Disela-sela diskusi dengan temanku, tentang CIA, Amrozi dan Obama, hingga mafia 
Barkeley dan komprador Nekolim. Aneh betul hidup kita Bahar, jaman bergerak, 
kita masih saja merangkak!

Oleh: Hujan


“Jadi je pikir, je itu Robin Hood dari hutan Sherwood, hah?” 

Saiman masih terduduk menahah pedih air hujan yang membasahi luka di sekitar 
pelipis matanya. Sementara macan putih yang terajah di dada kiri Saiman terus 
dibasahi hujan dan darah yang mengucur deras.

“Dasar kriminil, teroris, sampah!” 

Serentetan suara peluru mendesing. Bau mesiu merebak. Hujan terus turun ke 
bumi, mengalir, hingga ke laut.

“Godverdomme!”

***

Di sebatang pohon pinus, Saiman menyandarkan tubuhnya yang penat dililit lelah. 
Sambil terus awas matanya mengedar ke seluruh hutan. Malam memang baru saja 
membungkus hutan itu. Namun rasanya sudah berhari-hari Karto dan Bahri, dua 
temannya, menghilang tak kunjung menampakkan wajahnya. 

“Aku tak percaya, mereka semua tak menginginkan ini! Makinya pada diri sendiri. 
Saiman kemudian menghempaskan pantatnya begitu saja ke tanah. Di kaki kirinya, 
darah dari dua lubang peluru telur menetes. Saiman meringis. Tangannya 
menggenggam dedaunan yang gugur.

Itu hari pelariannya yang keduapuluhdua. 

***

Sebuah pisau menancap di paha kiri van Aken. Lelaki setengah baya itu terus 
menghiba-iba ketika Saiman dan kawananya melumpuhkan lelaki malang itu. 

“Ampun Saiman, je boleh ambil kuda ik, boleh ambil pula kantong uang ik. Asal 
jangan bawa gundik-gundik ik,” rintih Sir John.

“Kami tak mau kudamu, atau gundikmu! kami mau kau pergi! Kau dan semua bangsamu 
mesti keluar dari tanah kami!”  

“Nee Saiman, kalau Ik pergi, bagaimana dengan kebun teh di bukit itu? Ik sudah 
suruh itu orang-orang kampung bekerja dan itu orang kita bayar,”

‘Tidak, sekarang, tanah itu punya rakyat. Ingat, kalau tak pergi juga malam 
ini, rumahmu, dan kau, kami bakar,” ancam Saiman.

***

“Saiman itu rampok! Ekstrimis!”
“Bajingan!”
“Pembunuh!”

***

“Benarkah kita merampok untuk rakyat? Benarkah kita merampas tanah mereka demi 
rakyat?” tanya Karto. Saiman belum bereaksi. Di tangannya karabin masih 
mengeluarkan sisa asap. Mesiu menyeruak ke udara. Di lantai rumahnya, Koh A 
Ling telah tewas dengan lubang besar di dada kirinya.

***

“Panjang umur Saiman!”
“Jayalah Saiman!”
“Saiman pembela wong cilik!”

“Ayo, kita rayakan kemenangan dengan melagukan puji-pujian untuk Saiman dan 
kawan-kawan,” seru seorang warga. Saiman, Karto, Bahri dan beberapa rombongan 
rampok itu dijamu oleh pesta. Mereka bersenang-senang, sepanjang malam. Hingga 
larut, dan pagi baru datang menyapa.
Itu perayaan terakhir yang digelar untuk Saiman Cs. Sebab, usai pesta itu, 
Saiman Cs dan beberapa temannya terlibat sebuah insiden yang yang 
mengantarkannya pada sebuah peristiwa… arsenal di Batavia dibakar!

***

Empat hari setelah pembakaran dan peledakan, pemerintah kolonial Hindia Belanda 
langsung memburu Saiman dan komplotannya. Dan sejak itu, dimulailah pelarian 
Saiman, dari satu hutan ke hutan lainnya, hingga di sebuah tempat di Lebak. Dia 
tersuruk, jatuh oleh timah panas yang dimuntahkan dari karabin milik seorang 
marechaussee.

***

“Saiman, engkau di mana?” tanya Karto yang muncul dari rerimbunan pohon perdu 
di hutan Lebak.  Sementara Bahri mengekor Karto dengan wajah tegang dan dingin. 
Tak ada balasan dari Saiman. Malam itu, sang jagoan dari Pejambon tak kuat 
menahan sakit di kakinya. 

“Aku di sini,” sambut Saiman menahan sakit. 
“Mereka sudah di sini,” ujar Karto sambil mengeluarkan makanan dari bungkusan 
yang dibawanya.
“Sekarang bagaimana?” tanya Bahri mendekat.
“Kita pasti mati,” kata Saiman. “kalau kalian takut, kalian boleh tinggalkan 
aku sendiri,” ujar Saiman. Karto menggeram. Tak mungkin ditinggalkannya 
sahabatnya. 
“Aku disini, bagaimana denganmu Bahri?” tanya Karto. Bahri tak menjawab. Langit 
malam semakin kelam. Hutan telah dipenuhi suara serangga dan binatang malam.

“Kita harus lari,” ajak Bahri.
“Tapi, lihatlah, Saiman terluka parah,” bisik Karto. Saiman sudah memejamkan 
matanya. Hanya kembang kempis perutnya yang menandakan manusia itu masih hidup. 
“Kita hanya punya sebuah golok dan karabin yang tak beramunisi,” ujar Bahri. 
“Kalau malam ini kita lolos…”sambung Bahri lagi.

“Sudah tak ada guna bagi kita melawan. Lihat, luka Saiman sudah semakin 
memburuk. Kalau kita menyerah, mungkin saja pemerintah masih mau memberi 
pengampunan,” ujar Bahri meneruskan. Saiman masih tergeletak meringis menahan 
tangis.

“Pengampunan tak pernah ada bagi kita, kulit warna. Sama seperti kita tak 
pernah memberi ampun kepada siapa saja yang tak sewarna dengan kulit kita,” 
ujar Saiman.

“Apa saranmu?” tanya Karto
“Kita melawan?,” ulang Bahri
“Tapi kita tentu mati konyol. Kau tak lihat satu resimen tengah memburu kita? 
Mereka bersenjata lengkap.  Tentulah dari jarak lima meter, kita bisa dihujani 
peluru,” ujar Karto sengit. Sambil bersiap memapah Saiman. “dan kalau kita 
menyerah?”
“Paling tidak kita hanya disiksa, dipaksa kerja rodi, paling berat beberapa 
tahun kurungan, hingga nanti teman-teman kita yang ada di Holland datang 
membebaskan kita,” ujar Bahri. 
“Lalu, kau  percaya dengan teman-teman priyayimu yang cengeng itu?” tanya 
Karto. Bahri terperangah. “Apa maksudmu Karto, sekarang kita tak punya 
siapa-siapa lagi untuk diandalkan,”
“Sudah, berhenti!” kalian hanya punya pilihan, lari atau mati. Itu saja.” ujar 
Saiman sambil berusaha bangkit. Karto menahan tubuh Saiman yang lemah tak 
berdaya. Hilang sudah keperkasaan jagoan Pejambon itu. “Aku disini, hidup mati, 
ada di tangan Tuhan,”  ujar Saiman.

“Saiman,” ujar Karto dan Bahri nyaris bersamaan. 
“Kalau kau memilih tinggal, tinggallah, Karto. Kalau kau mau lari, larilah 
Bahri. Tapi Saiman tak takut maut. Selembar nyawa ini punya Tuhan, bukan milik 
pemerintah. Kalaupun aku mati, maka Tuhanlah yang mengambil nyawaku, bukan 
pemerintah Hindia Belanda,” ujar Saiman. 

Dari jarak setengah kilometer derap lars marechaussee kian jelas terdengar 
membuncah malam. “Apa kau takut mati Bahri?” tanya Saiman dalam papahan Karto. 
Bahri diam sambil terus memegang sebuah karabin yang kosong. 
“Sejujurnya aku pun takut mati. Tapi apa boleh buat. Ini sudah jalanku, aku tak 
mungkin keluar dari jalanku,” lanjut Saiman.

“Saiman, aku...” potong Bahri.
“masih ada waktu untuk lari. Cepatlah, sebelum nanti mereka juga menemukanmu.
“Saiman,”
“Kau tetap temanku. Selalu,”

Suara derap lars semakin dekat. Dengan sekejap nyala obor telah mengepung hutan 
Lebak. Saiman terjepit. Di langit, awan telah menggumpal pejal. Suara karabin 
bersahut-sahutan, memecah kesuraman hutan dan kegelapan malam. Bahri 
tersungkur. Kakinya remuk dihantam peluru dan popor karabin.

***

Diringkusnya Saiman dan kawan-kawan menjadi berita besar di Batavia. De 
Lokomotif bahkan sempat memuat ringkasan penangkapan hingga proses peradilan 
Saiman Cs.

***

“Eksekusi mati,”
“Mati?”
“Tidak, dipindahkan,”
“Dipindahkan?”
“Saiman yang malang,”
“Meski garong, Saiman tetap pahlawan di hati kami,”

***

 Diantara kesah resah warga, ada pula yang menghujat Saiman dan komplotannya;
“Nyaho!, biarin. Biar cepat mampus,”
“Bikin susah Negara!”
“Garong, sial!”
“Bikin malu Pejambon!”
“Inlander mesti mampus!”

***

Di dalam selnya, Saiman terus mengenang lembaran-lembaran hidupnya. Bagi dia, 
apa yang didapatnya hari ini bukanlah hukuman atas kesalahan yang pernah 
dilakukannya, membunuh orang yang tak sewarna kulit sama sekali bukan dosa. 
Membakar gudang senjata milik pemerintah kolonial adalah sebuah pekerjaan yang 
tentunya akan diganjar dengan surga. Begitulah Saiman. Dia tertawa puas dengan 
hasil kerjanya. Perasaan itu kian besar ketika dia mengingat bahwa hasil 
kerjanya membuat orang senang dan bergembira sepanjang malam.

Hari datang, hari pergi. Terus berganti. Kerja paksa sudah tak dirasakan lagi. 
Bagi dia semakin cepat waktu berlalu, maka semakin baik.

“Sekarang apa yang bisa dilakukan teman-temanmu yang priyayi itu?” tanya Karto 
kepada Bahri di sela-sela kerja paksa, memecah batu menjadi kerikil.

“Tidak ada yang bisa dilakukan mereka sekarang. Mungkin engkau benar, mereka 
hanya pelajar bodoh yang manja. Yang mabuk cinta pada noni-noni Belanda,” jawab 
Bahri. Karto tertawa, Bahri tertawa. “yang mabuk cinta pada noni-noni Belanda,” 
ulang Karto.

Mendengar kesah dua sahabatnya, Saiman terseyum pilu. Sekarang dia baru paham. 
Di saat begini, tak ada orang yang sudi menyelamatkan dan peduli dengan keadaan 
mereka. Kemana semua orang pergi? Kemana semua orang yang dulu ikut berpesta 
melarikan diri? Kemana priyayi-priyayi dan pegawai rendah itu lari? Saiman 
ditinggalkan, Saiman ketakutan. 

Malamnya, seorang opas masuk membuka teralis sel. Di pojok, Saiman tengah 
merenung. Sementara dua sahabatnya sudah lama terlelap setelah seharian 
bekerja. Keduanya meringkuk dalam dingin udara.

Perlahan tempias hujan masuk, dibawa angin, tatkala si opas menghampiri Saiman. 
“Kowe orang musti siap,” ujar sang Opas.

Saiman bangkit. Digulungnya celana, dan dirapikannya bajunya. Dihampirinya dua 
sahabatnya.

“Kawan, saatnya kita melawan,” bisiknya kepada Karto dan Bahri.

Ketiganya kemudian dibariskan dan dihalau keluar sel. Ke sebuah tempat. Sebuah 
tempat.

Sepanjang jalan, hujan terus turun dengan deras. Sementara hutan lebat di 
belakang sel semakin lengang dan sepi. Sesekali, kilatan mengampar, membelah 
langit bergemuruh. 

Di sana, di ujung matanya, Saiman melihat hamparan luas lautan yang hitam.

Tiga buah tiang sudah dipacakkan. Sementara sebarisan pasukan berjas hujan 
telah menanti ketiga garong itu.turun dari dalam mobil yang mengangkut mereka.

Gemuruh menyambar. Hujan belum berakhir. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya 
pada hitungan ketiga, Saiman, Karto dan Bahri melawan, hingga letusan karabin 
benar-benar kedengaran mengalahkan deru hujan yang turun di Nirbaya.

Palmerah, 18 November 2008 




      

Kirim email ke