http://www.suarapembaruan.com/News/2007/04/12/Utama/ut02.htm
SUARA PEMBARUAN DAILY Kebakaran Hutan Diperkirakan Meningkat [JAKARTA] Departemen Kehutanan meningkatkan koordinasi dan peringatan dini kepada pemerintah daerah yang wilayahnya rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan. Tahun ini, sebagai dampak meningkatnya pemanasan global, diperkirakan bencana kekeringan di Indonesia akan lebih parah dibanding tahun-tahun lalu, sehingga ancaman kebakaran hutan dan lahan yang hebat perlu diantisipasi, kata Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan Arman Malolongan kepada Pembaruan, di Jakarta, Kamis (12/4). Tahun ini, lanjutnya, pemerintah menganggarkan dana hingga dua kali lipat dari tahun sebelumnya, khusus untuk menanggulangi dan meminimalkan dampak kebakaran hutan dan lahan. Tahun lalu pemerintah mengeluarkan dana sekitar Rp 200 miliar untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan, termasuk menyewa helikopter untuk menghentikan asap yang menyeberang ke Malaysia dan Singapura dengan bom air. "Tahun ini Dephut mengajukan anggaran dua kali lipat lebih dari tahun 2006 karena diperkirakan kebakaran hutan dan lahan akan lebih parah," ungkapnya. Tahun ini, merujuk fakta-fakta yang disodorkan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mengenai dampak perubahan iklim yang sudah dan kemungkinan akan terjadi di masa mendatang, kebakaran hutan dan lahan diyakini akan lebih hebat ketimbang tahun lalu, bahkan ada kemungkinan lebih parah dari kejadian sepuluh tahun lalu. Seperti halnya 1997, kebakaran hutan dan lahan tahun ini akan diperparah dengan munculnya El Nino. Sementara itu, Kuki Soejachmoen dari Yayasan Pelangi Indonesia mengingatkan, sebagai negara yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, Indonesia harus segera memperhitungkan dan memasukkan aspek perubahan iklim dalam perencanaan pembangunan nasional. "Tentu diperlukan data komprehensif yang terkait dengan perubahan iklim. Lembaga-lembaga yang bidang kerjanya terkait dengan dampak perubahan iklim bisa mengumpulkan data mereka, untuk digunakan sebagai dasar membuat strategi pembangunan nasional yang bisa memperkecil dampak negatif perubahan iklim di Indonesia," katanya. Kelengkapan data, menurut dia, akan sangat membantu sehingga pemerintah bisa memetakan daerah mana yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Curah hujan yang tidak menentu, kenaikan permukaan air laut, kejadian banjir dan badai, kekeringan, gagal panen, serta kasus penyakit yang kemudian mewabah merupakan contoh sebagian kecil data yang diperlukan untuk melakukan adaptasi perubahan iklim. [H-13] Last modified: 12/4/07 [Non-text portions of this message have been removed]
