http://www.gatra.com/artikel.php?id=103726


Teror Pesan Pendek Menggedor Lingkaran Istana

Sri Winarsih alias Wita, bekas broker di Pelabuhan Tanjung Priok menantang 
polisi untuk menangkapnya, setelah mengirim SMS berisi pesan: "Keluarga 
Presiden SBY pencuri, Mabes Polri sebentar lagi meledak."

Perempuan 34 tahun, yang mengirim SMS lewat 1717 itu mengatakan bahwa dia 
betul-betul sedang kesal. Sasarannya ke petugas Mabes Polri yang dinilainya 
tidak serius mengusut laporannya menyangkut dua pejabat Bea dan Cukai Tanjung 
Priok yang dituduhnya telah menipu.

Laporan pengaduannya itu disampaikan pada awal Januari lalu. Dua pejabat 
tersebut, tutur Wita, mengajaknya kerja sama melego empat kontainer tekstil 
sitaan. Wita, Direktur Utama PT Seta Sentral Sejahtera, adalah pemain lama di 
pelabuhan.

Pihak pembeli sepakat dengan harga Rp 1,25 milyar dan telah menyetor uang muka 
Rp 500 juta. Nyatanya, kontainer tersebut tidak bisa dikeluarkan dari 
pelabuhan. Pihak pembeli, PT Citra Indra Sonata, mengadukan Wita ke Mabes 
Polri, Desember 2006. Tuduhannya, penipuan. Merasa terpojok, Wita pun balik 
mengadukan kedua pejabat Bea dan Cukai tadi.

Pesan pendek itu segera direspons Tim Gegana yang bergegas menyisir Mabes Polri 
di Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Hasilnya, clear. Tak ada 
bom. Sebab Wita memang tidak bermaksud meledakkan Mabes Polri secara fisik. 
"Yang saya maksud, kasus saya akan meledak di Mabes Polri. Saya bukan teroris 
lho," tuturnya.

Wartawan pun berdatangan mewawancarainya. Kasus SMS teror itu mendapat 
publikasi luas. Anehnya, meski mengirim pesan konyol yang bernada melecehkan 
dan mengancam, Wita masih aman-aman saja. Sampai Selasa pekan ini, ia belum 
juga diperiksa polisi.

Kelihatannya Wita yakin betul tidak akan diproses berkaitan dengan pesan 
pendeknya tersebut. Ini justru membuatnya kecewa. "Polisi mungkin tidak berani. 
Kalau saya ditangkap, saya akan beberkan semua praktek busuk di Bea dan Cukai. 
Saya juga akan mengungkap keterlibatan keluarga Presiden SBY (Susilo Bambang 
Yudhoyono)," katanya.

Menurut sejumlah broker, kasus yang dilakoni Wita bisa dibilang hampir saban 
hari terjadi di pelabuhan. Maksudnya bukan kesialan Wita, melainkan praktek 
penjualan barang selundupan yang disita pihak Bea dan Cukai. Barang ilegal 
dibikinkan dokumen bodong-nya agar bisa keluar pelabuhan. Tentu main mata 
dengan oknum Bea dan Cukai.

Barang-barang selundupan yang mencolok, seperti mobil mewah dan motor gede, 
juga kerap ditukangi dokumennya agar bisa melenggang keluar pelabuhan. Ada yang 
dokumennya disebutkan mebel atau peralatan rumah tangga. Memang beberapa kasus 
ada yang terbongkar. Tapi, polisi meyakini, selama ini cukup banyak yang 
berhasil lolos.

Terlepas dari persoalan Wita, Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi mengakui 
adanya praktek kotor di instansi yang dipimpinnya itu. Dia juga mengaku sering 
ditekan kalangan politisi, pejabat, atau orang kuat yang dekat dengan lingkaran 
kekuasaan. Tapi Anwar tidak menggubrisnya. "Saya bekerja sesuai aturan saja," 
katanya, mantap.

Anwar menuturkan, ia pun kerap didatangi orang-orang yang mengaku keluarga SBY. 
Hal ini rupanya sampai ke telinga SBY. Anwar pernah dipanggil ke kediaman 
presiden di Cikeas, Bogor. Oleh SBY, Anwar diperintahkan tak ragu bertindak. 
"Pak Presiden sampaikan bahwa tidak ada titipan apa-apa," ujar Anwar.

Karena itu, Anwar pun merasa tenang bekerja. Ia bertekad memerangi praktek 
busuk di lingkungan Bea dan Cukai. Langkah nyatanya memang sudah kelihatan, 
meski belum signifikan.

Taufik Alwie, Heddy Lugito, Heru Pamuji, Anthony, Deni Muliya Barus, dan 
Bernadetta Febriana
[Laporan Utama, Gatra Nomor 22 Beredar Kamis, 12 April 2007] 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke