu lagi apa yang 
disampaikan oleh Mas Pri. Tanpa sadar aku sudah terbaring di ruang yang amat 
kubenci. Ya, aku sedang terbaring lemah tanpa daya di rumah sakit. Akibat 
dingin yang memuncak dan pusing berat yang menyergapku secara tiba-tiba.
   
           “Dik bangun…bangun…bangun…Wit ayolah bangun aku ada kabar baik untuk 
kamu. Bunda telah membantalkan permintaannya. Kamu tahu tidak Wit itu lantaran 
kamu sekarang sedang hamil….”   Aku pun terbangun ketika Mas Pri terus 
mengoyang-goyangkan badanku dan membisikan sesuatu di telingaku. Lalu saat aku 
membuka kelopak mataku aku melihat senyum bahagia Mas Pri.  Senyum yang  sudah 
lama aku tak melihatnya lagi kini senyum itu datang lagi. Senyum yang mirip 
sekali ketika cinta Mas Pri aku terima.
   
           “Kamu sudah sadar, Dik?” ycap Mas Pri lagi sambil mengecup keningku. 
Bukan itu saja Mas Pri memberitahukan bahwa bundanya telah membatalkan 
permintaannya itu. “Sekarang bunda dan Ayu sudah pergi ke Surabaya untuk 
mengabarkan berita baik ini.” Kata-kata itu terus diulang oleh Mas Pri saat aku 
sudah sadarkan diri. Aku sangat senang ketika melihat Mas Pri begitu bahagia. 
Tapi aku  aku sangat disesalkan Pri tak tahu bahwa aku hamil bukan dari benih 
cintanya melainkanbermain dengan lelaki lain. Karena aku tahu Mas Pri tak akan 
memiliki keturunan karena akibat kecelakaan yang menimpahnya saat ia mengejar 
aku ketika ia ngin permintan cintanya terbalasakan. Dan sebuah mobil dari arah 
belakang menabraknya. Entahlah aku tahu harus berbuat apa untuk meyakinkan 
kepada Mas Pri bahwa benih yang aku kandung bukanlah benih dirinya melainkan 
benih dari lelaki lain.
           Oh, Tuhan aku tak sanggup untuk menerima cobaan ini semua. Semua 
yang aku cita-citakan telah hilang begitu saja tanpa bekas. Ya, karena aku 
sudah mengkhinati kepercayaan semua orang : kepercyaan  Mas Pri, bundanya dan 
juga kepada Tuhanku yang selama ini aku bermunajat untuk dikabulkan agar aku 
menjadi istri yang taat dan patuh kepada suaminya. Tentunya aku juga harus 
menghilangkan pekerjaan lamaku menjadi wanita pejaja cinta. Tapi itu sangatlah 
sulit aku hilangkan. Ya aku tahu serigala tetaplah serigala ia takkan berubah 
menjadi kucing rumah dan patuh terhadap Tuannya dan itu semua karena berawal 
sebuah permintaan.*** 

       
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
 Play Sims Stories at Yahoo! Games. 

Kirim email ke