<div>Jawa Pos, Minggu, 18 Oktober 2009</div><div><br></div><div>NEGERI 5 
MENARA, novel karya A. Fuadi ini memperlihatkan betapa dominannya parameter 
non-artistik dalam menentukan kualitas dan kedalaman sebuah karya sastra. 
Sampul belakang buku itu sarat dengan endorsement yang ditulis oleh nama-nama 
beken, mulai mantan presiden, sutradara tersohor, gubernur, budayawan, 
intelektual, hingga pimpinan pesantren. Hampir semua komentar itu menyingkapkan 
segi-segi etik dan didaktik dari novel setebal 416 halaman tersebut. Tak ada 
satu pun ulasan dari sudut pandang estetika sastrawi. Apakah segi-segi estetik 
dan artistik yang sepatutnya menjadi kriteria utama dalam menimbang sebuah 
karya sastra tidak lagi penting? </div><div><br></div><div>Berkisah tentang 
upaya keras enam orang santri di sebuah pondok pesantren dalam menggapai obsesi 
dan cita-cita besar mereka. Setelah menghadapi kegiatan belajar-mengajar yang 
sedemikian padat dan aturan-aturan kedisiplinan ekstraketat di Pondok Madani 
(PM), Alif (Padang), Atang (Bandung), Raja (Medan), Dulmajid (Sumenep), Said 
(Mojokerto), dan Baso (Gowa) bersembunyi di bawah menara masjid PM, membangun 
mimpi-mimpi masa depan dengan mantra ampuh yang sama-sama mereka percayai; man 
jadda wajada (siapa yang bersungguh pasti akan 
sukses). </div><div><br></div><div>Alif tidak pernah mengira bahwa dirinya akan 
jadi santri PM yang disebut-sebut telah mencetak banyak ulama dan intelektual 
muslim itu. Sebab, sejak kecil dia ingin menjadi ''''Habibie''''. Baginya, 
Habibie tidak dalam arti seorang teknokrat genius, tapi sebuah profesi sendiri 
lantaran dia sangat kagum pada tokoh itu. Itu sebabnya, Alif ingin masuk SMA 
dan kelak melanjutkan pendidikan di ITB, sebagaimana riwayat perjalanan 
intelektual Habibie. Namun, ibunda Alif menginginkan anaknya mewarisi keulamaan 
Buya Hamka, ulama kondang yang lahir dan besar tidak jauh dari Bayur, tanah 
kelahiran Alif. Maka, dalam kebimbangan, Alif menerima tawaran itu sehingga dia 
bertemu dengan santri-santri berkemauan keras seperti Baso yang mati-matian 
menghafal 30 juz Quran sebagai syarat guna menggapai impiannya bersekolah di 
Madinah. Begitu juga Raja, Dulmajid, Said, dan 
Atang. </div><div><br></div><div>Hanya beberapa bulan waktu berbicara dengan 
bahasa Indonesia bagi santri-santri baru di PM, setelah itu mereka wajib 
berbicara dalam bahasa Arab atau bahasa Inggris. Bila aturan dilanggar, 
ganjarannya tidak main-main. Bila tidak digunduli, sekurang-kurangnya bakal 
dapat jeweran berantai. Bahkan, bila pelanggarannya berat, santri bisa 
dipulangkan. Saking kerasnya kemauan para sahibul-menara untuk menguasai 
percakapan dalam dua bahasa asing tersebut, igauan dalam tidur mereka pun 
terungkap dalam bahasa Arab. </div><div><br></div><div>Dengan deskripsi ruang 
yang nyaris sempurna, A. Fuadi berhasil memetakan seluk-beluk dunia pesantren 
modern yang selama ini hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut. Pahit dan 
getir, riang dan gamang kaum santri dengan humor khas pesantren ditandaskan 
dengan modus pengisahan yang menakjubkan. Tengoklah pelbagai alasan yang 
sengaja dirancang sahibul-menara agar mereka beroleh izin keluar PM, bersepeda 
mengelilingi Kota Ponorogo, dan tak lupa melintas di pintu gerbang pesantren 
putri, sekadar ''''nampang''''. </div><div><br></div><div>Begitu pula siasat 
Dulmajid yang memengaruhi ustad Torik agar beroleh izin nonton bareng 
per­tandingan final bulu tangkis di lingkungan PM, padahal qanun (aturan 
pondok) menegaskan, santri PM dilarang menonton TV. ''''Ustad, lob antum itu 
mirip sekali dengan punya Icuk dan smes antum mirip Liem Swie King. Kalau nggak 
percaya, kita tonton siaran langsung besok 
malam.'''' </div><div><br></div><div>Ustad Torik langsung takluk dan terjadilah 
peristiwa bersejarah itu: TV masuk PM. Lewat satirisme khas kaum santri itulah, 
segi-segi estetik novel tersebut dapat ditandai hingga martabat kenovelannya 
tidak semata-mata ditakar dengan nilai didaktik dan etik saja. Bukankah jalan 
sastra adalah ikhtiar merancang sebuah alegori dari pelbagai realitas faktual 
yang menjadi panggilan penciptaan pengarangnya? Maka, kerja pemaknaan terhadap 
teks novel tak segampang sebagaimana yang dilakukan para komentator novel 
tersebut. Bahwa kemudian ditemukan tendensi-tendensi didaktik, itu kenyataan 
yang tak bisa dielakkan karena setiap pembaca berhak menafsirkannya sesuai 
dengan kepentingan masing-masing. </div><div><br></div><div>Tak dimungkiri 
bahwa di balik kisah yang digarap A. Fuadi dalam buku ini, ada pengalaman 
empiris, katakanlah semacam fakta-fakta keras semasa pengarang mondok di Gontor 
yang menjadi muasal pengisahannya. Tapi, dalam kerja kepengarangan, fakta-fakta 
keras itu digiling sehalus-halusnya oleh imajinasi sehingga tidak bisa lagi 
dilihat dengan kacamata hitam-putih, tidak bisa diukur secara positivistik. 
''''Imajinasi'''' di sini bukan dalam pemahaman yang menyehari. Filsuf Arab 
Al-Farabi (850-950) dalam kitabnya, Ara'' Ahl Madinah Wa Al-Fadhilah, 
menyebutnya quwwatul muttakhilah, semacam potensi dalam subjek, yang berpijak 
pada pengalaman empiris dan penalaran (reasoning), sehingga ia sangat berbeda 
dengan ''''fantasi'''' -yang tidak perlu berangkat dari pengalaman indrawi, 
apalagi penalaran. Dalam epistemologi Al-Farabi, ''''imajinasi'''' dalam 
batas-batas tertentu bahkan dapat melampaui pencapaian akal-bu­di dan 
pengalaman empiris itu sendiri.</div><div><br></div><div>Maka, dunia imajiner 
dalam Negeri 5 Menara bukan lagi semata-mata dunia A. Fuadi dan 
sejawat-sejawatnya semasa di Gontor. Kisah yang disudahi pengarang dengan reuni 
bersejarah di Trafalgar Square, London, -setelah 15 tahun masa-masa sulit di PM 
berlalu- telah terdedahkan sebagai ruang fiksional dengan segenap kemungkinan 
tak terduga yang menyertainya. Bukankah Alif (Washington DC), Atang (Kairo), 
dan Raja (London) yang bertemu pada sebuah konferensi di London tidak pernah 
terbayangkan sebelumnya? Mereka tak pernah menyangka para sahibul-menara bakal 
menggenggam impian masing-masing. Yang mereka tahu hanya man jadda wajada, 
siapa bersungguh-sungguh, bakal sukses. 
(*)</div><div><br></div><div><strong>Damhuri Muhammad</strong>, Cerpenis, 
bermukim di pinggiran Jakarta</div>

selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/resensi.php
dan silakan klik detail bukunya di 
http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=3833


Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com


------------------------------------

     || cerkit ||

arsip : www.gmail.com
login : cerita.kita
pwd   : ramebangetYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke