RADAR SORONG
Rabu  28  Maret 2007

Stop Tanya "Bapak Kerja Dimana ?

*SORONG- Untuk apa sebenarnya dana Otsus (Otonomi Khusus) dikucurkan 
pemerintah. Selama ini yang selalu didengung-dengungkan bahwa dana Otsus 
diberikan untuk mengangkat harkat dan martabat orang Papua agar hidupnya bisa 
lebih baik, tidak lagi terkungkung dalam keterbelakangan.

Namun apa yang terjadi bahwa selama ini , masih banyak orang Papua yang harus 
bersusah payah memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya,seperti memenuhi pakaian 
seragam anaknya, membayar uang sekolah dan kebutuhan lainnya. Dibidang 
kesehatan, masih banyak orang Papua yang terseok-seok menebus obat resep dokter 
karena harganya yang begitu mahal.

Belum lagi dalam hal pelayanan yang kerap masih membedakan status sosial 
khususnya pada orang Papua. "Setiap masyarakat yang datang ke rumah sakit, 
jangan ada kalimat tanya "bapak kerja dimana?. Selama ini banyak masyarakat 
khususnya orang Papua dilihat dengan sebelah mata. Mereka selalu tanya "bapak 
kerja dimana?". Kalau mereka lihat itu orang Papua tidak punya jabatan ya siap 
tunggu mati saja,"tutur Ny Mien Baransano dalam diskusi evaluasi dana Otsus di 
lingkungan Pemkot yang digelar di Aula Samu Siret kemarin.

Mengutarakan pengalamannya, Mien Baransano mengungkapkan kalau di salah satu 
rumah sakit, cucunya pernah mendapatkan perlakuan tidak bersahabat, yakni 
diusir dari ruangan hanya karena berobat dengan menggunakan kartu Askes. "Cucu 
saya disuruh keluar dan tinggal di ruangan yang betul-betul tidak memenuhi 
syarat,"tandasnya.

"Dengan dana Otsus ini kami berharap bahwa harkat dan martabat orang Papua 
melalui UU Otsus No 21 tahun betul-betul diangkat sama dengan masyarakat non 
Papua,"imbuhnya.

Dengan menghadirkan tim teknis dari Universitas Cenderawasih (UNCEN) Jayapura 
yang dipimpin Drs Herman Kareth, MSi, kegiatan evaluasi dana Otsus ini 
difasilitasi oleh Bappeda Kota Sorong. Dalam diskusi yang turut dihadiri Kepala 
Bappeda Drs Yohanes Nauw dengan moderator Abubakar Gusti, cukup banyak 
tanggapan yang dilontarkan.

Sebelumnya, dua instansi yakni Dinas P dan P Kota serta Dinas Kesehatan Kota 
Sorong memaparkan dana Otsus yang diterima serta penggunaannya selama tahun 
2002-2006.

Lebih jauh tentang dan Otsus ini, Julian Kelly Kambu,ST menyoroti tidak adanya 
singkronisasi antara pemerintah pusat dengan daerah. Bahwa selama ini program 
yang dibuat Pemda dengan dana yang dikucurkan tidak tepat waktu. Kadang dana 
itu turun 1 tahun, programnya sudah selesai baru dananya kucur tahun berikutnya.

Selain itu setelah 6 tahun Otsus digulirkan, sampai saat ini belum ada acuan 
yang dijadikan sebagai standar dalam penggunaan dana Otsus.Kondisi inilah yang 
membuat penggunaan dana Otsus dikembalikan ke daerah sesuai kebijakan kepala 
daerah. "Harus ada standart, kalau ada peraturan tentang pengelolaan keuangan 
daerah, maka Otsus itu juga harus ada peraturan pengelolaan keuangan dana 
Otsus. Tidak tahu, apa tugas DPRD di Jayapura sana, Perdasi dan Perdasus sampai 
saat ini saja belum ada,"ujar Kelly Kambu.

Dalam pandangannya, dikatakan, setelah 25 tahun, pemerintah tidak akan mungkin 
memberikan dana Otsus lagi. Sehingga harus dipikirkan bagaimana dana Otsus itu 
diinvestasikan atau dihibahkan kembali. "Jika orang menanam jagung bisa beli 
jagung maka kita juga harus berpikir bagaimana kita menanam uang. Kita hibahkan 
dalam kurun waktu tertentu. Ini juga dijamin dalam UU, baik dalam Permendagri 
tentang peraturan otonomi daerah maupun Permendagri No 13, itu semua ada dana 
hibah,"tandasnya.

Dalam hal ini dana Otsus dihibahkan misalnya dengan membiayai generasi Papua 
yang akan melanjutkan pendidikannya baik untuk sarjana S1 maupun S2 di dalam 
dan luar negeri. "Jadi kita tanam uang, kita juga akan petik uang dalam kurun 
waktu tertentu. DPRD sudah waktunya untuk mempercepat membuat Perdasi dan 
Perdasus. Ini harus ada dulu sehingga para pengambil kebijakan di daerah dapat 
menjadikannya sebagai pedoman,"tandasnya.

Ia juga berharap dalam penggunaannya, porsi terbesar dalam penggunaan dana 
Otsus adalah untuk pendidikan dan kesehatan. "Dana Otsus itu dia punya jalan 
cerita sendiri, bagaimana setelah 25 tahun nanti tidak lagi menimbulkan sakit 
hati, kekecewaan, duka cita di hati orang Papua. Ada apa lagi setelah 25 
tahun,"imbuhnya.

Dalam evaluasi penggunaan dana Otsus yang dibuka oleh Penjabat Walikota Drs 
Rahimin Katjong,MEd, Kepala Dinas P dan P Kota Sorong Dra Hermin Matandung 
tampil pertama merincikan dana Otsus yang diterima sejak tahun 2002-2006. 
Secara garis besar disebutkan satu persatu. Seperti pada tahun 2002 dana Otsus 
yang diterima sekitar Rp 3 Miliar lebih dengan sasaran kegiatan non konstruksi 
seperti pembebasan SPP, biaya operasional sekolah, bantuan pakaian seragam, 
bantuan ujian sekolah (EBTA).

Untuk Dinas P dan P, total dana Otsus yang diterima sejak 2002-2006 sekitar Rp 
17 Miliar lebih. Meski dana Otsus bidang pendidikan telah dikucurkan dengan 
nilai berbunyi miliaran rupiah, Elimas Bosawer mewakili kalangan LSM 
mengungkapkan masih adanya pungutan di sekolah yang dibebankan kepada siswa.

"SPP memang sudah tidak ada, tapi pungutan lain malah lebih besar dari SPP. 
Jadi di sini pengawasan lanjutan dari dana Otsus itu sangat diperlukan,"ujarnya 
yang menekankan perlunya sensus penduduk asli orang Papua dalam mendukung 
penggunaan dana Otsus Papua.

Sementara dibidang kesehatan, masyarakat Papua masih menghadapi kesulitan 
berobat karena tingginya harga obat yang harus dibayarkan. Dalam hal ini, Ia 
pun minta jaringan mata rantai antara pihak farmasi, dokter dan apotik yang 
ditunjuk selama ini terbilang rapih hendaknya diputuskan.

"Masyarakat Papua yang menggunakan Askes hanya dapat obat-obat murah seperti 
obat generik, tapi obat lain yang mahal itu harus ditebus sendiri di apotik 
yang sudah ditunjuk. Jaringan ini sangat rapi, karena itu pemerintah daerah 
harusnya punya apotik sendiri sehingga masyarakat juga bisa mendapatkan obat 
dengan harga murah,"tuturnya.

Sementara dari Dinas Kesehatan Kota Sorong dilaporkan dana Otsus yang diterima 
sejak 2002-2006 total sekitar Rp 20 Miliar. Dari dana Otsus itu, tahun 2002 , 
diantaranya digunakan membiayai pembangunan Rumah Sakit Sele be Solu dengan 
nilai sekitar Rp 2 Miliar lebih, peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat Rp 
600 Juta lebih.

Evaluasi penggunaan dana Otsus di lingkungan Pemkot kemarin cukup menarik. 
Hanya saja yang disayangkan Drs Daeng Pabalik,MSi-dosen UNAMIN - bahwa laporan 
penggunaan dana Otsus tahun 2002-2006 yang mestinya disampaikan oleh penanggung 
jawab dana Otsus tidak ditampilkan dalam kegiatan evaluasi kemarin, sehingga 
peserta pun belum mendapatkan penjelasan lebih rinci.

Selain itu peserta yang hadir pun didominasi dari kalangan birokrat, padahal 
tim teknis evaluasi penggunaan dana Otsus semestinya lebih banyak mendapatkan 
masukan dari unsur diluar pemerintah seperti kalangan LSM, tokoh masyarakat, 
perempuan dan komponen masyarakat lainnya. (ros/cr-23)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke