SAHUR BERSAMA PARA PENCARI TUHAN
  Fiyan Arjun
   
  “Tukar dong tukar jangan yang itu,” pinta saya saat adik laki-laki saya itu 
sedang menyaksikan acara peneman sahur. Acara kuis yang dicampur dengan 
dagelan-dagelan dari pembawa acaranya.
   
  Alhasilnya, adik saya tak menggubris permintaan saya. Ia malah ketawa-ketiwi 
tak karuan seperti orang tidak waras ketika ia melihat seorang pembawa acaranya 
sekaligus komedian yang setiap perannya memerankan tokoh wadam. Alias, banci. 
Saya pun yang melihatnya hanya mengeluas dada sambil bergumam,” jangan sampai 
deh saya seperti adik saya itu ketawa-ketiwi seperti orang tidak waras.” 
Prihatin. Kalau saat sahur hanya dimanfaatkan yang tidak memberi apa-apa di 
bulan Ramadhan ini. Apalagi tidak memberi pembelajaran diri.   
   
  “Tunggu kalau sudah iklan,” jawab adik saya. Adem ayem!
   
  Saya pun mengiyakannya. Tapi saat iklan berlalu adik saya tetap pada 
pendiriannya. Masih menyaksikan acara teman sahurnya itu. Bahkan sampai remote 
control-nya pun ia kuasai pula dari hadapan saya. “Awas lihat saja kalau sedang 
lengah,” batin saya sambil melirik remot kontrol yang ada di tanganya itu.
   
  “Makan sahur dulu tahu. Nanti terburu kelewat imsak,” ujar saya 
memberitahukannya sekaligus mencari cara strategis untuk mendapatkan remot 
televisi itu. Karena sahur di bulan Ramadhan sangat dianjurkan. Karena selain 
untuk menambah tenaga dan juga sumber kekutan dikala puasa nanti. Selain itu 
juga sahur banyak mengadung barokah. “Makan sahurlah kalian karena dalam sahur 
ada barakah" [Hadits Riwayat Bukhari Muslim]
   
  Ia pun menurutinya. Tanpa rasa curiga ia menyatap hidangan sahur yang sudah 
disiapkan oleh ibu saya itu. Dan ia juga tak curiga kalau ada mata-mata yang 
mengincar remot televisi yang dikuasainya itu. Tak lain mata-mata yang 
mengincar benda itu adalah mata saya. Si kacamata empat!
   
  Hup!   
   
  Tangan saya lantas mengambil remot televisi itu di bawah karpet disaat ia 
menyimpan benda itu.” Alhamdulillah, akhirnya saya dapat juga.” Akhirnya benda 
itu sudah ada di tangan saya. Dan saya pun bisa dapat menyaksikan teman sahur 
saya itu. Sinema eletronik (sinetron) yang syarat penuh pesan-pesan moral bagi 
para penontonnya. Dengan mempertimbangkan etika, kehidupan keseharian yang 
bersahaja dan tindak tanduk masyarakat yang sering ditemui dalam keseharian.
   
  Para pencari Tuhan   
   
  Itulah teman sahur saya disaat tak ada teman sahur lagi yang dapat saya 
saksikan selain itu. Dari awal penayangannya saya pun sudah standby di depan 
televisi. Walaupun mata saya masih menyalah seperti lampu 5 watt.
   
  Tapi itulah saya. Betapa saya sangat menyukai sinema itu. Selain sebagai 
teman sahur saya juga sebagai penambah siraman rohani saya yang kering. Dengan 
menyaksikan sinema itu saya bisa mengerti dan memaknai setiap tindak tanduk 
kejadian di kehidupan ini. Halnya sinema religi yang saya tonton sebagai teman 
sahur saya. 
   
  Para pencari Tuhan. 
   
  Mengisahkan sebuah perjalanan lika-liku manusia didalam kehidupan nyata. 
mencerminkan kehidupan sosial masyarakat kita. Semua hal-hal itu dimunculkan di 
sinema ini. Baik dari masing-masing kondisi sosial, perbedaan si kaya dan 
miskin, bagaimana seharusnya wanita muslim bersikap dalam keluarga dan 
percintaan, bagaimana menyikapi kejadian-kejadian tak terduga dalam kehidupan. 
   
  Ya, itulah gambaran yang tersirat dari layar visual yang saya saksikan 
sebagai teman sahur. Walau saya sadari saya juga pernah mengalami hal serupa. 
Bagaimana menyikapi kejadian-kejadian tak terduga dalam kehidupan. Ya, walau 
sering banyak halangan dan rintangan disaat saya ingin  menuju pintu-Nya. 
Itulah kejadian-kejadian yang tak disadari telah menjadi teman setia hidup kita 
sebagai manusia yang penuh khilaf. 
   
  Begitulah kebiasaan kami berdua jika saat sahur tiba. Apalagi jika takmir 
mushollah, dekat rumah saya ber-koar-koar. “Sahur…, sahur…, bangun sudah 
saatnya sahur.” Lantas saya pun bangkit dari tempat tidur dan langsung menuju 
ruang tamu. Lekas-lekas mengambil remot televisi terlebih dahulu daripada 
kedahuluan adik saya itu. Sebab hanya televisilah hiburan merakyat—diterima 
siapa saja. Tak peduli si kaya dan si kiskin. Apalagi disaat sahur menjelang 
ada teman sahurnya. Tambah klop! Halnya seperti acara favorit dadakan saya 
disaat sahur tiba sebagai teman sahur. Yakni, sahur bersama para pencari Tuhan! 
Kami berdua saling berebut remot kontrol seperti anak kecil saja. 
Kekanak-kanakan sekali. Menyaksikan acara favorit masing-masing disaat kami 
asyik menyatap hidangan sahur…Yummy!
   
  Yang terakhir, saya ingin mengutip salah satu dialog di sinema eletronik itu 
adalah. “Tuhan tidak akan pernah kehabisan pahala sebagaimana tidak akan habis 
hukuman yang akan diberikan untuk para pendosa”. Semoga Ramadhan ini memberikan 
rahmat bagi kita, dan inti dari tulisan ini adalah saya mengucapkan “Mari 
menunaikan ibadah puasa, jaga hati, jaga diri, dan saling memaafkan dalam 
keindahan Idul Fitri”
   
  Ulujami, 7 Oktober 2007/ 26 Ramdhan 1428 H
  Ketika tak ada lagi teman sahur untuk diajak curhat!
   
  Ila Liqo
   
  Peace, Love N Respect
  Wassalam
  Fiyan Arjun
  http://sebuahrisalah.multiply.com
   
   
    
---------------------------------
  Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
Play Sims Stories at Yahoo! Games. 

       
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.

Kirim email ke