<div>Jawa Pos, Minggu, 18 Oktober 2009</div><div><br></div><div>ENERGI menjadi 
sesuatu yang sangat vital. Semua aspek kehidupan di muka bumi memerlukan 
energi. Karena itu, energi menentukan survival, pertumbuhan, tata kehidupan, 
ekonomi, sosial, politik, lingkungan, dan negara. Semua negara berlomba 
mendapatkan sumber energi dengan segala cara. </div><div><br></div><div>Tak 
heran kalau sejumlah konflik di dunia terkait dengan masalah energi. Peta 
geopolitik sangat dipengaruhi oleh perebutan sumber dan pasokan energi. Mulai 
Aceh, Papua, Amerika Selatan, Timur Tengah, Georgia, Afghanistan, hingga 
kawasan Asia Tengah. </div><div><br></div><div>Tata ekonomi global juga 
digerakkan oleh energi. Krisis ekonomi global yang terjadi belakangan ini pun 
diakibatkan oleh melonjaknya harga minyak dunia. Seiring melonjaknya jumlah 
penduduk dunia yang lebih 6 miliar, kebutuhan akan energi semakin besar. 
Sayang, wa­rga dunia sangat bergantung pada energi fosil yang tidak terbarukan. 
Dengan demikian, pasokan energi di seluruh negara tidak mampu memenuhi 
kebutuhan seluruh penduduk bumi. </div><div><br></div><div>Kondisi itu 
diperparah dengan kebiasaan masyarakat dunia yang sangat boros dalam penggunaan 
energi. Ditambah lagi kerusakan lingkungan yang diakibatkan ulah manusia 
sendiri. Kesadaran akan hal itu baru muncul belakangan, setelah negara maju dan 
berkembang mulai mau duduk bersama untuk menjalin kerja sama dalam penyelamatan 
dan konservasi energi. Kebijakan energi mulai didasarkan pada perdamaian, 
keadilan, tata tertib dunia, dan pelestarian 
lingkungan.</div><div><br></div><div>Muncullah strategi energi seperti clean 
development mechanism (CDM) dari Kyoto Protocol yang merupakan strategi 
mengurangi emisi karbon di negara maju untuk mengurangi dampaknya terhadap 
pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change). 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono termasuk salah seorang pemimpin dunia yang 
concern dalam isu global warming dan climate change 
tersebut.</div><div><br></div><div>Kebijakan Energi di 
Dunia </div><div><br></div><div>Negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa, 
tampaknya, lebih maju dalam membuat kesepakatan soal energi, yakni dengan 
terbitnya proposal Energy for a Changing World. Salah satu skenarionya adalah 
membangun tatanan ekonomi karbon rendah (low-carbon economy). Biasa juga 
disebut post-industrial revolution.</div><div><br></div><div>Uni Eropa juga 
menargetkan pengurangan minimal 20 persen emisi karbon dari semua sumber energi 
primer pada 2020 dan 50 persen pada 2050. Juga, pasang target pada 2020 telah 
menggunakan biofuel minimal 10 persen. </div><div><br></div><div>Rusia juga 
memiliki kebijakan energi jangka panjang. Ada dua saran utama dari strategi 
kebijakan energi Rusia hingga 2020. Yakni, kepastian tentang langkah-langkah 
untuk menghasilkan bahan bakar berkualitas dan kompleks 
energi. </div><div><br></div><div>Saat ini Rusia termasuk negara superpower 
energy. Cadangan gas alam Rusia terbesar di dunia yang dikelola oleh Gazprom 
secara monopoli. Produksi gas alam Rusia terbesar di dunia, mencapai 21,8 
persen di antara total produksi dunia. </div><div><br></div><div>Rusia pun 
menjadi produsen listrik terbesar ke-4 di dunia setelah Amerika Serikat, RRT, 
dan Jepang. </div><div><br></div><div>Bagaimana kebijakan energi AS? Sumber 
energi AS mayoritas dari bahan bakar fosil. Hingga 2005, diperkirakan 40 persen 
sumber energi AS berasal dari minyak. Selain itu dari batu bara (23 persen) dan 
gas (23 persen). Sisanya dipasok dari nuklir, listrik tenaga air, dan sumber 
energi yang dapat diperbarui.</div><div><br></div><div>AS mengonsumsi 20,8 juta 
barel minyak per hari dan 9 juta barel gas per hari. Paling banyak digunakan 
untuk kendaraan bermotor (40 persen). Saat ini AS memiliki cadangan minyak 
sekitar 22 miliar barel dengan tingkat konsumsi minyak 7,6 miliar barel per 
tahun. Sebagai ne­gara net importer sejak 1941, perekonomian AS sangat 
dipengaruhi oleh harga minyak dunia. </div><div><br></div><div>Selain itu, AS 
mengembangkan tenaga nuklir. Di negara tersebut, terdapat 104 unit pembangkit 
nuklir komersial yang menghasilkan 97.400 megawatt listrik atau 20 persen dari 
konsumsi listrik AS. Saat ini AS merupakan negara pemasok tenaga nuklir 
komersial terbesar di dunia. </div><div><br></div><div>Dalam pengembangan 
energi terbarukan, pemerintah AS sangat serius. Saat ini AS menghasilkan 300 
ribu MW listrik dari tenaga air. Tenaga angin juga maju pesat. Pada 2007, 
ka­pasitas wind power AS mencapai 11.600 MW dan bisa melayani kebutuhan listrik 
bagi 3 juta rumah tangga. </div><div><br></div><div>Energi memang menjadi 
masalah besar bagi negara-negara dengan penduduk besar. Republik Rakyat 
Tiongkok (RRT) pada 1993 mengumumkan diri sebagai negara net importer. Dengan 
penduduk sekitar 1,3 miliar jiwa, dibutuhkan minyak 7 juta barel per hari. 
Tidak ada pilihan lain bagi RRT selain memberlakukan kebijakan energi yang 
ketat kepada warganya. </div><div><br></div><div>Sejak 2007, RRT dinobatkan 
sebagai negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia, menyalip AS. Karena 
itu, RRT segera merilis National Action Plan on Climate Change. Negara tersebut 
bertekad mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 1,5 miliar ton pada 
2010. </div><div><br></div><div>Sumber energi terbarukan berkembang pesat di 
Tiongkok. Sejak 2006, sekitar 16 juta ton jagung dipakai RRT untuk menghasilkan 
etanol. PetroChina dan pemerintah RRT mencanangkan penanaman pohon jarak seluas 
400 km persegi untuk produksi biofuel.</div><div><br></div><div>RRT juga 
menjadi negara penghasil tenaga surya terbesar di dunia. Total sudah ada 30 
juta rumah yang menggunakan pemanas air dengan tenaga surya. Demikian halnya 
tenaga angin, pemerintah RRT bertekad meningkatkan kapasitas tenaga angin 
menjadi 30 juta KW pada 2020. </div><div><br></div><div>Bagaimana kondisi 
energi Indonesia saat ini? Presiden SBY sejak empat tahun lalu sudah menyatakan 
bahwa akan terjadi krisis hebat di sektor energi jika masyarakat tidak 
melakukan efisiensi penggunaan energi dan BBM. Sebab, cadangan minyak Indonesia 
diperkirakan tinggal 18 tahun lagi. Sedangkan cadangan gas tinggal 16 tahun. 
Sementara itu, cadangan batu bara tinggal 100 tahun. Itu perkiraan yang 
disampaikan SBY pada 25 Oktober 2005. Tapi, itu dengan asumsi tidak ada 
eksplorasi baru.</div><div><br></div><div>Dengan kondisi energi seperti itu, 
Indonesia tidak lagi menjadi negara pengekspor minyak, tetapi sudah menjadi net 
importer. Saat ini Indonesia membutuhkan impor minyak mentah dari sepuluh 
negara sebesar 500 ribu barel per hari. Dengan harga BBM USD 60 per barel, 
dibutuhkan anggaran sedikitnya USD 30 juta per hari atau Rp 300 miliar per hari 
(USD 1 = Rp 10 ribu). Tidak terbayang saat harga minyak mentah dunia melebihi 
USD 100 per barel.</div><div><br></div><div>Berbagai program pengembangan 
energi terbarukan sudah dikembangkan. Presiden SBY bebe­rapa kali mencanangkan 
penanaman pohon, pengembangan biofuel, dan mendorong penciptaan energi 
terbarukan lainnya. Dibutuhkan komitmen dan kerja keras dari seluruh komponen 
masyarakat untuk mewujudkan kemandirian energi di 
Indonesia.</div><div><br></div><div>Buku ini sangat penting untuk memahami 
betapa energi menjadi isu utama negara-negara di dunia. Apa pun dilakukan 
sebuah negara untuk mendapatkan energi. Itu menunjukkan bahwa energi sudah 
menjadi ideologi baru di dunia. Setidaknya buku ini membuat kita tersadar 
pentingnya pengelolaan energi secara bijak. Kita bisa belajar dari 
negara-negara di dunia dalam memilih strategi energi. 
(*)</div><div><br></div><div>Tomy C. Gutomo, Wartawan Jawa Pos </div>

selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/resensi.php
dan silakan klik detail bukunya di 
http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=4350


Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com


------------------------------------

     || cerkit ||

arsip : www.gmail.com
login : cerita.kita
pwd   : ramebangetYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke