SISA-SISA RAMADHAN:      
                     BUKAN ITU YANG AKU MAKSUD
   
                                                   Fiyan Arjun
   
  Bukan itu yg aQ mksd! Soal blasan phala itu hnya TuhanQu N aQ!Tak srangpun yg 
m’aturny. Trima ato tdk itu bkan mjd ukuranKu tp bgm cr sorang mansia blaku 
bjaksana!
   
  Kubalas SMS itu kepada kamu dengan pesan singkat seperti itu. Entah apakah 
kamu mengerti atau tidak dengan apa yang kumaksud. Aku harap kamu itu mengerti 
dengan apa yang aku sampaikan. Aku tahu pasti kamu itu akan bertanya-tanya 
kenapa aku membalas dengan pesan singkat seperti itu? Itu semua agar kamu itu 
mengerti yang aku maksud!
   
  Bukan itu yang aku maksud…  
   
  Sebenarnya aku tak ingin membalas dengan tulisan seperti itu. Tapi apa daya 
rasa egoku terlalu kuat untuk merangkai kata-kata seperti itu. Padahal saat itu 
aku lagi sedang menjalankan rukun IslaM. Berpuasa di bulan Ramadhan. Entahlah 
apakah aku telah menodai bulan suci itu oleh kata-kata yang tak menyamankan itu 
aku juga tak tahu. Lagi pula itukan hanya sebuah kata-kata bukan sebuah lisan 
apalagi tindakan. Tapi aku tahu itu sama saja! Walaupun kata-kata itu hatiku 
yang menggerakan. Mana mungkin tangan bisa menuliskan seperti itu kalau bukan 
hati yang ikut bermain> Iyakan? Karena hatilah yang bermain dan melakukan itu 
semua. Ya, mau dikata nasi sudah menjadi bubur tak bisa aku kembalikan menjadi 
nasi kembali. Apa boleh buat biar nanti aku yang mempertanggung jawabkannya 
bukan kamu. Itu harus!!
   
  Tapi aku rasa aku harus membalas pesan singkat seperti itu. Apapun yang 
terjadi walau masing-masing dari kita merasa tersakiti. Aku tahu kamu pasti 
bingung apa yang aku maksud. Tapi dengan apa yang aku kirimkan dengan pesan 
singkat seperti itu melaui via SMS  agar kamu tahu. Bahkan aku berharap kamu 
itu memahami dengan yang apa aku tulis untuk membalas SMS-kamu. Ya, semoga saja 
dengan pesan singkat yang aku kirimkan tak sia-sia untuk kamu. Aku ingin pesan 
singkat yang kukirim itu berguna untuk kamu khususnya, pada umumnya aku sebagai 
orang yang merangkai kata-kata itu.
   
  Mohon maaf jg atas sgala dosa&kesalahanku slama ini. Terima kasih atas segala 
jasa &kebaiakn Fiyan kepadaku.Smg Allah membalasnya dgn pahala yg berlipat 
ganda.
   
  Itu yang kamu tulis untuk membalas pesan singkatku yang lebih dahulu yang aku 
SMS-kan Tapi bukan itu yang aku maksud. Aku hanya memberitahukan bahwa tentang 
dosa, kebaikan (kebajikan) dan pahala hanya milik Tuhanku, Tuhan Yang Maha 
Semesta.  DIA-lah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengatur bukannya kamu, 
kawanku. Apalagi aku yang hanya seorang hamba yang fakir dan papa yang belum 
tahu apakah aku nanti dapat memasuki pintu Surga aku juga tidak tahu.. Jadi aku 
mohon soal dosa, kebaikan (kebajikan) dan pahala biarlah Tuhanku, Allah yang 
mengaturnya bukannya kamu, kawanku. Ingat itu!
   
  Oya, aku ingat pepatah bujak yang pernah aku baca. Pepatah bijak itu seperti 
ini. “Ciri keikhlasan adalah ketika tidak melirik pada pujian makhluk dan juga 
tidak pada caci makinya. Ikhlas adalah intisari dari ucapan dan perbuatan jika 
kosong ikhlas ibarat kulit tanpa biji, kulit itu pantas kecuali untuk api.” 
   
  Bukan, buikan itu yang aku maksud…Tapi inilah maksudku…
   
  “Apabila kita hidup juga untuk orang lain maka jadilah hidup ini bermakna 
panjang dan dalam…”(Asy-Syahid Sayyid Quthub)
   
  Dari seberang jalan kutulis kata-kata itu di handphoneku dengan suka citaku. 
Aku tahu kamu merasa aneh bahkan sungkan untuk membalasnya lagi kepadaku ketika 
pesan singkat itu sudah terlanjur kamu kirimkan kepadaku. Aku tahu kamu merasa 
telah mengambil segala sari pati dari dalam diriku. Sehingga kamu bisa terbang 
tinggi mengepakan sayap-sayapmu dengan keanggunan serta keluguanmu. Ibarat aku 
bunganya kamu, kawanku kau kumbangnya yang telah menghisap sari pati dalam 
diriku hingga tak tersisa. Dan akhirnya aku tak bisa tumbuh kembang seperti 
bunga-bunga yang lainnya. Tapi itu bukan yang aku maksudkan. Aku ingin kita 
belajar menjadi manusia bijak di muka bumi ini bersama-sama. Itu saja tidak 
lebih!
   
  Bukan itu yang aku maksud…
   
  Aku tahu kamu merasa bersalah bahkan merasa berhutang budi kepadaku. Tapi 
bukan itu yang aku maksud. Aku tak butuh balas budi. Dan juga aku tak butuh 
dihormati bahkan sampai menyembahku.  Naudzumindzalik, itu namanya! Tapi yang 
aku maksudkan dan aku butuhkan agar kamu menyadari atas kekeliruanmu selama ini 
kepada Tuhanmu begitu juga pada hambanya. Bukan kamu saja aku pun harus begitu? 
Dan juga aku harap kamu jangan sekali-kali lai kamu menghitung-hitung nikmatNya 
apalagi menghitung pahala-pahala seorang hamba. Itu tak baik bahkan kamu nanti 
bisa dikatakan kufur nantinya. Karena itu semua dapat dilakukan oleh seorang 
hamba dengan PenciptanNya yang mengetahuinya bukannya kamu. Habluminallah, itu 
namanya. Adalah tanggung jawab individu seseorang dalam "kesungguhannya" 
melaksanakan perintah Allah. Itu rahasia Yang Maha Kuasa kita sebagai hambanya 
hanya patut bersyukur dan menyembah kepadaNya bukan menghitung-hitung pahala 
yang DIA berikan kepada kita. Kita sebagai hambanya
 tak lebih hanya berbermunajat dan menyembah kepadaNya..
   
  Kawan inlah yang aku maksud…
   
  “Aku lebih suka memenuhi satu kebutuhan saudaraku daripada ibadah setahun.” 
(Hasan Bashri)
   
  Jika nanti kamu (sudah) jauh dariku dan memiliki apa yang kamu cita-citakan 
janganlah kamu seperti kacang yang melupakan kulitnya. Bagaimana pun kulit yang 
sudah terkelupas bahkan telah rapuh ia masih tetap bagian darinya. Tidak 
mungkin kacang tumbuh tanpa kulit. Karena guna kulit itu sendiru untuk 
melindungi dari segala bintang-binatang kecil (hama) yang akan menggerotinya.
   
  Itulah semua yang aku maksud.  Sekali lagi aku katakan aku tak butuh 
sanjungan, kehormatan apalagi pamrih. Tetapi yang aku maksukan sekali lagi 
kepada kamu, kawanku marilah kita renungkan dan bertanya pada diri kita 
masing-masing. Apakah kamu dan aku sudah tahu apa tujuan kamu dan aku berada di 
dunia ini? Yup, tak lain kita saling nasehat-menasehati sesama dan juga saling 
tolong menolong. Allah berfirman: Dan tolong-menolonglah kamu dalam 
(mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat 
dosa dan pelanggaran. (QS : Al Maidah : 2).  Bukan membalas apa yang aku 
berikan kepada kamu selama itu, kawanku. Itulah yang menjadi masalah kamu, 
kawanku apa-apa selalu kamu ukur dengan sebuah harga, nominal bahkan pujian 
(tindakan) pula. Itu salah! Bukan, bukan seperti itu yang aku maksudkan. Tapi 
kita harus bersama-sama saling mengetahui masing-masing diri kita itu yang aku 
maksud. Bukankah begitu? Ya, semoga kita bisa bersama-sama dalam lindungan 
Allah dan
 juga bisa bersama-sama  kembali menjalin silaturahim yang telah (hampir) putus 
itu.
   
  Apakah kau mengerti  yang aku maksud…?
   
                                                                                
   Ulujami, Oktober 2007
                                                       Ketika hati dan pikiran 
dikuasai oleh ego!
   
   
   
  
  __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke