Temans, satu lagi cerita saya dimuat di Rakyat Merdeka Online. Silakan dibaca. 
http://www.myrmnews.com/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=rumah_kaca

....Lain lagi suatu waktu, ketika Saiman melintas di depan sebuah rumah, 
seorang perempuan muda yang lain memberhentikan sepedanya. Dengan kaget Saiman 
mengerem dan berhenti persis di depan perempuan itu, 
“Adakah surat untuk saya?” tanya perempuan muda itu 
“Surat?” tanya Saiman, sambil turun dari sepedanya untuk memeriksa surat 
bawannya,  
“Berwarna merah muda,” kata perempuan itu. Dengan cermat, Saiman memeriksa 
semua surat berwarna merah muda yang ada di tasnya. 
“Wah, tidak ada Neng, barangkali amplopnya berwarna lain,” 
“Tidak kok Pak, coba diteliti dulu, soalnya dalam surat terakhir saya, saya 
minta agar dia membalasnya dengan amplop berwarna merah muda,” ujar perempuan 
itu. 
Lima kali Saiman membolak balik tumpukan surat beramplop merah muda, namun 
hasilnya tetap sama. “Wah barangkali besok baru sampai. Sabar ya Neng, kalau 
ada, pasti saya antar,” ujar Saiman mendinginkan. 
 
Begitulah, Saiman memang punya jawaban yang memuasakan pada perempuan-perempuan 
muda yang tengah menantikan kabar dari seseorang nun jauh di sana. 
 
Tapi agaknya tidak untuk sekarang. Sejak meluasnya teknologi, pemuda-pemudi di 
kecamatan kami seolah melupakan Saiman. Tak ada lagi perempuan muda dengan 
wajah penuh harapan yang muncul di kantor pos untuk menitipkan surat beramplop 
merah muda. Begitu juga, tak ada lagi, orang yang nyaris kehilangan kesabaran 
penantian, menghentikan sepeda Saiman di tengah jalan. 
 
Saiman menjauhi loker dan keranjang yang sudah melompong. Empat bulan sudah 
kantor itu tak beroperasi. Selama itu pula Pak Idris telah meyakinkan kepada 
pegawai-pegawai di sana bahwa, lebih baik bagi pegawai-pegawai itu pindah dan 
mencari pekerjaan baru. Termasuk kepada Saiman. 

Di depan sebuah meja, Saiman tertegun melihat bantalan dan stempel cap kantor 
pos yang sudah dikepak rapi dalam sebuah kardus mi instan. Dahulu, Si Karto, 
teman sejawatnya selalu berada di bangku ini. Dengan semangat Karto 
menghantamkan palu stempel ke amplop surat-surat yang siap dikirim. Pekerjaan 
itu dilakukan Karto dari pagi hingga siang hari. 
“Akhir-akhir ini saya jadi lebih semangat menghantamkan stempel ke perangko,” 
ujar Karto yang dua bulan lalu menjadi almarhum. 
“Kenapa begitu Mas Karto?” tanya Saiman sambil memilah-milah surat ketika itu. 
“Iya, habisnya, orang yang ada di perangko ini membuat saya kesal,” ujar Karto 
sambil menghantamkan keras-keras palu stempelnya di perangko senilai Rp 300,- 
yang bergambar Soeharto 
“Lho? Kok kesal? Sampeyan jangan main-main lho.” tanya Saiman keheranan. 
“Habisnya, dari tahun ke tahun, presidennya dia melulu. Bosan saya,” ujar Karto 
sambil tertawa. Mereka berdua tertawa.... 
       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke