REPUBLIKA
Kamis, 12 April 2007

Memacu Layanan Puskesmas 
Oryz Setiawan
Praktisi Kesehatan di Jawa Timur

Di tengah kecenderungan meningkatnya penyakit akibat pola perilaku gaya hidup 
yang tidak sehat, instabilitas lingkungan yang tidak ramah, tuntutan masyarakat 
atas layanan kesehatan yang layak terus meningkat. Sayang, hal itu berjalan 
seiring dengan minimnya daya dukung, kebijakan, dan berkepihakan pemerintah 
terhadap kepentingan masyarakat. Pesatnya pertumbuhan dan perkembangan suatu 
wilayah terutama di perkotaan berimbas pada sektor layanan kesehatan seperti 
rumah sakit, klinik pengobatan, pusat kebugaran, dan sebagainya.

Fenomena tersebut yang mau tidak mau harus menjadi tantangan sekaligus beban 
berat puskesmas. Sebagai salah satu institusi kesehatan dasar yang paling dekat 
dengan masyarakat, keberadaan puskesmas memang sangat vital dan memiliki peran 
strategis dalam memperkuat derajat kesehatan masyarakat. 

Posisi puskesmas saat ini serba dilematis, ibarat berpijak di dua kaki. Kaki 
yang satu adalah perpanjangan tangan dari pemerintah yang diharuskan mampu 
survive, melayani masyarakat dengan optimal, memberi kemudahan aksesibilitas 
layanan kesehatan dan sebagai pusat pemberdayaan kesehatan dengan memperkuat 
upaya kemandirian masyarakat. Di sisi lain, puskesmas dihadapkan beban kerja 
yang tinggi, cakupan wilayah kerja yang luas. Hal ini menyebabkan beban ganda 
(couple burden) di mana kondisi sumber daya puskesmas sangat terbatas sehingga 
sangat sulit untuk menjalankan fungsi dan peranannya secara optimal. 

Pada umumnya, sebagian masyarakat terutama menengah ke bawah dan kaum marginal 
tak memiliki pilihan lain dalam memperoleh pelayanan kesehatan termasuk 
tindakan pengobatan, meski kualitas pengobatan di puskesmas masih relatif 
rendah dibandingkan dengan tempat lain. Masyarakat memilih puskesmas sebagai 
tempat berobat karena pertimbangan ekonomi dan faktor kedekatan lokasi dengan 
tempat tinggal mereka. 

Apalagi, berdasarkan tingkat pemanfaatan (utility) masyarakat --khususnya di 
wilayah perkotaan-- terhadap layanan kesehatan seperti puskesmas sebagai tempat 
pelayanan pengobatan dan pemeriksakan kesehatan cenderung rendah. Mereka lebih 
memilih layanan klinik medis, praktik dokter spesialis, dan rumah sakit swasta 
daripada ke puskesmas. Kondisi ini semakin menguatkan stereotip banyak kalangan 
bahwa puskesmas masih dianggap sebagai layanan kesehatan kelas dua. Seiring 
maraknya penyakit yang terus mengancam masyarakat, pemerintah menata kembali 
peran dan fungsi puskesmas sebagai institusi kesehatan publik yang bergerak di 
bidang pembangunan kesehatan berbasis partisipasi aktif publik secara 
menyeluruh. Revitalisasi puskesmas sangat diperlukan.

Sebagai salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan yang dipandang 'paling 
dekat' dengan masyarakat revitalisasi puskesmas bisa dijalankan dengan misalnya 
penambahan fasilitas fisik, jaringan sistem komputer, serta tenaga kesehatan, 
terutama dokter spesialis. Puskesmas juga memerlukan pengembangan pelayanan 
rawat inap hingga perbaikan manajemen pelayanan. Dengan kata lain, 
puskesmas-puskesmas di wilayah perkotaan terus didesain untuk mengejar 
ketertinggalan dengan institusi layanan kesehatan lain seperti rumah sakit yang 
notabene lebih dahulu dan 'tertata' lebih baik. 

Hal ini dibuktikan dengan melihat angka kunjungan pasien dan tingkat kepuasan 
pelayanan yang selama ini menjadi salah satu tolak ukur yang paling mudah 
dirasakan. Dalam konteks otonomi daerah, beberapa daerah berlomba-lomba 
berinovasi untuk mengembangkan sistem manajemen pelayanan kesehatan seperti 
penyediaan dokter yang cakap menangani pasien, sistem sidik jari, pengembangan 
fasilitas rawat inap, pelayanan akupuntur hingga pelayanan USG. Dengan 
modernisasi pelayanan puskesmas memang sekilas merupakan upaya konkret 
pemerintah untuk mengatasi kecenderungan peningkatan angka kesakitan. Namun 
upaya hospitalisasi puskesmas tersebut apakah merupakan solusi terbaik untuk 
menurunkan angka kesakitan dan meningkatkan derajat tingkat kesehatan 
masyarakat kekinian?

Filosofi puskesmas
Permasalahan dasar yang terjadi hampir di semua puskesmas berawal dari 
kekeliruan dalam mengambil kebijakan masa lampau dalam konfigurasi tatanan 
kesehatan nasional terutama terkait dengan konsep dasar puskesmas. Puskesmas 
memiliki tiga fungsi dasar yakni sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat 
pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan, dan pusat pelayanan 
kesehatan tingkat pertama. 

Berdasarkan hirarkhi fungsi inilah suatu puskesmas menjalankan fungsinya. Oleh 
karena itu suatu puskesmas dikatakan berhasil apabila lebih banyak dikunjungi 
orang sehat daripada orang sakit, mengapa? Karena misi utama puskesmas adalah 
mengurusi masyarakat bukan sekadar tidak sakit, namun tetap sehat baik secara 
fisik, psikis, sosial dan produktif sebagaimana yang tercantum dalam konsep 
sehat WHO. 

Puskesmas bukan semata-mata dikonstruksi sebagai pusat 'kesakitan' masyarakat 
yang notabene lebih merupakan tempat pengobatan, tetapi merupakan pusat 
penyehatan masyarakat yang berbasis pola preventif dan promotif. Oleh karena 
itu, urgensi pengadaan tenaga kesehatan yang mampu menerjemahkan setiap program 
pelayanan berbasis kemassalan tinggi harus diimbangi dengan penyediaan kader 
kesehatan yang bertumpu pada partisipasi aktif masyarakat. Partisipasi itu bisa 
berbentuk kader posyandu, kader gizi, keterlibatan karang taruna, PKK, dan 
ormas yang dapat difungsikan sebagai 'dokter kecil' sehingga dokter lebih 
berkonsentrasi pada tindakan klinis.

Puskesmas juga berfungsi sebagai sentra pelayanan kesehatan strata pertama 
(fungsi pengobatan) dalam sistem rujukan kesehatan (refferal system). Karena 
itu, penyediaan tenaga dokter spesialis di setiap puskesmas merupakan bentuk 
'penyimpangan' terhadap asas rujukan dalam sistem pelayanan kesehatan. 
Puskesmas bukanlah miniatur rumah sakit, meski puskesmas merupakan pusat 
pelayanan pengobatan tingkat pertama. Hal yang sangat dibutuhkan puskesmas 
adalah penyediaan dokter umum. Dokter spesialis diperlukan dalam upaya 
pelayanan lanjutan (sekunder atau tersier) sesuai dengan tingkatan kegawatan 
kondisi pasien dan pertimbangan keterbatasan fasilitas peralatan di puskesmas. 

Pada umumnya para pasien yang berkunjung ke puskesmas menderita penyakit 
infeksi yang bersifat ringan seperti ISPA, kurang gizi, diare, muntaber, 
cacingan hingga penyakit kulit. Penyakit seperti ini memang cukup dilakukan 
tindakan pengobatan di puskesmas. Hal ini bertujuan untuk mendukung sistem 
rujukan berjenjang pelayanan kesehatan sekaligus dapat mengurangi beban rumah 
sakit akibat membludaknya pasien yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas 
pelayanan.

Dokter keluarga
Karakteristik wilayah kota yang plural, ditandai dengan cakupan pelayanan dan 
tingkat problematika yang beragam sehingga membutuhkan program layanan yang 
spesifik seperti praktik pelayanan dokter keluarga (privat family practice). 
Sebenarnya praktik dokter keluarga hampir mirip dengan dokter umum, yakni 
sebagai tempat pelayanan pengobatan tingkat pertama. 

Praktik dokter keluarga merupakan salah satu solusi atas kebutuhan pelayanan 
kesehatan di wilayah urban yang memiliki karakteristik model gaya hidup 
perkotaan yang cenderung personal. Keuntungan praktik dokter keluarga antara 
lain dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit secara menyeluruh, 
menjamin kesinambungan pelayanan kesehatan, memberi penjelasan tentang keadaan 
kesehatan, sosial, dan psikologis keluarga lebih terbuka. Pengarahan ini 
penting untuk mendukung upaya penanganan masalah timbulnya penyakit yang 
dihadapi. Selain itu, arahan tersebut juga dapat menekan pemakaian peralatan 
kedokteran canggih yang berdampak pada pembengkakan biaya serta mempermudah 
bila diperlukan tindakan pelayanan spesialis. 

Ikhtisar
- Di tengah gencarnya serangan berbagai penyakit, puskesmas sebenarnya memiliki 
fungsi yang sangat strategis.
- Persoalannya, saat ini puskesmas pada umumnya belum terberdayakan dengan baik.
- Puskemas masih dimodelkan sebagai bentuk layanan kesehatan kelas dua.
- Selain untuk menangkal penyakit, puskesmas juga harus menjalankan fungsi 
sebagai penjaga kesehatan masyarakat.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke