Jawa Pos, 22 Maret 2009<br /><br />TAHUN lalu Tiongkok sukses besar menjadi 
tuan rumah olimpiade. Mata dunia terbelalak ketika pesta skala dunia itu 
tergarap apik nan gemilang. Namun, negara mahabesar itu masih menyimpan warga 
yang hidup dalam penderitaan dan kelaparan. Masih ada sebuah desa, Zhangjiashu 
namanya, yang di abad 21 ini membawa kisah perjuangan sebuah keluarga yang 
layak nian untuk dihayati.<br />
<br />
Ma Yan, gadis beranjak remaja di Desa Zhangjiashu, suatu ketika dimarahi 
habis-habisan oleh ibunya karena gagal dalam ujian bahasa Tiongkok, mata 
pelajaran terutama di sekolahnya. \"Setelah semua kerja keras yang kita 
lakukan, hanya inikah hasilmu?\" tanya ibunya dengan sengit.<br />
<br />
Ibunya kemudian memarahi dia dengan kata-kata yang bagi Ma Yan cukup pedas di 
telinga. \"Kalimat-kalimat kemarahan ibu, alangkah tajamnya, barangkali lebih 
tajam dari pisau pengerat daging terkeras sekalipun,\" cerita Ma Yan.<br />
<br />
Dalam kekesalannya, sang ibu sempat berujar kalau Ma Yan sebenarnya tak layak 
mendapat roti buatan ibunya. Nilai ujian Ma Yan tak sebanding dengan 
pengorbanan ibunya. Namun, tak terduga, ibunya malah bersikap lain tak lama 
setelah amarah besar itu. Diam-diam, lewat bibi Ma Yan, ibunya mengirimkan 
beberapa buah donat yang nikmat, dan baju hangat untuk melindungi Ma Yan dari 
hawa dingin.<br />
<br />
Ketika melihat donat dan baju hangat itu, Ma Yan tak kuasa menahan diri dari 
tangis. Betapa besar kasih seorang ibu. Anak yang benar-benar dimarahi, 
benar-benar disayangi pula!<br />
<br />
Kisah-kisah yang menyentuh seperti di atas menghiasi banyak halaman novel ini. 
Hanya saja, hampir selalu dilampiri dengan khotbah tentang hakikat hidup dan 
perjuangan meraih mimpi oleh penulisnya. Itulah yang sedikit mengganggu, 
sehingga iming-iming di sampul belakang buku yang menyatakan bahwa \"novel ini 
akan membuat Anda berurai air mata\", terkesan sedikit berlebihan. Kita 
tampaknya -- tentunya tanpa sengaja dilakukan oleh penulis -- diberi ruang 
terbatas untuk tenggelam dalam imaji yang penuh, karena muatan yang hampir sama 
besar dengan jalinan kisah di sepanjang buku ini adalah khotbah dan renungan 
dari para pencerita.<br />
<br />
Para pencerita di novel ini ada tiga. Pertama, Ma Yan. Ia tekun menulis catatan 
perjuangannya meraih pendidikan. Kedua, ibunya. Ketiga, penulis sendiri, yang 
dalam hal ini lewat pemetaan renungan dan pemikiran Pierre Haski, jurnalis 
Prancis yang suatu ketika mampir ke Zhangjiashu. Nah, bila novel ini memang 
merupakan suatu kisah nyata, pilihan penulis untuk memasukkan tiga pencerita 
agak berlebihan. Sebab, kisah ini awalnya adalah catatan-catatan Ma Yan. 
Setelah mengalami konflik yang cukup berat untuk bertahan sekolah, ibunya 
bertemu dengan Pierre Haski. Ia serahkan catatan-catatan itu, lalu jadilah 
kisah ini.<br />
<br />
Bila catatan-catatan itu kemudian dirajut menjadi sebuah tulisan dari sudut 
pandang Pierre Haski dan Ma Yan saja, tentu akan lebih pas. Ibu Ma Yan tak 
memiliki catatan apa pun, bahkan tidak bisa baca-tulis, bagaimana mungkin 
penulis bisa menggambarkan isi benaknya sedemikian banyak di dalam novel?<br />
<br />
Juga, yang menjadi tanya besar: bagaimana kisah ini sampai di tangan Sanie B. 
Kuncoro? Apakah Sanie bertemu dengan Pierre Haski di Prancis, lalu mereka 
kemudian ke Tiongkok mewawancarai lagi Ma Yan dan keluarganya? Kita tidak tahu. 
Sangat disayangkan, proses kreatif ini tidak disampaikan dalam bab awal, 
prolog, atau catatan akhir, atau apalah. Hingga bagian akhir, yang ada hanyalah 
adegan manis kala Pierre Haski mengikuti seorang ibu dan anak yang berjalan 
bergandengan tangan. Gandengan tangan yang mengingatkannya pada tangan ibu Ma 
Yan, yang terkisah di dalam novel sebagai tangan berwarna tembaga, akibat lelah 
dan panas ditempa kerja keras dan sinar mentari.<br />
<br />
Terlepas dari kekurangan-kekurangan itu, novel ini tergarap dengan bahasa yang 
sangat rapi. Detail-detail tentang kondisi alam, pergantian musim, dan mata 
pencaharian para penduduk Zhangjiashu dikisahkan dengan menarik dan wajar.<br />
<br />
Selain itu, cerita perjuangan ibu dan ayah Ma Yan di novel ini menyentuh hati. 
Rasanya banyak orang telah tahu kegigihan orang-orang Tiongkok. Mereka terkenal 
tegar, selain gigih, dalam menghadapi berbagai kemelut hidup. Bila Anda pernah 
menyaksikan film indah besutan Zhang Yimou berjudul <em>Not One Less yang 
mengisahkan kegigihan dan ketegaran seorang guru muda dalam mendidik 
anak-anaknya yang nakal di suatu pedalaman Tiongkok, maka Ma Yan mengisahkan 
kegigihan dan ketegaran seorang gadis beranjak remaja dalam menempuh 
pendidikan.<br />
<br />
Dan, kekuatan niat menempuh pendidikan itu juga dirangkai dengan kisah kekuatan 
doa. Suatu malam Ma Yan menjalankan salat tahajud ketika menyerahkan ibunya 
kepada Tuhan, agar senantiasa dilindungi. Ibunya harus menempuh perjalanan 400 
kilometer menuju perbatasan Ning Xia dan Mongolia Dalam, diangkut dengan 
traktor, mencari uang untuk anaknya itu. Kasih ibu sepanjang jalan, membuat Ma 
Yan menghaturkan doanya dengan sujud syukur nan penuh harapan.<br />
<br />
Dan, ketika kasih ibu sepanjang jalan dinyatakan, mukjizat demi mukjizat pun 
terjadi dalam keidupan Ma Yan dan keluarganya lewat doa-doa yang dihaturkan 
kepada Sang Pemilik Hidup. (*)<br />
<br />
*) Sidik Nugroho, Guru Sekolah Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo<br />


selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/resensi.php
dan silakan klik detail bukunya di 
http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=857


Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com

Kirim email ke