JEJAK-JEJAK LEBARAN: SIAPA SURUH DATANG KE JAKARTA                              
                        Fiyan Arjun
                                             

Lebaran sudah kita lewatkan dengan suka cita. Baik itu kaum fuqara, kaum 
borjuis sampai kaum RSSSS. Alias, Rakyat Sangat-Sangat Susah Sekali. Mereka 
ikut merayakan hari kemenangan itu. Tak peduli siapa orangnya. Apalagi 
memandang status sosial. Bagi-Nya dihadapanNya sama. Seperti halnya orang-orang 
kaum urban yang ingin “berlebaran” di kota ini. Kota Metropolitan, Jakarta. 
   
  Mereka ingin mengadu nasib seperti halnya kerabatnya atau pun handaitaulannya 
yang sudah sukses di tanah rantauannya sekaligus “berlebaran” dengan para 
penghuni kota Metropolitan ini terlebih dahulu. Entah anggapan seperti itu 
datangnya dari mana bahwa: Jakarta kota impian bagi kaum urban. Mungkin dalam 
benak mereka sudah terkontaminasi dari bisik-bisik tetangga mereka bahwa kota 
Jakarta. Kota gudang duit..Entahlah. 

Hal in pun membuat saya miris ketika mereka mengibaratkan hidupnya lebih baik 
hidup berhujankan emas di kota yang asing baginya daripada hidup berhujankan 
batu di kampungya sendiri. Ironis sekali. Apalagi jika hal itu terus menjadi 
budaya bahkan sudah menjadi tradisi jika Lebaran tiba dan usai tanpa bekas. 
Banyak kaum urban yang berbondong-bondong datang ke Jakarta dengan “susah 
payah”. Melihat keadaan ini kadang saya juga tersenyum sendiri jika sanak 
saudara mereka pulang kampung ke halaman kampung tercintanya seorang diri lalu 
ketika ia balik dari kampungnya ia membawa sanak saudara atau pun kerabatnya 
untuk ikut serta. Pulang kamupngnya sih sendiri pas nanti pulangnya ke Jakarta 
berempat. Entah yang tiga itu siapa saya sendiri juga bingung kok bisa-bisanya 
bawa sanak saudaranya ke Jakarta. Padahal Jakarta sudah sumpek dan padat oleh 
para perantau semacam itu. 

Hal ini sempat saya kelakari kepada kawan saya yang akan mudik seminggu lalu. 
Sebelum ia mudik ia berpamitan kepada saya lebih dahulu. Kawan saya itu mudik 
ke Mojokerto untuk menemui ayah dan ibu tercintanya yang sudah lama tak ia 
kunjungi. Apalagi ia anak sulung. Laki-laki lagi. Dengan tekad yang kuat ia pun 
harus menemui kedua orangtuanya itu. Bagaimanapun caranya. Karena sudah 
beberapa tahun belakangan ini ia disibuki oleh pekerjaan sebagai pengajar di 
sebuah bimbingan belajar sebagai pengajar bahasa Inggris. 

“Aku pamit dulu ya, Yan,” pamitnya suatu hari kepada saya sebelum ia 
meninggalkan Jakarta. “Oya, titip salam sama orang rumah,” lanjutnya kemudian 
langsung meninggalkan saya seorang diri. Kebetulan saat itu ia terburu-buru 
ketika berpamitan dengan saya. Hingga saya memaklumi adanya. 

“Ya, sudah hati-hati ya di jalan. Jangan lupa oleh-olehnya,” kelakar saya 
sambil menempuk bahunya agar hati-hati diperjalanan. 

Berapa hari kemudian hari ini saya mendapatkan SMS darinya bahwa ia sudah 
pulang dari kampung halamannya. Sampai kembali menginjak ibukota dengan 
selamat. Tak ada kekurangan satu pun. Entah saya juga tidak tahu kalau ternyata 
ia kembali begitu awal dari bayanganku. 

Ass ak dah smp di Jkt nih Yan. 

Begitu pesan singkat yang ia sampaikan kepada saya ketika ia sudah sampai 
mengijak kakinya kembali Jakarta. 

Lalu apa balasanku untuknya melalu via SMS itu. 

Sykur deh km sdh kembli. Eya, kmrinya sendr ato dua orang ato mlh tiga orang 

Beberapa menit ia kemudian membalas SMS saya. 

Ak plg sendri kok. Gak ajak sapa2. Oya, ada oleh2 nih 

Balasanya. 

Pssttt… 
Saya menghirup napas dengan lega dan damai ketika saya membaca balasan dari 
kawan saya itu. Kekhwatiran saya hilang sekejap ketika kawan saya itu 
memberitahukan bahwa ia kembali dari kampung halamannya tercintanya seorang 
diri. Tidak membawa sanak saudaranya maupun kawan semasa permainanya di 
kampung. Kenapa saya melakukan itu. Begitu khawatir kalau-kalau kawan saya itu 
membawa orang lain ke Jakarta. Sebab saya merasa khawatir kalau sanak saudara 
atau kawan sepermainannya itu ikut serta dalam pulangnya ke Jakarta nantinya 
dalam benaknya Jakarta memng demikian adanya. Kota pohon duit. Surganya kaum 
urban. 

Oke, deh nti ak ke rmh 

Balas saya kembali. Mengakhiri balasan pesan singkat darinya. 

Ya, itulah yang saya rasakan ketika jejak-jejak lebaran masih saja menjadi 
budaya dan menjadi tradisi sampai sekarang. Membawa sanak saudara maupun 
handaitaulan adalah suatu kewajaran jika lebaran usai tanpa bekas itu. Yang ada 
hanya jejak-jejak wajah-wajah baru di perkotaan Metroplitan yang terlihat. Kaum 
urban yang datang dan merantau ke Jakarta tanpa memikirkan apakah dirinya akan 
terjamin di kota yang ia singgahi. Apalagi untuk meramaikan semata. Apakah 
nanti di kota yang ia singgahi itu akan bersahabat dengan dirinya atau malah 
menjadi makan empuk bagi orang-orang yang tak bertanggung jawab. Jadi janganlah 
selalu beranggapan bahwa Jakarta gudang duit tapi juga kota makanan empuk bagi 
orang yang tidak memiliki sanak saudara. Apalagi keterampilan khusus . Itu 
semua adalah makan empuk bagi orang-orang yang tak bertanggung jawab dan oranng 
ingin berbuat jahat kepadanya. Benar juga apa yang sering saya dengar ketika 
ada kaum urban yang merana dan menjadi tuna wisma di kota
 ini. Ada yang tinggal di kolong jembatan, tinggal di emper-emperan toko dan 
juga ada yang tidur di lampu merah. Itu baru contoh kecil bahkan ada yang lebih 
tragis ada yang menjadi tuna susila karena tidak pekerjaan layak untuknya. 
Naudzumindzalik. 

Siapa suruh datang ke Jakarta…..Entahlah apa yang saya harus berbuat : apakah 
saya harus berkata demikian ketika ada saudara-saudara saya atau kita merana 
dan sengsara seperti itu. Ya,semoga hal semacam itu tidak berkepanjangan dan 
menjadi budaya kalau usai lebaran banyak kaum urban yang berbondong-bondong ke 
Jakarta. Sepertinya hal itu harus dikubur dalam-dalam baik dibenak para 
perantau maupun kita. Semoga saja! 

   
  Ulujami, 17 Oktber 2007/ 5 Syawal 1428 H

http://sebuahrisalah.multiply.com
   
  

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke