Pesta Lalat
Seekor lalat, hinggap di paru-paruku yang masih tergenang darah
Dia menggelar tikar sambil membakar jagung
Tak lama lalat yang lain datang bersama seekor kecoa yang kepalanya botak
seperti profesor
Suatu waktu mereka berpiknik di atas paru-paruku yang masih anyir
Dia sahabat kita yang baru saja menjadi sarjana, kata lalat pertama
Oh ya? Aku terang kaget tanpa maksud apa-apa, sambung lalat kedua yang
ternyata betinanya.
Aku tidak perduli siapa dia, yang jelas, sekarang dia menjadi begitu berarti
bagi pesta kita, kecoa dengan suara bass-nya ngeloyor pergi, hilang selera
makanya.
Seekor lalat dan seekor lalat lainnya
Sepanjang malam terus bercerita.
: tentang rumah-rumah yang proyeknya ditangguhkan
: tentang jalan layang yang proyeknya gila-gilaan
: tentang paru-paruku yang ternyata tinggal satu
Aku bosan, aku minta kau kawini saja, rengek lalat betina
Aku tak mau hamil begitu saja, memangnya aku ini manusia?
Mendengarnya lalat pertama cuma menggetarkan sungutnya
Ah, peduli amat! Proyek itu, kan bukan milik kita berdua.
Suatu waktu mereka bertengkar di atas paru-paruku
Lebih baik aku minta pada mas kecoa, dia lebih bermartabat darimu
Seekor lalat hinggap di paru-paruku yang tergenang darah.
Tak ada lalat betina, tak ada kecoa, tak ada pesta, tak ada pembicaraan tentang
proyek apa-apa.
tak ada siapa-siapa
Seekor lalat, dengan cepat membereskan sisa-sisa kotorannya
--27 Juli 04