MAHASISWA TAK PERLU DIKASIHANI, BUNG….! 
   
  Malang betul seorang mahasiswa yang tak memiliki perpustakaan pribadi dalam 
kamar atau kos-kosannya. Jikalau lah sampai terungkap dalam sejarah ada seorang 
mahasiswa sedemikian malang sampai-sampai tak punya deretan buku yang menjadi 
koleksi pribadinya, dapat dipastikan mahasiswa seperti itu bukanlah mahasiswa 
Untirta, apalagi mahasiswa fakultas teknik. Saya yakin itu. Sebab tak mungkin 
sedari awal dia bakal lolos diterima di kampus itu. Kampus tempatku bernaung 
dulu itu tentu hanya akan memilih calon mahasiswa yang cukup berpotensi. 
   
  Lalu kepanjangan yang tepat untuk TBM Rudal yang hendak dikelola ini lebih 
pantas kalau kita beri kepanjangan bukan “Taman Bacaan Masyarakat”, namun kita 
rubah saja dengan “Taman Bincang-bincang Mahasiswa”. Sebab memang tak ada yang 
perlu dikasihani dari seorang mahasiswa. Apalagi untuk sekedar datang melihat 
koleksi buku-buku terbaru yang ada dalam Rumah budaya Literasi yang akan hadir 
kelak. 
   
  Memasukkan mahasiswa dalam kategori masyarakat adalah kesalahan besar. Secara 
turun-temurun kita pasti yakin bahwa memang sebenarnya mahasiswa adalah bagian 
tak terpisah dari sebuah komunitas bernama masyarakat. Akan tetapi sudah 
menjadi paradigma jika kita menyebut kata ‘masyarakat’ yang muncul di kepala 
kita ini tak lain adalah sekumpulan orang yang perlu untuk dibantu untuk dapat 
lebih maju. Atau perlu untuk mendapat motivasi sebab dalam jiwa mereka memang 
telah terpangkas rasa optimisme. Itulah pengecualian untuk mahasiswa. Katena 
mahasiswa tegak untuk menjadi pelayan bukan menjadi tuan pegawai yang telah 
totok mewarisi budaya dilayani bukan melayani. 
   
  Jika demikian mungkin salah jika berdiri Taman Bacaan Masyarakat di 
tengah-tengah kerumunan orang-orang yang telah tercerahkan. Yang lebih tepat 
adalah kita perlu mendirikan semacam gubuk mirip pos ronda lalu kita sulap 
menjadi tempat nongkrong untuk memikirkan karya yang pantas kita persembahkan 
bagi masyarakat. Di depan gubuk itu lalu kita tulis disini Taman 
Bincang-bincang Mahasiswa. Ayolah duduk kemari, kita ngobrol santai aja, kalau 
sudah cape mari kita berkarya. Tapi mungkin susah juga, diskusi bagi para 
mahasiswa ibarat seorang pengembara yang telah menemukan kubangan mata air  
diantara sahara. Susah sekali untuk merayu-rayu mereka beranjak keluar supaya 
berhenti berendam. Jika sudah begini tak ada jaminan kapan akan berkarya. Tapi 
jangan cepat percaya. Saya yakin mahasiswa Untirta tidak seperti itu. 
   
  Zalam zuper, 
  Muchayat 
  
       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke