Jawa Pos, Minggu, 22 Maret 2009<br /><br />PADA suatu pagi yang hening, di 
tengah suasana tafakur doa, para murid tersentak dikegetkan suara guru meditasi 
mereka bergegar-gegaran meledak dalam tawa. Saat sore tiba, pada upacara 
pemakaman seorang petinggi kerajaan, para murid dibikin sontak pula oleh derai 
tawa lepas guru mereka. Malam hari, saat seluruh penghuni perguruan Zen harus 
silentio stampa (puasa omong), sekali lagi sang guru terpingkal-pingkal ketawa. 
Para murid masygul mendapati ketidaklaziman itu. Guru pun berkata, \"Manakala 
surga menyentuh hatiku masakan aku diam saja. Hatiku melonjak girang bagaikan 
saut riuh kicau burung di waktu fajar.\"<br /><br />Sang guru Zen telanjur 
dipandang sebagai manusia bijaksana. Sepanjang hidup, ia mencari, mendalami, 
dan merenungkan kebijaksanaan. Ia merasa belum sampai pada kebajikan hidup. 
Kesadaran itu ia alami saat tertawa. Kebijaksanaan justru terjadi saat sang 
guru tertawa karena menemukan persepsi kontradiktif atas realitas hidupnya.<br 
/><br /><em>\"Abundant living: think deeply, speak gently, laugh often, work 
hard, give freely, pay promptly, pray earnestly, be kind.\" Aforisma John 
Kanary, spiritualis Kanada ini, pas banget buat meringkas sepak terjang Butet 
Kartaredjasa. Pengasong jasa akting itu hidup berkelimpahan berkat kegemarannya 
berpikir mendalam, bicara gagah, selalu bikin siapa pun tertawa lepas, suka 
bekerja keras, ikhlas memberi, tidak menunda pembayaran, doa 
bersungguh-sungguh, dan ramah.<br /><br />Butet Kartaredjasa punya banyak 
predikat: raja monolog, tukang tonil (pemain sandiwara), pemangsa makanan enak, 
panglima Front Pemuja Guyonan, dan kolomnis. Buku <em>Presiden Guyonan bukti 
Butet piawai bertutur dalam bentuk esai. Buku ini merupakan antologi \"Kolom 
CELATHU\" di harian <em>Suara Merdeka Semarang.<br /><br />Celathu merupakan 
sketsa sosial ganjil dibingkai spirit kejenakaan. Mas Celathu, tokoh alter-ego 
Butet, manusia <em>waton njeplak yang penuh <em>sense of irony. Gerundelan 
perihal kepahitan hidup senantiasa dibungkus gurau. Celathu, dalam percakapan 
lumrah orang Jogja dan Jawa Tengah, artinya berujar, menyambar omongan, dan 
nyeletuk. Butet menyambar fenomena-fenomena aktual. Pun peristiwa yang sedang 
menghajar dirinya.<br /><br />Lomba makan kerupuk dan panjat pinang, bagi 
Butet, tak lain sindiran rakyat terhadap makna hari kemerdekaan. Para pemimpin 
yang dipercaya sebagai bangsa konsisten menyelenggarakan kemiskinan. Demi 
sepotong kerupuk rakyat harus berjuang keras dan berebut mengunyah. Makna 64 
tahun kemerdekaan masih seperti panjat pinang. Mereka yang di bawah diminta 
menjadi tumbal kemakmuran segelintir manusia yang bertengger nun di atas 
singgasana kekuasaan.<br /><br />\"Dunia ini memang aneh,\" gerutu Butet. 
Sementara banyak orang bernafsu menjadi raja semu, <em>eh, malah ada raja 
beneran mendiskon derajat dengan mencalonkan diri sebagai presiden. Pemangku 
budaya adiluhung itu dinilai Butet silau dengan jabatan politik yang umurnya 
cuma lima tahun. Kursinya pun penuh ketonggeng, kalajengking, bangsat, lipan, 
kelabang, dan tikus. Ketimbang jadi presiden <em>beneran tapi mendukung 
eksperimen guyunan semacam proyek Blue Energi dan Padi Super Toy HL2, Butet 
memiilih jadi presiden guyonan.<br /><br />Multimedia di zaman digital 
cenderung meringkas, memoles, dan memanipulasi informasi dalam bentuk iklan 
politik. Busuk dibikin segar. Kasar dicitrakan lembut. Jahat dikemas alim. 
Koruptor dipoles suci. Pembunuh disugestikan dermawan. Kriminal dibesut jadi 
agamis. Iklan politik bagian dari mata rantai industri dan perdagangan. 
Hakikatnya jual beli. Modal ditanam agar laba lekas dipanen. Investasi yang tak 
murah itu jelas bukan pengabdian. Butet menganjurkan khalayak mewaspadai 
reklame calon anggota legislatif, bupati, wali kota, gubernur, dan presiden. 
Kepemimpinan tokoh yang mendadak kondang berkat iklan politik punya 
kecenderungan absurd. Dua tahun pertama ia bakal sibuk <em>sebrak saut 
mengembalikan modal investasi. Dua tahun berikutnya aji mumpung buat memetik 
laba. Tahun terakhir sang memimpin sibuk cari modal buat beriklan pada pemilu 
berikutnya.<br /><br />Butet mengusulkan merger Departemen Perhubungan dengan 
Departemen Agama. Departemen Perhubungan sukses meningkatkan keimanan dan 
ketakwaan manusia Indonesia. Para penumpang pesawat terbang, kereta api, bus, 
dan kapal laut menjadi religius dadakan. Mereka yang biasanya mengabaikan Tuhan 
langsung berdoa mohon keselamatan selama perjalanan. Soalnya, pesawat acap 
nyungsep, kapal karam, bus masuk jurang, dan kereta terguling. Kantor BKKBN 
sebaiknya ditutup. Peran mengendalikan jumlah penduduk telah diambil alih 
Departemen Perhubungan. Departemen Agama kelak tugasnya hanya membangun tempat 
ibadah di bandara, stasiun, pelabuhan, dan terminal. Kelak urusan agama tidak 
lagi diatur negara. Agama dikembalikan ke wilayah privat seperti halnya mandi, 
gosok gisi, makan, dan tidur.<br /><br />Derai tawa Butet berlumuran satir 
sarkasme yang menggebuk ulu hati. Kemampuan Butet melucuti pelbagai paradoks 
lalu mengubahnya menjadi ironi bergelimang sikap mencemooh dan menertawakan, 
meminjam kerangka berpikir antropolog James Scott, boleh disebut sebagai 
<em>weapon of the weak (senjata kebajikan kaum keserakat).<br /><br />Butet 
memang membiasakan diri hidup rileks dan tidak gampang disulut amarah. Serumit 
apa pun persoalan tidak dibawanya dalam kepanikan. Masalah yang gawat tidak 
membuatnya kapok ketawa. Selalu ditemukan akal buat mengubah yang pahit menjadi 
segar. Bercanda membuat syarafnya kendor dan pembuluh jadi longgar. Butet telah 
menemukan sari pati kehidupan: perasaan syukur. Ia menerima dengan ikhlas 
diabetes mellitus akut yang bergentayangan di sekujur tubuhnya.<br /><br 
/>Esai-esai <em>Presiden Guyonan mengalir tak ubahnya kolom <em>Mangan Ora 
Mangan Kumpul milik almarhum Umar Kayam. Butet memang mewarisi ketangkasan 
menulis dari mentornya itu. Spontanitas Butet dalam mengironikan tragedi setali 
tiga uang almarhum Basiyo, komedian masyur Jogja era 70-an. Gaya berkisahnya 
yang menyengat laksana lebah membangunkan kerbau tidur mengingatkan orang ramai 
akan obrolan Pak Besut di RRI Jogja dekade 70-an.<br /><br />Novelis Ashadi 
Siregar berkomentar, sulit mencari orang Jogja asli yang rileks penuh canda 
dalam mengurai perkara ruwet. Orang Jogja, tak beda dengan manusia Indonesia 
umumnya, <em>ngrenggiyek (tegang) menghadapi persoalan pelik semisal status 
keistimewaan Jogja. Dan, Celathu dibikin asyik dengan goresan jenaka kartunis 
Dwi Koendoro.<br /><br />Humor memang siasat menjaga keselarasan semesta 
hikmah. Celathu menghidupkan kembali semangat ugahari Basiyo dan Pak Besut. 
(*)<br /><br />*J. Sumardianta, guru SMA de Britto Jogjakarta, penulis buku 
Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh Bergelimang Makna<br /><br />

selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/resensi.php
dan silakan klik detail bukunya di 
http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=789


Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com

Kirim email ke