Judul                           : ORGASMAYA

Penulis                        : HASAN ASPAHANI

Penerbit                       : Yayasan Sagang


Tebal                           : 119 halaman


Harga Discount             : Rp 25.500


Dapatan buku-buku menarik dengan discount menggigit hanya di Magnet Zone,
Café Buku Pertama di Surabaya.
Untuk pemesanan hubungi Mbak Wahyu 085649934525 atau 031-60760322. Anda juga
bisa menghubungi langsung ke Magnet zone 031-5323212, FAX 031-5323212
Pembayaran bisa melalui Bank Bukopin Syariah
No. Rekening 8800259038 atas nama PT. Bina Ilmu


Dalam percakapan fiktifnya dengan Pablo Neruda yang dimuat di bagian
Pengantar, Hasan Aspahani mengatakan bahwa mengekspresikan apa yang kita
puja, apa yang kita gelisahkan, dan apa yang kita pertanyakan tentang
kehidupan bisa lebih mudah mencapai hati orang banyak jika menggunakan
puisi, meskipun banyak cara lain.
Pemilihan judul "Orgasmaya" dirasa aneh oleh sebagian orang. Justru itulah
letak keunikan buku kumpulan sajak pertama Hasan Aspahani yang menggilai
puisi. Namun tidak hanya soal keanehan judul yang bisa kita dapatkan dari
buku ini. Tentu bukan tanpa alasan jika Orgasmaya masuk nominasi
Khatulistiwa Literary Award 2008. Karya ini boleh dibilang karya pilihan
para sastrawan dan budayawan tanah air dalam sebuah ajang penganugerahan
paling bergengsi dalam dunia sastra tanah air.



Komentar tokoh :

Aneh. Betul-betul aneh. Tidak seperti kumpulan-kumpulan sajak yang pernah
saya baca sebelumnya. Dalam kumpulan sajak ini, tak ada satu pun sajak yang
tidak saya suka. Seberapa tebal pun halaman kumpulan sjaak ini nantinya, ia
tak akan membosankan untuk dibaca. Anehnya lagi, meskipun banyak 'bercerita'
perihal sederhana yang mungkin oleh sebagian besar orang dianggap tak
mungkin jadi sajak, semuanya malah menjadi betul-betul sajak yang ditulisnya
penuh pertimbangan. Kata-kata dipilih dengan cermat. Bunyi-bunyi dipilih
dengan jernih. Beberapa di antaranya, menurut saya melebihi sajak--saya tak
tahu harus menyebutnya apa. Kecurigaan saya bertambah tumbuh, jangan-jangan
Hasan Aspahani betul (pernah) tinggal bersama banyak penyair; seperti
Neruda, paz, sampai Sapardi dan Jokpin. Sebab saya berpikir bagaimana
mungkin sajak-sajak itu ditulis oleh seorang saya. Setiap sjaak Hasan tak
pernah melepaskan diri dari; hal filosofis yang membuat saya merenung; hal
jenaka yang membuat saya tersenyum; hal indah yang membuat saya
terkagum-kagum--ditambah pula dengan musik kata-kata yang membuat saya
bersenandung dan bergoyang. semuanya itu membuat saya sungguh-sungguh iri?
Aneh. Betul-betul aneh! ( Aan M. Masyur, penyair, pengelola Kafebaca
Biblioholic, tinggal di Makasar)


Dalam 2-3 tahun terakhir saya membaca puisi (yang di koran-koran Minggu
terutama), salah seorang yang saya tunggu puisi-puisinya adalah Hasan
Aspahani. Inilah yang saya rasakan setiap membaca puisi-puisi Hasan : ada
upaya penyegaran, permainan sudut pandang, akrobat bentuk, upaya mencari
yang berjalan di rel sekaligus--kedalaman diksi dan eksperimentasi kemasan.
Puisi tak melulu menjadi arca yang buram seperti museum berdebu (yang tak
lagi diingat orang). Kadang-kadang Hasan menjadikannya seperti cahaya neon
yang mengepung kota (dan mengingatkan saya--entah lewat cara apa--pada
Scarlett Johansson dalam "Lost in Translation"). Di tangan Hasan, puisi tak
melulu menjadi kata-kata singkat yang bertenaga (heran juga syaa, mengapa
para penulis yang jago di bidang ini lebih suka menyebut diri mereka sebagai
"copywriter" ketimbang "penyair"), meski kadang-kadang kelihatan diksi
pilihan Hasan masih kerap "kelelahan" juga mengandung beban makna. Adakah
penyair yang sudah terbebas dari penyakit ini? (Akmal Nasery Basral,
wartawan Tempo, pengarang, tinggal di Jakarta)



-- 
Magnet Zone Cafe Bookstore at www.magnetzone.multiply.com

Kirim email ke