GODAM TERPANCING JADINYAH,

heheheh,Mbon..

ituhlah LOGIKA JONGKOKNYAH ULER IJOH!

Dikit2 kesinggung, dikit2 Islam dihina dinaken!

dikit dikit guweh pancung yah!!

SEMENTARA EMANG LOGIKA JONGKOK SAKLALUH

DIJADIKEN ANDELAN MEREKAH.

Bakar gorejah,gempur patung Budah,

KERANA ORANG ITUH MENGHINA ISLAM???

yah...ituhlah paham LOGIKA JONGKOK!

salam perjoangan meng-adabken sesama bangsa.



--- In [email protected], "Sunny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Orang mabuk agama, biasanya mudah tersinggung.  Apa yang saya 
tulis:" Pak professor kurang tahu bahwa hanya orang goblok yang 
minum air laut....". Dimana ada islamnya dalam kalimat saya ini? Apa 
saya tulis profesor goblok?  Apakah dalam kalimat ini dibilang 
profesor goblok ataukah profesor tidak tahu? Hendaklah dimaklumi 
sang profesor bisa saja tahu banyak hal tetapi tidak mungkin tahu 
semua hal.
> 
> Orang waras yang kehausan tidak akan minum air laut, hanya yang 
goblok atau tidak pernah berada dilaut! Harap dipahami!
> 
> Kalau komentar saya dianggap sebagai anti bin benci Islam  karena 
sang profesor beragama Islam ,  berarti logika kalian adalah sang 
profesor itu identik dengan agama Islam. Jadi kalau begitu sama 
halnya dengan Dr Said Agil Husin Al Munawar, mantan menteri 
Departemen Agama, sikat  Rp 50.0000.0000.0000 [ limapuluh milyar 
rupiah] itu Islam yang mencuri???   
> 
>   ----- Original Message ----- 
>   From: IrwanK 
>   To: [email protected] 
>   Sent: Friday, May 04, 2007 8:14 AM
>   Subject: CiKEAS> Re: Air Laut
> 
> 
>   Quote:
>   "..
>   From: Sunny <[EMAIL PROTECTED]>
>   Date: May 4, 2007 12:14 PM
>   Subject: Re: CiKEAS> Re: Air Laut
> 
>   Apa saya singung agama atau pepatah dan kenytaannya? Anda mabuk 
agama?
>   .."
>   Ente kan nulis bukan sekali-dua kali, bos.. :-P
>   'Benang merah' dari tulisan" ente selama ini relatif mudah 
kebaca..
>   Kecuali kalau ente baru sekali ini nulis begitu.. Atau bagi 
mereka yang baru
> 
>   kenal/baca komentar ente.. :D
> 
>   Alhamdulillah gw sih gak mabuk agama.. justru kelihatannya ente 
yang anti/
>   benci agama (& umat Islam)..
> 
>   CMIIW..
> 
>   Wassalam,
> 
>   Irwan.K
> 
>   On 5/4/07, Herny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   >
>   > Dear milister,
>   > Menyimak posting2 di bawah ini saya jadi bertanya-tanya, 
mengapa bangsa
>   > kita
>   > jadi sedemikian kerasnya.
>   > Tidak setuju dengan suatu pendapat, boleh-boleh saja, tapi 
perlukah
>   > ketidaksetujuan itu ditambahi dengan kata-kata makian 
seperti 'goblok'
>   > segala, apalagi tanpa dilandasi pemahaman yg cukup. Saya rasa 
jika hal
>   > senada ditujukan pada diri anda, anda juga akan merasa 
tersinggung bukan?
>   >
>   > Btw, setelah kita meminum air laut, memang benar kita akan 
menjadi
>   > bertambah
>   > haus, karena kandungan garam yang tinggi dalam air laut akan 
terbawa
>   > melalui
>   > aliran darah. Akibatnya, dalam gambaran yang lebih sederhana, 
tubuh akan
>   > berusaha untuk mengencerkan kandungan garam ini dengan menarik 
cairan yang
>   >
>   > tersimpan dalam setiap sel tubuh, prosesnya kita sebut 
dehidrasi. Ini yang
>   >
>   > menyebabkan kita merasa lebih haus/ dahaga. Sel yang telah 
terkuras
>   > kandungan airnya, lama-kelamaan akan rusak, yang terpengaruh 
lebih dulu
>   > adalah otak karena kandungan airnya lebih tinggi. Sedangkan 
aliran darah
>   > itu
>   > sendiri, pada saat melalui ginjal, akan mengalami proses 
penyaringan
>   > dimana
>   > sebagian besar kandungan garamnya akan tertahan di ginjal 
sedangkan airnya
>   >
>   > akan dibuang sebagai urine. Jika berlangsung dalam waktu lama, 
tentunya
>   > akan
>   > menyebabkan penumpukan garam di ginjal, yg akhirnya akan 
menyebabkan
>   > kerusakan ginjal.
>   > Jadi penyebab kematian sebenarnya bukan karena air lautnya 
mengalami
>   > perubahan kimiawi menjadi racun (seperti arsenik, potasium, 
dsb), tetapi
>   > karena kegagalan fungsi tubuh
>   > Demikian penjelasan panjang lebar dari saya, dan mengutip kata-
kata Tukul,
>   >
>   > "Puas?!" :)
>   >
>   > Teman-teman, saat membaca posting ini sebenarnya saya merasa 
prihatin. Ini
>   >
>   > merupakan contoh dimana sering kali kita tidak berfokus pada 
intinya tapi
>   > justru pada hal-hal kecil yang tidak berarti, termasuk 
penjelasannya saya
>   > yang sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali dengan pokok 
pembicaraan
>   > Pak
>   > Syafi'i Ma'arif :)
>   >
>   > -----Original Message-----
>   > From: IrwanK <[EMAIL PROTECTED] <irwank2k6%40gmail.com>>
>   > To: [email protected] <CIKEAS%40yahoogroups.com>
>   > Date: Fri, 4 May 2007 11 <javascript:void(0)>:30:51 +0700
>   > Subject: CiKEAS> Re: Air Laut
>   >
>   > Ente ini yang kurang tahu bos.. :-(
>   > Apa karena Pak Syafii Ma'arif ini (kebetulan) orang Islam ente 
seperti
>   > orang
>   > bodoh
>   > begitu? Mengomentari istilah yang seharusnya tidak 
diterjemahkan secara
>   > harafiah
>   > begitu.. Lihat konteksnya lebih luas donk.. jangan (seperti 
orang) picik
>   > begitu..
>   > Please deh ah..
>   >
>   > CMIIW..
>   >
>   > Wassalam,
>   >
>   > Irwan.K
>   >
>   > On 5/4/07, Sunny <[EMAIL PROTECTED] <ambon%40tele2.se>> wrote:
>   > >
>   > > Refleksi: Pak professor kurang tahu bahwa hanya orang goblok 
yang minum
>   > > air laut bukan bertambah dahaga tetapi menjadi racun. [They 
become, in a
>   > > word, dehydrated. In extreme situations, dehydration will 
lead to
>   > seizures,
>   > > unconsciousness, and brain damage. Meanwhile, the overworked 
blood cells
>   > > carry the salt to the kidneys, which eventually become 
overwhelmed and
>   > shut
>   > > down. Without functioning kidneys you die. That is why we 
don't drink
>   > > seawater].
>   > >
>   > > http://www.gatra.com/artikel.php?id=104316
>   > >
>   > > PERSPEKTIF SYAFI'I MA'ARIF
>   > >
>   > > Air Laut
>   > >
>   > > Tulisan ini bukan untuk membicarakan air laut sebagai kajian 
ilmiah,
>   > bukan
>   > > pula untuk mencari rahasia ikan yang tetap tawar di 
lingkungan yang
>   > asin.
>   > Di
>   > > samping kajian macam ini bukan dunia saya, juga tidak serta-
merta mudah
>   > > dikaitkan dengan kondisi mental sebagian anak bangsa yang 
tidak pernah
>   > puas
>   > > dengan praktek pencurian harta bangsa, entah sudah berapa 
ratus trilyun
>   > yang
>   > > dilalap tanpa rasa malu. Maka, berlakulah bagi orang ini 
peribahasa
>   > kuno,
>   > > "ibarat meneguk air laut, makin diminum makin dahaga".
>   > >
>   > > Dalam psikologi modern, inilah yang disebut para ahli 
sebagai hedonisme,
>   > > "to have more and to eat more" (semakin banyak punya, dan 
semakin banyak
>   > > makan). Perkara perut menjadi buncit sampai meletus tidak 
pernah
>   > dipikirkan.
>   > > Pokoknya, mumpung masih dalam posisi untuk menggarong harta 
bangsa,
>   > libas
>   > > terus, sampai masuk penjara atau mati sambil duduk, lalu 
dikuburkan
>   > dengan
>   > > segala kebesaran upacara.
>   > >
>   > > Pernah dulu seorang tokoh Pertamina malah dimakamkan di 
Kalibata sebagai
>   > > pahlawan, ternyata kemudian diketahui cukup banyak makan 
harta BUMN itu,
>   > > disimpan di luar negeri dan kemudian jadi rebutan di antara
>   > bini-bininya.
>   > > Ada juga yang melalap uang negara dalam jumlah trilyun, lalu 
ditangkap,
>   > > tetapi dengan mudah melarikan diri berkat sogokan yang 
diberikan kepada
>   > > petugas penjara, tentu di belakangnya ada pejabat penting 
yang bermain.
>   > >
>   > > Maka, berlakulah apa yang pernah dikatakan seorang 
teman: "Yang diburu
>   > > (koruptor) dan yang memburu (aparat penegak hukum) sebenarnya
>   > bersahabat."
>   > > Dalam situasi semacam ini, betapa sulitnya memperbaiki moral 
bangsa ini,
>   > > karena aparat sekaligus merangkap jadi penjahat. Tentu 
banyak aparat
>   > yang
>   > > baik dan jujur, tetapi tidak berdaya melawan "si peminum air 
laut ini".
>   > >
>   > > Sebagian teman sudah putus harap, apakah ada gunanya 
berteriak, toh
>   > tidak
>   > > ada telinga yang mau mendengar. Bukankah dulu telah 
berteriak seorang
>   > Hatta,
>   > > seorang Wilopo, seorang Kasimo, seorang Hamka, seorang 
Mochtar Lubis,
>   > > seorang Soedjatmoko, dengan wibawa dan integritas pribadinya 
yang prima,
>   > > telah berujung dengan sebuah kesia-siaan untuk memulihkan 
martabat moral
>   > > bangsa ini? Maka, tidaklah mengherankan rekaman Rosihan 
Anwar tentang
>   > > pernyataan almarhum S. Tasrif: "Indonesia is beyond help!" 
(Indonesia
>   > tak
>   > > dapat ditolong lagi), atau mengutip seorang teman alumnus 
ITB: "Ibarat
>   > > kapal, Indonesia telah oleng!"
>   > >
>   > > Dengan memberikan penghargaan tinggi kepada semua 
keprihatinan itu, saya
>   > > setuju dengan lontaran Presiden SBY di depan rombongan 
Kopebang (Koalisi
>   > > Penyelamatan Bangsa) dalam sebuah dialog selama dua jam di 
Istana
>   > Merdeka
>   > > pada 29 Desember 2006: "Kita harus bangkit." Tentu yang 
dimaksud agar
>   > kita
>   > > bangkit dari segala keterpurukan, siuman dari segala dosa 
dan dusta
>   > selama
>   > > ini yang telah menelantarkan sekitar 42 juta rakyat miskin 
di Indonesia
>   > > tahun 2007 ini.
>   > >
>   > > Ungkapan "kita harus bangkit" jelas jauh lebih dinamis dari 
ungkapan
>   > "kita
>   > > akan bangkit", entah kapan, entah berapa puluh tahun lagi, 
sampai tubuh
>   > > bangsa ini remuk disakiti anaknya sendiri, tanpa rasa salah 
dan dosa.
>   > > Anak-anak amoral ini tidak semakin jera, karena keteladanan 
pemimpin
>   > sudah
>   > > menjadi barang langka dalam lingkaran kultur yang serba 
kumuh.
>   > >
>   > > Sebuah kebangkitan yang autentik hanyalah mungkin menjadi 
kenyataan jika
>   > > dipimpin oleh negarawan yang punya visi jauh ke depan, 
melampaui umurnya
>   >
>   > dan
>   > > umur anak cucunya. Yang terpikir olehnya bukan diri, bukan 
keturunannya,
>   > > melainkan nasib 225 juta penumpang yang kini masih termangu-
mangu di
>   > atas
>   > > Kapal Republik yang lagi oleng ini, menanti tindakan 
perbaikan mendasar
>   > > secara autentik pula. Biarlah peneguk air laut langsung 
terjun ke lautan
>   > > lepas melalui proses hukum, agar penumpang lain yang tak 
berdosa selamat
>   > > sampai ke dermaga tujuan Proklamasi Kemerdekaan 
berupa: "Keadilan sosial
>   > > bagi seluruh rakyat Indonesia", sebuah sila yang teramat 
agung dan
>   > mulia,
>   > > tetapi masih saja dikhianati sampai hari ini.
>   > >
>   > > Saya tidak yakin kebanyakan pemimpin formal sekarang ini 
mengacu pada
>   > sila
>   > > itu dalam menyusun pola pembangunan di daerahnya masing-
masing. Yang
>   > banyak
>   > > berlaku adalah kenyataan ini: pihak eksekutif bergandengan 
tangan dengan
>   > > kekuatan legislatif dalam membuat APBD berdasarkan kalkulasi 
pembagian
>   > > rezeki masing-masing. Perkara sarana pendidikan dan 
kesehatan yang tak
>   > > terurus tidak lagi singgah di otak para peneguk air laut ini.
>   > >
>   > > Tetapi inilah Indonesia yang wajib kita bela dan kita 
perbaiki sekalipun
>   > > akan bernasib seperti Bung Hatta dan nama-nama besar di 
atas. Apa boleh
>   > > buat, jalan terjal yang berliku ini harus kita lalui dengan 
kepala
>   > tegak,
>   > > jangan pikirkan entah akan terempas dan tersungkur dalam 
perjalanan.
>   > Bangsa
>   > > ini tidak boleh tenggelam ke dasar lautan akibat kelalaian 
kita.
>   > >
>   > > Ahmad Syafi'i Ma'arif
>   > > Cendekiawan muslim, guru besar sejarah
>   > > [Perspektif, Gatra Nomor 24 Beredar Kamis, 31 April 2007
>   >
> 
>   [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
>    
> 
> 
> -------------------------------------------------------------------
-----------
> 
> 
>   No virus found in this incoming message.
>   Checked by AVG Free Edition. 
>   Version: 7.5.467 / Virus Database: 269.6.2/787 - Release Date: 
5/3/2007 2:11 PM
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke