Quote:
"..
From: Sunny <[EMAIL PROTECTED]>
Date: May 4, 2007 12:14 PM
Subject: Re: CiKEAS> Re: Air Laut

Apa saya singung agama atau pepatah dan kenytaannya? Anda mabuk agama?
.."
Ente kan nulis bukan sekali-dua kali, bos.. :-P
'Benang merah' dari tulisan" ente selama ini relatif mudah kebaca..
Kecuali kalau ente baru sekali ini nulis begitu.. Atau bagi mereka yang baru

kenal/baca komentar ente.. :D

Alhamdulillah gw sih gak mabuk agama.. justru kelihatannya ente yang anti/
benci agama (& umat Islam)..

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

On 5/4/07, Herny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Dear milister,
> Menyimak posting2 di bawah ini saya jadi bertanya-tanya, mengapa bangsa
> kita
> jadi sedemikian kerasnya.
> Tidak setuju dengan suatu pendapat, boleh-boleh saja, tapi perlukah
> ketidaksetujuan itu ditambahi dengan kata-kata makian seperti 'goblok'
> segala, apalagi tanpa dilandasi pemahaman yg cukup. Saya rasa jika hal
> senada ditujukan pada diri anda, anda juga akan merasa tersinggung bukan?
>
> Btw, setelah kita meminum air laut, memang benar kita akan menjadi
> bertambah
> haus, karena kandungan garam yang tinggi dalam air laut akan terbawa
> melalui
> aliran darah. Akibatnya, dalam gambaran yang lebih sederhana, tubuh akan
> berusaha untuk mengencerkan kandungan garam ini dengan menarik cairan yang
>
> tersimpan dalam setiap sel tubuh, prosesnya kita sebut dehidrasi. Ini yang
>
> menyebabkan kita merasa lebih haus/ dahaga. Sel yang telah terkuras
> kandungan airnya, lama-kelamaan akan rusak, yang terpengaruh lebih dulu
> adalah otak karena kandungan airnya lebih tinggi. Sedangkan aliran darah
> itu
> sendiri, pada saat melalui ginjal, akan mengalami proses penyaringan
> dimana
> sebagian besar kandungan garamnya akan tertahan di ginjal sedangkan airnya
>
> akan dibuang sebagai urine. Jika berlangsung dalam waktu lama, tentunya
> akan
> menyebabkan penumpukan garam di ginjal, yg akhirnya akan menyebabkan
> kerusakan ginjal.
> Jadi penyebab kematian sebenarnya bukan karena air lautnya mengalami
> perubahan kimiawi menjadi racun (seperti arsenik, potasium, dsb), tetapi
> karena kegagalan fungsi tubuh
> Demikian penjelasan panjang lebar dari saya, dan mengutip kata-kata Tukul,
>
> "Puas?!" :)
>
> Teman-teman, saat membaca posting ini sebenarnya saya merasa prihatin. Ini
>
> merupakan contoh dimana sering kali kita tidak berfokus pada intinya tapi
> justru pada hal-hal kecil yang tidak berarti, termasuk penjelasannya saya
> yang sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali dengan pokok pembicaraan
> Pak
> Syafi'i Ma'arif :)
>
> -----Original Message-----
> From: IrwanK <[EMAIL PROTECTED] <irwank2k6%40gmail.com>>
> To: [email protected] <CIKEAS%40yahoogroups.com>
> Date: Fri, 4 May 2007 11 <javascript:void(0)>:30:51 +0700
> Subject: CiKEAS> Re: Air Laut
>
> Ente ini yang kurang tahu bos.. :-(
> Apa karena Pak Syafii Ma'arif ini (kebetulan) orang Islam ente seperti
> orang
> bodoh
> begitu? Mengomentari istilah yang seharusnya tidak diterjemahkan secara
> harafiah
> begitu.. Lihat konteksnya lebih luas donk.. jangan (seperti orang) picik
> begitu..
> Please deh ah..
>
> CMIIW..
>
> Wassalam,
>
> Irwan.K
>
> On 5/4/07, Sunny <[EMAIL PROTECTED] <ambon%40tele2.se>> wrote:
> >
> > Refleksi: Pak professor kurang tahu bahwa hanya orang goblok yang minum
> > air laut bukan bertambah dahaga tetapi menjadi racun. [They become, in a
> > word, dehydrated. In extreme situations, dehydration will lead to
> seizures,
> > unconsciousness, and brain damage. Meanwhile, the overworked blood cells
> > carry the salt to the kidneys, which eventually become overwhelmed and
> shut
> > down. Without functioning kidneys you die. That is why we don't drink
> > seawater].
> >
> > http://www.gatra.com/artikel.php?id=104316
> >
> > PERSPEKTIF SYAFI'I MA'ARIF
> >
> > Air Laut
> >
> > Tulisan ini bukan untuk membicarakan air laut sebagai kajian ilmiah,
> bukan
> > pula untuk mencari rahasia ikan yang tetap tawar di lingkungan yang
> asin.
> Di
> > samping kajian macam ini bukan dunia saya, juga tidak serta-merta mudah
> > dikaitkan dengan kondisi mental sebagian anak bangsa yang tidak pernah
> puas
> > dengan praktek pencurian harta bangsa, entah sudah berapa ratus trilyun
> yang
> > dilalap tanpa rasa malu. Maka, berlakulah bagi orang ini peribahasa
> kuno,
> > "ibarat meneguk air laut, makin diminum makin dahaga".
> >
> > Dalam psikologi modern, inilah yang disebut para ahli sebagai hedonisme,
> > "to have more and to eat more" (semakin banyak punya, dan semakin banyak
> > makan). Perkara perut menjadi buncit sampai meletus tidak pernah
> dipikirkan.
> > Pokoknya, mumpung masih dalam posisi untuk menggarong harta bangsa,
> libas
> > terus, sampai masuk penjara atau mati sambil duduk, lalu dikuburkan
> dengan
> > segala kebesaran upacara.
> >
> > Pernah dulu seorang tokoh Pertamina malah dimakamkan di Kalibata sebagai
> > pahlawan, ternyata kemudian diketahui cukup banyak makan harta BUMN itu,
> > disimpan di luar negeri dan kemudian jadi rebutan di antara
> bini-bininya.
> > Ada juga yang melalap uang negara dalam jumlah trilyun, lalu ditangkap,
> > tetapi dengan mudah melarikan diri berkat sogokan yang diberikan kepada
> > petugas penjara, tentu di belakangnya ada pejabat penting yang bermain.
> >
> > Maka, berlakulah apa yang pernah dikatakan seorang teman: "Yang diburu
> > (koruptor) dan yang memburu (aparat penegak hukum) sebenarnya
> bersahabat."
> > Dalam situasi semacam ini, betapa sulitnya memperbaiki moral bangsa ini,
> > karena aparat sekaligus merangkap jadi penjahat. Tentu banyak aparat
> yang
> > baik dan jujur, tetapi tidak berdaya melawan "si peminum air laut ini".
> >
> > Sebagian teman sudah putus harap, apakah ada gunanya berteriak, toh
> tidak
> > ada telinga yang mau mendengar. Bukankah dulu telah berteriak seorang
> Hatta,
> > seorang Wilopo, seorang Kasimo, seorang Hamka, seorang Mochtar Lubis,
> > seorang Soedjatmoko, dengan wibawa dan integritas pribadinya yang prima,
> > telah berujung dengan sebuah kesia-siaan untuk memulihkan martabat moral
> > bangsa ini? Maka, tidaklah mengherankan rekaman Rosihan Anwar tentang
> > pernyataan almarhum S. Tasrif: "Indonesia is beyond help!" (Indonesia
> tak
> > dapat ditolong lagi), atau mengutip seorang teman alumnus ITB: "Ibarat
> > kapal, Indonesia telah oleng!"
> >
> > Dengan memberikan penghargaan tinggi kepada semua keprihatinan itu, saya
> > setuju dengan lontaran Presiden SBY di depan rombongan Kopebang (Koalisi
> > Penyelamatan Bangsa) dalam sebuah dialog selama dua jam di Istana
> Merdeka
> > pada 29 Desember 2006: "Kita harus bangkit." Tentu yang dimaksud agar
> kita
> > bangkit dari segala keterpurukan, siuman dari segala dosa dan dusta
> selama
> > ini yang telah menelantarkan sekitar 42 juta rakyat miskin di Indonesia
> > tahun 2007 ini.
> >
> > Ungkapan "kita harus bangkit" jelas jauh lebih dinamis dari ungkapan
> "kita
> > akan bangkit", entah kapan, entah berapa puluh tahun lagi, sampai tubuh
> > bangsa ini remuk disakiti anaknya sendiri, tanpa rasa salah dan dosa.
> > Anak-anak amoral ini tidak semakin jera, karena keteladanan pemimpin
> sudah
> > menjadi barang langka dalam lingkaran kultur yang serba kumuh.
> >
> > Sebuah kebangkitan yang autentik hanyalah mungkin menjadi kenyataan jika
> > dipimpin oleh negarawan yang punya visi jauh ke depan, melampaui umurnya
>
> dan
> > umur anak cucunya. Yang terpikir olehnya bukan diri, bukan keturunannya,
> > melainkan nasib 225 juta penumpang yang kini masih termangu-mangu di
> atas
> > Kapal Republik yang lagi oleng ini, menanti tindakan perbaikan mendasar
> > secara autentik pula. Biarlah peneguk air laut langsung terjun ke lautan
> > lepas melalui proses hukum, agar penumpang lain yang tak berdosa selamat
> > sampai ke dermaga tujuan Proklamasi Kemerdekaan berupa: "Keadilan sosial
> > bagi seluruh rakyat Indonesia", sebuah sila yang teramat agung dan
> mulia,
> > tetapi masih saja dikhianati sampai hari ini.
> >
> > Saya tidak yakin kebanyakan pemimpin formal sekarang ini mengacu pada
> sila
> > itu dalam menyusun pola pembangunan di daerahnya masing-masing. Yang
> banyak
> > berlaku adalah kenyataan ini: pihak eksekutif bergandengan tangan dengan
> > kekuatan legislatif dalam membuat APBD berdasarkan kalkulasi pembagian
> > rezeki masing-masing. Perkara sarana pendidikan dan kesehatan yang tak
> > terurus tidak lagi singgah di otak para peneguk air laut ini.
> >
> > Tetapi inilah Indonesia yang wajib kita bela dan kita perbaiki sekalipun
> > akan bernasib seperti Bung Hatta dan nama-nama besar di atas. Apa boleh
> > buat, jalan terjal yang berliku ini harus kita lalui dengan kepala
> tegak,
> > jangan pikirkan entah akan terempas dan tersungkur dalam perjalanan.
> Bangsa
> > ini tidak boleh tenggelam ke dasar lautan akibat kelalaian kita.
> >
> > Ahmad Syafi'i Ma'arif
> > Cendekiawan muslim, guru besar sejarah
> > [Perspektif, Gatra Nomor 24 Beredar Kamis, 31 April 2007
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke