Hi Jenny,pasti udah lupa sama aku ya? Dulu (mungkin udah 3 tahun yg lalu) aku pernah mengontak kamu lewat e-mail maupun YM.
Dulu aku pernah cerita bahwa aku suka punya pendapat (tentang berbagai hal) yang berbeda dari opini kebanyakan orang. Contohnya ya soal 'perceraian' ini. Banyak orang menyayangkan terjadinya perceraian; banyak orang juga (termasuk ahli psikologi, pakar hubungan suami-istri, dll.) menganggap perceraian sesuatu yang keliru, tidak baik dan tidak dianjurkan. Sebaliknya, dari dulu banget, aku selalu melihat perceraian sebagai sesuatu yang positif. Perceraian adalah 'a brand new start', perceraian adalah 'hidup baru' (karena itu ada peluang yang lebih baik dan mungkin perlu dirayain); perceraian adalah kebebasan; perceraian adalah bukti bahwa seseorang punya keberanian untuk mengambil keputusan; perceraian bisa membawa banyak inspirasi baru..., dll., dll. Dan tentu saja perceraian adalah akhir dari sesuatu yang kelam dan tidak menyenangkan. Bagi anak-anak dari pasangan yang bercerai, aku juga yakin perceraian banyak positifnya. Salah satunya saja, anak-anak itu jadi tidak tersakiti lagi perasaannya melihat orang tuanya terus bertengkar (apalagi jika sampai pada kekerasan fisik). Karena itu, kalau ada teman yang cerita (sharing) tentang masalah keluarganya (dengan pasangannya), dengan baik hati saya selalu anjurkan untuk bercerai. "Ngapain lagi elu mesti memperpanjang penderitaan?!" Karena itu aku suka tidak setuju kalau ada pakar-pakar (termasuk ulama) yang terlihat berusaha keras untuk mendamaikan pasangan selebriti yang keluarganya tengah berada di ambang perceraian. Apa mereka tidak sadar bahwa mendamaikan pasangan-pasangan tersebut berarti memaksa pasangan-pasangan tersebut hidup dalam bom waktu yang siap meledak sewaktu-waktu. Aku yakin, lebih cepat bercerai akan lebih baik bagi siapa pun. (bayangin kalau dulu Maia dan Dhani berhasil didamaikan... Sampai sekarang mungkin mereka akan hidup bersama, tapi terus tersiksa. Bagaimana pula perasaan anak-anak mereka. Bayangkan juga kalau Tora Sudiro tidak jadi menceraikan istrinya karena ada orang yang berhasil mendamaikan... Betapa sakit perasaan istrinya melihat Tora akrab dengan banyak wanita). Karena itu, saya amat sangat tidak setuju dengan acara-acara info selebriti yang mengekspos berita tentang pasangan yang tengah berada di ambang perceraian, lalu pembawa acara berbicara soal "menyelamatkan pernikahan" dll. Apanya yang mesti diselamatkan sih? Apa tidak tahu dia/mereka kalau pernikahan itu tetap berjalan banyak pihak yang akan terzalimi teruuus... Salams, Toni --------------------- Posted by: "Jenny Jusuf" [email protected] <[email protected]?subject=+re%3aperceraian%20di%20mata%20saya> j3nnyjusuf <http://profiles.yahoo.com/j3nnyjusuf> Tue Oct 27, 2009 9:30 am (PDT) Teman-teman tersayang, Artikel berikut adalah tulisan yang belum lama ini saya publikasikan di blog pribadi saya, dan kini ingin saya bagi dengan kalian semua. Semoga mendatangkan manfaat. :-) Salam, - JJ - ------ Perceraian di Mata Saya Orang tua saya berpisah ketika saya berusia empat tahun. Penyebab dari perpisahan mereka, sejauh yang saya tahu, adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Ada yang mengatakan, seharusnya ibu melahirkan enam anak, namun akibat kekerasan yang terus dialaminya, janin yang sanggup bertahan di rahimnya hanya dua. Saya dan adik saya. Tidak lama setelah melahirkan adik saya, ibu lari dari rumah karena tidak tahan dengan kekerasan yang semakin menjadi-jadi. Beliau sempat terkapar di rumah sakit dengan sekujur tubuh lebam. Saya sendiri baru mengetahui peristiwa ini setelah beliau meninggal lima tahun silam. It remained a secret for more than 20 years. Setelah keluar dari rumah sakit, beliau membawa adik saya yang masih bayi dan pulang ke rumah orang tuanya. Beberapa tahun kemudian, saya menyusul dan tinggal bersama ibu.
