--- In [EMAIL PROTECTED], Kupretist <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
"Kebusukan"
Pertama
Perhatian semua wartawan dan wartawati: berhentilah mengutip
"sumber yang tak mau disebutkan namanya". Berhentilah dari kebiasaan
membiarkan sebuah berita dimanfaatkan sebagai sarana provokasi politik
dari
mereka-mereka yang punya kepentingan sempit. Berhentilah memburu
"bocoran". Berhentilah mengutip kutipan "sebuah sumber" pemberitaan
kawan lain. Berhentilah berspekulasi, tak berkesimpulan, dan mengosipkan
kabar-kabar angin. Hanya tulislah, cetaklah, dan siarkanlah materi-materi
pemberitaan yang bisa diverifikasi oleh sang wartawan secara faktual.
Selebihnya, stop! Buang saja ke tempat sampah!
"Kebusukan"
Kedua
Berhentilah berlagak jadi pesohor (selebritis), badut dan
kaki tangan para kapitalis. Berhentilah berlagak jadi pakar di acara
wicara
(talk show) TV untuk hal-hal yang tak ada hubungannya dengan
pemberitaan, dan
cuma ingin menyombongkan pengetahuan. Berhentilah menerima undangan
dari Istana
Negara, kantor menteri, gubernur, bupati, atau dari mana saja, yang
pasti akan
menyuguhkan makan siang atau makan malam yang mewah, tapi tak ada cukup
informasi penting dan berharga yang bisa diberitakan dari sana.
Berhentilah
"menjilat pantat"para politisi dengan memuji-muji gagasan, sikap, dan
pernyataan mereka. Berhentilah menerima "amplop" dari perusahaan
manapun yang mengirimkan undangan peliputan. Tolaklah setiap ajakan
para pejabat
atau pengusaha untuk mengiringi kepergiannya dengan naik kapal mewah atau
pesawat terbang dengan gratis plus semua akomodasi ditanggung. Pokoknya,
hentikan!
"Kebusukan"
Ketiga
Berhentilah berpuas diri dan menyombongkan hasil kerja mu!
Jangan pernah berhenti "mencari" dan menjadi lebih baik terus
menerus. Periksa, dan periksa sekali lagi apakah apa yang kita
tulis/siarkan
adalah sebuah berita yang penting dan menarik! Periksa, dan periksa
sekali lagi
apakah anda telah memperoleh kutipan langsung yang "kuat" dari
narasumber, kisah yang faktual, lengkap, sahih, dan menarik! Berhentilah
menuliskan dan menyiarkan omong kosong! Berhentilah berbual!
"Kebusukan"
Keempat
Kebusukan ini lebih
ditudingkan kepada para bos pengelola media massa. Berhentilah bermuka
dua: mencaci
praktik-praktik KKN, tapi tetap nepotis. Buktikan bahwa prestasi dan
kapasitas
profesional adalah alat ukur memperkerjakan seorang wartawan. Berhenti
merekrut
"kawan-kawan" dan sanak saudara sendiri! Berikan kesempatan yang sama
bagi perempuan untuk membangun karir profesional di dunia jurnalistik!
Hentilah
sikap rasis, seksis, dan rasialis dalam memilih pekerja. Kalau media
massa ramai
berteriak-teriak soal keadilan, buktilah dulu di tubuh perusahaan sendiri!
Berhentilah munafik!
"Kebusukan"
Kelima
Berhentilah merasa paling benar! Berhentilah menabur amunisi
bagi mereka yang siap saat siap menyulutkan amarahnya secara destruktif!
Berhentilah mengorek-ngorek kebusukan orang lain, sekadar untuk kepuasan
individual! Berhentilah menjadi penuduh dan pemfitnah! Bukalah telinga
pada
banyak teriakan dan hujatan orang soal betapa tidak berimbangnya
pemberitaan
pers. Adalah sepantasnya kita bertepuk tangan dan mengangkat topi pada
hal-hal
mulia yang sungguh terjadi di depan mata.
"Kebusukan"
Keenam
Berhentilah jadi penakut! Bersainglah! Kritiklah pemberitaan
media lain, kritiklah organisasi wartawan lain, kritiklah sesama wartawan!
Sungguh membosankan setiap hari membaca lebih dari separuh berita
koran-koran
sama saja isinya: tentang hal yang sama dan datang dari sumber yang sama.
Kritik bukanlah makian dan cemooh. Dan, saling kritik secara adalah sarana
bersaing yang ampuh hanya bila dilakukan antara media-media yang setara.
Misalnya, tak ada gunanya KOMPAS mengkritik pemberitaan PosKota atau
Sinar Pagi
yang memang dari sono-nya punya kualitas jauh berbeda. Tapi bayangkan
REPUBLIKA
mengupas kelakuan dan kinerja SUARA PEMBARUAN secara reguler.
"Kebusukan"
Ketujuh
Kebusukan yang satu ini milik para pemimpin redaksi,
pemimpin perusahaan, pemimpin umum, dan manajer koran, majalah, radio,
TV, dan
situs berita. Berhentilah berpikir untuk melulu mengakali soal
tingginya biaya
produksi dan sibuk mencari sensasi untuk meroketkan oplah, rating, dan
unique
visitors! Berhentilah memeras para wartawan dengan terus menggaji mereka
rendah! Berhentilah mengeksploitasi para mahasiswa magang yang mau jungkir
balik tanpa dibayar! Ya, kalian memang harus mencari untung dan
mengumpulkan
laba bagi para pemegang saham, tapi kelakuan kalian memangkas biaya
produksi
tanpa memperdulikan persoalan kualitas profesional bukan cuma akan
membusukkan
perusahaan secara perlahan...dan sebuah petakan di sudut neraka yang
paling
panas telah disiapkan bagi kalian-kalian yang paling sukses bekerja.
"Kebusukan"
Kedelapan
Kebusukan ini masih soal para petinggi perusahaan media massa:
berhentilah jadi
banci dan pemalas! Jangan sekali-kali melempar semua tanggung jawab
kepada anak
buah, sementara anda sendiri tak pernah nonggol di kantor --sibuk dengan
ngobyek sendiri-sendiri. Berperanlah sebagai "penjaga gawang" yang
memastikan standar etika dan profesionalisme yang tinggi dipraktikkan
oleh anak
buah anda. Anda ditunjuk untuk duduk di posisi itu bukan agar bisa
berleha-leha, jadi mulailah bertindak selayaknya seorang profesional
sejati.
"Kebusukan"
Kesembilan
Ini masih untuk para bos media: berhentilah menyalahkan
kampus atau sekolah jurnalistik! Sudah terlalu sering terdengar para bos
melemparkan kesalahan buruknya sumber daya manusia yang mereka miliki
kepada
kampus. Menurut mereka, kampus-kampus yang ada sekarang tidak bermutu
sebab
para alumnus selalu tidak siap pakai. Tapi jahanamnya, mereka pasti ogah
merogoh koceknya untuk membantu mendanai penelitian atau pengembangan
perpustakaan kampus misalnya. Singkatnya, belagu! Mau enaknya aja lu!
"Kebusukan"
Kesepuluh
Kesembilan "kebusukan" di atas memang lebih banyak
ditudingkan bagi para wartawan yang setiap harinya bergelut dengan
produksi
pemberitaan. Semoga saja sekian banyak "berhentilah" itu ada gunanya
untuk memperbaiki kinerja dan profesionalitasnya. Tapi semua itu
sepertinya
mesti juga dimulai dari kampus, sekolah-sekolah jurnalistik. Entah
benar-benar
dungu atau sebegitu mengisolasi dirinya dari kenyataan di luar pagar
kampus,
para pengajar jurnalistik lebih banyak bersibuk sendiri dengan menghafal
teori-teori lama untuk dikhotbahkannya di muka kelas. Berhentilah
omong kosong
dan berkepala kosong! Sedari kampus setiap mahasiswa jurnalistik mestinya
mempersenjatai dirinya dengan gagasan-gagasan, standar-standar,
prinsip-prinsip,
dan etika untuk berhadapan dengan dunia nyatanya nanti di luar pagar
kampus.
Itu artinya, berhentilah mengajarkan kurikulum yang sudah "busuk",
sudah terlalu basi ketimbang perkembangan permasalahan dan tantangan dunia
profesional yang akan dimasuki para mahasiswa nantinya! Jawablah! Apa
yang bisa
kampus lakukan untuk menyelamatkan masa depan profesi jurnalistik yang
tengah
meradang membusuk ini?! Berhentilah berdiam diri! Aktif dan lebih
berlibatlah,
atau kalian harus bersedia turut memikul dosa atas nasib profesi
jurnalistik
yang terus membusuk.
___________________________________________________________
Support the World Aids Awareness campaign this month with Yahoo! For
Good http://uk.promotions.yahoo.com/forgood/
--- End forwarded message ---