INI IDE ALI, ASELI
Sebenarnya saya mah Bantu-bantu aja ama rencananya Ali. Termasuk nama Rudal
sendiri adalah hasil perenungan Ali yang begitu mendalam. Alhasil
ditengah-tengah setumpuk laporan praktikum yang tak kunjung tuntas,
sekonyong-konyong ide itu muncul. Ali bak menjadi seorang Archimides yang
tiba-tiba berteriak Eureka
eureka
!!! tanpa sadar bahwa saat itu sang jenius
sedang berendam dalam bak mandinya.
Tapi ku pikir Ali tak seheboh tuan Archimides. Apakah mungkin dalam keheningan
ruang kos-kosan yang sempit itu Ali masih sempat-sempatnya juga untuk berteriak
Rudal
rudal
yeah
!! sambil kegirangan. Tidak
tidak
. Ali, yang kukenal tak
se aneh itu. Saya sebagai temannya, meyakini kalau Ali lebih dewasa. Ia tahu
bagaimana meluapkan kegembiraan dengan cara-cara yang lebih intelek.
Mengungkapkannya dengan penuh penjiwaan. Menuangkannya dalam bentuk-bentuk
berkarya tinggi. Menyiratkannya melalui senyum dan gigi-gigi yang tersusun
rapi. Menggigit-gigit bantal misalnya.
zz "zalam zuper",
muchayat
--- In [EMAIL PROTECTED], Rumah Dunia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Wong Cilik Berpuisi dan Mobile Library
>
> Pagi itu (10/2/08) Pak Karya masih sibuk mengurusi warganya untuk kerja
> bakti, padahal malam harinya ia baru saja bergadang untuk ronda keliling.
> Sebagai ketua RT, ia termasuk orang yang giat mengorganisir warganya. Profesi
> lainnya, ia adalah tukang ojeg, mangkal di perumahan Bumi Agung Permai
> menjadi kesehariannya untuk menafkahi keluarga. Sehabis kerja bakti, sekitar
> pukul 9.00, dengan memakai motor ojeg merah marun kesayangannya, ia dan dua
> anaknya mendatangi Rumah Dunia untuk mengikuti lomba baca puisi Wong Cilik.
> Jauh sebelumnya, ia sudah menulis sebuah puisi mengenai kehidupannya sebagai
> tukang ojeg.
> Pak Karya adalah salah satu contoh yang unik bahwa di tengah kesibukannya,
> ia ternyata meluangkan waktu untuk menulis puisi. Ternyata hal ini berlaku
> juga untuk Pak Udin, seorang sopir angkot yang sudah ratusan puisi
> ditulisnya. Bahkan ketika menunggu penumpang di Ciceri, empat koran harian
> selalu dibacanya dan sudah menjadi rutinitas yang tak terpisahkan
>
> Baca Puisi
> Pak Karya dan Pak Udin bergabung dengan 30 peserta lainnya, berjumpa dengan
> tukang kuli bangunan, tukang becak, pedagang kaki lima dan buruh tani dari
> suluruh pelosok Banten. Kendati mereka biasa disebut sebagai wong cilik,
> namun perlombaan yang digelar itu cukup menyedot perhatian warga Banten.
> Ratusan orang dewasa dan anak-anak memadati pelataran Rumah Dunia. Dengan
> cara yang khas, mereka membaca puisi dengan lantang, penuh semangat.
> Tema-tema puisi yang mereka usung lebih banyak menyoroti profesi mereka yang
> kadang dipandang sebelah mata, ada juga yang mengoreksi para pejabat yang
> korup bahkan gejala sosial di masyarakat; suami direbut orang misalnya.
> Sesekali cemoohan gaya penonton yang mayoritas juga wong cilik begitu
> membahana jika ada pembaca puisi yang menggelikan. Toto ST Radik, Dadie RsN
> dan Firman Venayaksa yang menjadi juri dalam perlombaan itu cukup kagum
> dengan para peserta yang berani untuk tampil optimal, walaupun sebagian besar
> mengaku bahwa baru kali ini mereka membaca puisi di depan publik.
> Perlombaan ini diadakan sebagai ajang silaturami antara Rumah Dunia dan
> wong cilik. Sebagai mana kita ketahui bahwa wong cilik biasanya hanya
> dijadikan komoditas politik semata, menjadi objek pelengkap penderita. Nama
> mereka dijual demi kepentingan sesaat, padahal ada suara-suara sumbang,
> jeritan kecil yang juga penting untuk didengarkan dari mereka. Kenyataan
> hidup yang pahit harus dijadikan cermin oleh para penguasa bahwa ada banyak
> persoalan yang belum dituntaskan dan harus terus dikomunikasikan agar kita
> menjadi bangsa yang tegak dan terhormat.
> Sehabis lomba tersebut, para peserta Kelas Menulis angkatan XI berdatangan
> untuk belajar jurnalistik, prosa fiksi dan puisi. Sekitar empat bulan secara
> gratis mereka akan diajarkan bagaimana cara menulis dengan para pemateri yang
> handal di bidangnya.
>
> Mobile Library
> Sehari sebelumnya, Rumah Dunia kedatangan dua truk besar dari Nurani Dunia
> dan XL care yang isinya adalah mobil bajaj dan kontainer buku. LSM pimpinan
> Dr. Imam Prasodjo ini memang concern dengan pendidikan. Alhamdulillah, Rumah
> Dunia diberikan kepercayaan sekaligus tanggungjawab untuk mengelola mobil
> library itu agar masyarakat Banten bisa mengakses bacaan lebih cepat dan
> dekat. Program 2008 ini, Rumah Dunia memang berkeinginan untuk berinisiasi
> membangun kantong-kantong baca di Banten. Setelah Lentera Ilmu di
> Pandeglang dan Rumah Syair di perumahan Bumi Agung Permai-Serang, Minggu
> depan Rumah Dunia akan menjalin kerjasama dengan para aktivis mahasiswa di
> Damkar Cilegon. Ali dan Eko yang menjadi relawan menegaskan bahwa mereka siap
> untuk mengelola Taman Bacaan tersebut. Rumah Dunia menyiapkan ratusan buku
> untuk di rolling, sebagai cara yang efektif dalam menyiasati keterbatasan
> buku. Ayo, siapa lagi yang mau membudayakan membaca kalau nggak kita! (fv)
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.