Hi Toni,

Masih inget dong. When I saw your name, I knew it was you. :-)

Dampak perceraian bagi setiap orang pastinya berbeda-beda. Tidak semua 
perceraian berujung baik juga, tidak jarang ada yang mengalami trauma cukup 
parah yang berlangsung hingga seumur hidup. Bagi saya, yang terpenting bukanlah 
cerai atau tidaknya, melainkan mengambil keputusan yang tepat dengan dilandasi 
kejernihan hati dan kejujuran.

Thanks for sharing your opinion. Senang bisa berdiskusi lagi. :-)


Salam,


JJ

ROCK Your Life!  - Jenny Jusuf -  http://jennyjusuf.blogspot.com

--- On Wed, 10/28/09, T O N I <[email protected]> wrote:

From: T O N I <[email protected]>
Subject: [cerkit] Re: Perceraian di Mata Saya
To: [email protected]
Date: Wednesday, October 28, 2009, 6:41 AM






 




    
                  Hi Jenny,pasti udah lupa sama aku ya?  Dulu (mungkin udah 3 
tahun yg lalu) aku pernah mengontak kamu lewat e-mail maupun YM.


Dulu aku pernah cerita bahwa aku suka punya pendapat (tentang berbagai hal) 
yang berbeda dari opini kebanyakan orang.  Contohnya ya soal 'perceraian' ini.

Banyak orang menyayangkan terjadinya perceraian; banyak orang juga (termasuk 
ahli psikologi, pakar hubungan suami-istri, dll.) menganggap perceraian sesuatu 
yang keliru, tidak baik dan tidak dianjurkan.  


Sebaliknya, dari dulu banget, aku selalu melihat perceraian sebagai sesuatu 
yang positif.  Perceraian adalah 'a brand new start', perceraian adalah 'hidup 
baru' (karena itu ada peluang yang lebih baik dan mungkin perlu dirayain); 
perceraian adalah kebebasan; perceraian adalah bukti bahwa seseorang punya 
keberanian untuk mengambil keputusan; perceraian bisa membawa banyak inspirasi 
baru..., dll., dll.  Dan tentu saja perceraian adalah akhir dari sesuatu yang 
kelam dan tidak menyenangkan.


Bagi anak-anak dari pasangan yang bercerai, aku juga yakin perceraian banyak 
positifnya.  Salah satunya saja, anak-anak itu jadi tidak tersakiti lagi 
perasaannya melihat orang tuanya terus bertengkar (apalagi jika sampai pada 
kekerasan fisik).


Karena itu, kalau ada teman yang cerita (sharing) tentang masalah keluarganya 
(dengan pasangannya) , dengan baik hati saya selalu anjurkan untuk bercerai.  
"Ngapain lagi elu mesti memperpanjang penderitaan? !"


Karena itu aku suka tidak setuju kalau ada pakar-pakar (termasuk ulama) yang 
terlihat berusaha keras untuk mendamaikan pasangan selebriti yang keluarganya 
tengah berada di ambang perceraian.  Apa mereka tidak sadar bahwa mendamaikan 
pasangan-pasangan tersebut berarti memaksa pasangan-pasangan tersebut hidup 
dalam bom waktu yang siap meledak sewaktu-waktu.  Aku yakin, lebih cepat 
bercerai akan lebih baik bagi siapa pun.  (bayangin kalau dulu Maia dan Dhani 
berhasil didamaikan.. .  Sampai sekarang mungkin mereka akan hidup bersama, 
tapi terus tersiksa.  Bagaimana pula perasaan anak-anak mereka.  Bayangkan juga 
kalau Tora Sudiro tidak jadi menceraikan istrinya karena ada orang yang 
berhasil mendamaikan. ..  Betapa sakit perasaan istrinya melihat Tora akrab 
dengan banyak wanita).


Karena itu, saya amat sangat tidak setuju dengan acara-acara info selebriti 
yang mengekspos berita tentang pasangan yang tengah berada di ambang 
perceraian, lalu pembawa acara berbicara soal "menyelamatkan pernikahan" dll.   
Apanya yang mesti diselamatkan sih?  Apa tidak tahu dia/mereka kalau pernikahan 
itu tetap berjalan banyak pihak yang akan terzalimi teruuus...


Salams,
Toni

------------ ---------

Posted by:      "Jenny Jusuf"      
      j3nnyju...@yahoo. com      
               
        
          j3nnyjusuf 
        
          
    
      Tue Oct 27, 2009 9:30 am        (PDT)    

    
                  


      Teman-teman tersayang,



Artikel berikut adalah tulisan yang belum lama ini saya publikasikan di
blog pribadi saya, dan kini ingin saya bagi dengan kalian semua. Semoga
mendatangkan manfaat. :-)



Salam,



- JJ -



------



Perceraian di Mata Saya



Orang tua saya berpisah ketika saya berusia empat tahun. Penyebab dari

perpisahan mereka, sejauh yang saya tahu, adalah Kekerasan Dalam Rumah

Tangga (KDRT). Ada yang mengatakan, seharusnya ibu melahirkan enam

anak, namun akibat kekerasan yang terus dialaminya, janin yang sanggup

bertahan di rahimnya hanya dua. Saya dan adik saya.



Tidak lama

setelah melahirkan adik saya, ibu lari dari rumah karena tidak tahan

dengan kekerasan yang semakin menjadi-jadi. Beliau sempat terkapar di

rumah sakit dengan sekujur tubuh lebam. Saya sendiri baru mengetahui

peristiwa ini setelah beliau meninggal lima tahun silam. It remained a secret 
for more than 20 years.

Setelah keluar dari rumah sakit, beliau membawa adik saya yang masih

bayi dan pulang ke rumah orang tuanya. Beberapa tahun kemudian, saya

menyusul dan tinggal bersama ibu.

 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke