Memperbincangkan Sejarah Sastra Indonesia
(Periode Balai Pustaka s.d Angkatan 45)
Sumber: 
http://flpdepok.blogspot.com/2010/03/memperbincangkan-sejarah-sastra.html

Membicarakan
sejarah sastra Indonesia tentu tak bisa menafikan peran Balai Pustaka.
Meski periodisasi sastra yang menempatkan kelahiran Balai Pustaka
sebagai awal lahirnya sastra Indonesia modern belakangan banyak
digugat, tak ada yang berdebat mengenai peran penting Balai Pustaka
dalam menumbuhkembangkan kesusastraan Indonesia.

Pendirian Balai Pustaka atau Kantor Bacaan Rakyat (Kantoor voor de 
volkslectuur) 22 September 1917 yang menggantikan Komisi Bacaan Sekolah Pribumi 
dan Bacaan Rakyat (Commissie voor de Indlandsche schook en Volkslectuur)
yang berdiri tahun 1908, bukan sekadar sebagai realisasi politik etis
Belanda. Sutan Takdir Alisjahbana yang pernah menjadi redaktur penerbit
Balai Pustaka menyatakan:

Balai
Pustaka didirikan untuk memberi bacaan kepada orang-orang yang sudah
pandai membaca, yang tamat sekolah rendah dan yang lain-lain, disamping
untuk memberikan bacaan yang membimbing mereka supaya jangan terlampau
tertarik pada aliran-aliran sosialisme atau nasionalisme yang lambat
laun toh agak menentang pihak Belanda.1)

Terlepas dari
persoalan politik yang melatarbelakanginya, pemerintah kolonial ketika
itu menyadari betul fungsi bacaan, khususnya sastra, dalam penyebaran
ideologi kepada masyarakat. Oleh sebab itu, mereka melakukan sensor
yang ketat terhadap naskah-naskah yang hendak mereka terbitkan. Meski
demikian, karya-karya yang lahir ketika itu tetap memperlihatkan
kecendrungan semangat pemberontakan terhadap kultur-etnis.

Beberapa karya penting yang lahir dalam periode ini adalah Azab dan Sengsara
karya Merari Siregar yang oleh pengamat sastra ditempatkan sebagai
novel pertama Indonesia dalam khazanah kesusatraan Indonesia modern.
Walaupun tema yang mempermasalahkan perkawinan dalam hubungannya dengan
harkat dan martabat yang diusung oleh novel ini bukanlah sesuatu yang
baru, novel inilah yang pertama kali mempergunakan bahasa Melayu tinggi
atau yang biasa disebut bahasa Melayu sekolahan. Dalam konteks inilah Azab dan 
Sengsara menjadi penting.

Karya lainnya yang tak kalah penting adalah Sitti Nurbaya
karya Marah Rusli. Hampir semua kritikus sastra Indonesia menempatkan
novel ini sebagai tonggak sastra Indonesia pada periode ini. Novel ini
tak sekadar menampilkan latar sosial yang lebih tegas, tetapi juga
mengandung kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang
membelenggu. Tema-teman inilah yang kemudian banyak diikuti oleh
pengarang-pengarang lainnya pada masa itu. Bahkan di Malaysia, Sitti Nurbaya
menjadi bacaan wajib di tingkat sekolah lanjutan sehingga pada tahun
1963 saja, novel ini telah mengalami cetak ulang ke-11 di Malaysia.
Maka tak salah jika pada tahun 1963 bersama dengan novel Salah Asuhan,
Belenggu, dan Atheis, novel ini memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintah.

Pengarang lain pada era ini yang wajib diketengahkan adalah Abdul Muis dengan 
Salah Asuhan-nya.
Novel pertama karya sastrawan yang digelari pahlawan nasional ini
secara tematik tak mempersoalkan masalah adat-istiadat yang tidak lagi
sejalan dengan zamannya, tetapi lebih dari itu, ia mengangkat persoalan
kawin campur antarbangsa yang menyangkut perbedaan adat-istiadat,
tradisi, agama, dan budaya. Boleh dikatakan, Salah Asuhan
merupakan upaya pembaharuan secara tematik pada periode 20-an yang akan
menemukan bentuknya pada era setelahnya, yaitu Pujangga Baru.

Majalah
Pujangga Baru yang dirintis oleh Sutan Takdir Alisjahbana (selanjutnya
disebut STA), Sanusi Pane, Armijn Pane, dan Amir Hamzah berdiri tahun
1933. Melalui majalah inilah para pengarang dari pelosok tanah air dan
Semenanjung Melayu mempublikasikan karyanya. Begitu populernya majalah
ini sehingga para pengarang yang berkarya pada ketika itu disebut
sebagai sastrawan Pujanga Baru. Pada periode ini, karya-karya yang
lahir memperlihatkan semangat membangun kultur Indonesia di masa datang
yang diidealkan.

Pengarang penting yang patut dikemukakan pada era ini tentu saja STA dengan 
karyanya Layar Terkembang
yang dianggap sebagai karya terpenting ketiga di antara roman-roman
sebelum perang. Para kritikus sastra seperti H.B. Jassin, Ajib Rosidi,
Zuber Usman, Amal Hamzah, dan A. Teeuw menyebut novel ini sebagai novel
bertendensi. Tokoh Tuti dalam novel ini merupakan representasi sikap
dan pemikiran pengarangnya dalam mengangkat harkat martabat wanita
Indonesia.

Dalam periode 30-an ini lahir pula nama Hamka yang
bersama Helmi Yunan Nasution mengelola majalah Pedoman Masjarakat. Dari
majalah ini lahir karya penting dari tangan Hamka, yaitu Tenggelamnya Kapal Van 
Der Wijk.
Meski secara tematik novel ini masih belum beranjak dari persoalan
cinta dan perkawinan dalam hubungannya dengan adat, tetapi Hamka
tampaknya tak hendak mempertentangkan secara tegas golongan muda dengan
golongan tua, ia lebih menekankan pada pribadi manusianya itu sendiri.
Namun, justru dalam pengembangan masalah adat itulah, problematika
dalam novel ini menjadi sangat terasa.

Nama lain yang layak
disebut dalam periode 30-an ini adalah Selasih (nama samara lain;
Sariamin = Seleguri = Sri Gunting = Sri Tanjung = Ibu Sejati = Bundo
Kandung = Mande Rubiah). Novelnya Kalau Tak Untung mengantarkannya sebagai 
pujangga wanita Indonesia yang pertama. Dalam kaitannya dengan hal inilah Kalau 
tak Untung
menjadi karya yang sangat penting, meski secara tematik masih
menampilkan persoalan yang sama dengan pengarang-pengarang periode
20-an.

Nama Sanusi Pane sebagai antipode STA tentu tak bisa
begitu saja diluputkan, selain Amir Hamzah yang disebut sebagai
pembaharu puisi di era ini. Namun yang patut dicatat dari periode
Pujangga Baru adalah pada kurun inilah pertama kali kebudayaan
Indonesia dirumuskan melalui polemik antara STA dengan Sanusi Pane,
Purbatjaraka, Ki Hajar Dewantara, dll, yang dikenal dengan Polemik
Kebudayaan. Meski banyak yang menyetujui pemikiran Sanusi Pene dengan
gagasan penyatuan Arjuna dengan Faust yang menghasilkan sintesa Timur
dan Barat, tetapi tak pernah terlontar kata sepakat yang melahirkan
pernyataan bersama dalam rumusan kebudayaan Indonesia di masa datang.

Persoalan
Polemik Kebudayaan ini baru terselesaikan ketika Chairil Anwar, Asrul
Sani, dan Rivai Apin memelopori “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Kalimat
pertamanya yang berbunyi: “Kami adalah ahli waris yang sah dari
kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami
sendiri,” mengisyaratkan terbukanya angkatan ini menerima pengaruh
asing dan kemudian merumuskannya sendiri berdasarkan keberagaman kultur
keindonesiaan. “Surat Kepercayaan Gelanggang” inilah yang kemudian
menjadi konsepsi seni dan budaya bagi generasi yang dikenal dengan
Angkatan 45.

Karya penting yang lahir sebagai wujud dari pernyataan bersama tersebut adalah 
Tiga Menguak Takdir. Buku ini memuat puisi-puisi karya Chairil Anwar, Asur 
Sani, dan Rivai Apin. Secara implisit, judul Tiga Menguak Takdir
seolah hendak menegaskan sikap generasi ini yang dapat dipandang
sebagai jawaban dari Polemik Kebudayaan yang muncul karena gagasan
Sutan Takdir Alisjahbana.

Nama lain yang tak bisa dinafikan dari
peta sastra ANgkatan 45 adalh drus. Jika Chairil disebut sebagai
pembaharu puisi pada periode ini, Idrus disebut-sebut oleh H.B. Jassin
sebagai pembaharu prosa melalui cerpen-cerpennya yang terkumpul dalam
buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Wacana eksistensialisme menemui 
ruangnya pada periode ini. Puncaknya tentu saja lahirnya cerpen Atheis dari 
tangan Achdiat K. Mihardja yang seolah menjadi jawaban dari kegelisahan manusia 
yang hidup pada masa itu.

Jika
menilik perjalanan kepengarangan para sastrawan sejak dari angkatan
Balai Pustaka sampai Angkatan 45, hampir kebanyakan pengarang pada masa
itu tumbuh dalam kultur membaca yang muncul akibat sistem pendidikan
kolonial ketika itu yang mewajibkan siswanya membaca karya sastra
minimal 25 judul dalam rentang masa pendidikan selama tiga tahun di AMS.

Kondisi
itulah yang memungkankan para pengarang ketika itu berkenalan dengan
karya-karya sastrawan dunia seperti Shakespeare (Inggris), Johan
Wolfgang von Goethe (Jerman), Leo Tolstoy (Rusia), Rabindranath Tagore
(India), Baidaba (Persia), dll. Dan dari perkenalan dengan sastrawan
dunia itulah terjadi tranformasi nilai-nilai yang secara otomatis
membentuk karakter bangsa ketika itu.

Demikianlah perbincangan
sejarah sastra yang serba sedikit dan terbatas hanya pada periode Balai
Pustaka sampai Angkatan 45. Tulisan ini tak dimaksudkan untuk merangkum
periode tersebut yang berlangsung dalam rentang yang cukup panjang,
hanya sebuah catatan dari penyuka sastra yang hendak menengok masa
lalu. Semoga bermanfaat.

Salam,
Denny Prabowo
http://penulis-freelance.blogspot.com/

Catatan:
1)
Sutan Takdir Alisjahbana, “Perjuangan Budaya dan Pengalaman Pribadi
Selama di Balai Pustaka” dalam Bunga Rampai Kenangan pada Balai
Pustaka, Jakarta 1992, h. 20
2) Mahayana, Maman S. 9 jawaban sastra Indonesia. Jakarta: Bening Publishing 
2005, h. 394




      

Kirim email ke