ya itulah kalo menurut muskitawati guru agama sudah banyak itu aja masih banyak 
di indonesia yang tidak mengenal  punya aturan apalagi kalo di indonesia tidak 
ada guru agama pasti banyak kemaksiatan (diskotik tumbuh subur, judi makin 
banyak)seperti di amerika yang untuk hal semacam itu halal  CONTOH SATU LAGI: 
di afganistan aja dulu sebelum amerika masuk tidak ada yang namanya diskotik 
sekarang setelah amerika masuk makin banyak diskotik pemerkosaan dll 
jadi kalo orang indonesia ikut anda yang katanya menegakkan HAM akan hancur 
indonesia ini 
----- Original Message ----- 
  From:   Hafsah   Salim 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, May 05, 2007 1:32 PM
  Subject: CiKEAS> Re: Sekolah Mahal,   Tanya Kenapa?
  

        
> "Sunny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Jadi jawaban terhadap   pertanyaan "mengapa 
> atau kenapa", tentunya tercakup pada konstruksi   politik dan 
> implementasinya ke masyarakat. Politk pendidikan mengabdi   
> kepentingan rakyat mayoritas berpengetahuan tentunya tidak. Tanpa   
> pengetahuan berarti tanpa kekuatan, kalau tanpa kekuatan memudahkan   
> dimanipulasi dan dikendalikan sebagai obyek kepentingan. Siapa yang   
> diberkati untuk beruntung dengan politik pendidikan demikian? Apa   
> komentar Anda?
> 

Sekolah di Indonesia jadi mahal KARENA   PEMERINTAH MEMBAYAR BANYAK
SEKALI GURU2 UNTUK MENGAJAR MATA PELAJARAN YANG   TIDAK SEHARUSNYA DIBAYAR.

Contohnya, Guru Matematika itu mahal gajinya,   tapi kalo guru
matematika ini mangkir karena memberi les matematika kepada   muridnya,
maka murid private les ini harus membayar lebih mahal   lagi.

Beda dengan guru agama Islam yang mengajar disekolah digaji   sama
dengan guru matematika, tapi kalo guru ini mangkir memberi les   agama
Islam secara private biasanya tidak dibayar karena dunia agama   adalah
dunia sosial yang tidak mengejar bayaran.

Demikianlah dana   pemerintah habis hanya untuk membayar guru2 agama
Islam yang tidak   seharusnya dibayar. Dan setiap guru matematika
mangkir disetiap sekolah,   maka yang menggantikannya adalah guru agama.

Akibatnya, guru agama   Islam disetiap sekolah diseluruh Indonesia,
paling sedikit ada 5 sampai 10   orang guru, sedangkan guru matematika
hanya satu untuk setiap sekolah.   Artinya, kalo dalam setiap sekolah
jumlah guru2 ada sekitar 15-18 orang,   maka pemerintah mengeluarkan
dana 50-60% lebih banyak hanya untuk menggaji   guru2 agama Islam.

Kalo saja semua pelajaran agama dilarang disemua   sekolah, maka biaya
sekolah setiap anak bisa menjadi paling sedikit 50%   lebih murah dari
yang biasanya dibayar. Perhitungan ini tidak pernah dibuka   kepada
masyarakat karena bisa heboh dan ulama2 bisa protes.   Maklumlah,
jumlah sekolah agama paling banyak dinegara ini, sehingga   lulusannya
juga paling banyak sementara lapangan kerjanya paling   sedikit.

Membangun sekolah agama sangatlah mudah, modalnya hanya   AlQuran dan
hadist, selebihnya bisa diatur tergantung kondisi, kalo tak ada   bangku
duduk dibatupun jadi, tetapi kondisi sejelek apapun yang dihadapi   oleh
guru agama, gajinya tetap sama, dan murid2nya tetap membayar   dengan
jumlah yang sama. Sangat2 beda dengan kebutuhan guru2 lain   yang
selama ini selalu tidak bisa dipenuhi.

Jadi jangan heran, semua   lulusan Indonesia tidak ada yang memiliki
skill yang diharapkan karena   sekolah bukan mendidik kemampuan
melainkan cuma keimanan yang tidak pernah   dibutuhkan dalam melamar
pekerjaan. Bahkan Menteri Agama yang bergelar   Professor juga tetap
korupsi dengan keimanan yang tetap tinggi dalam   berbohong bahwa dianya
tidak korupsi.

Ny. Muslim binti   Muskitawati.

>



   #ygrp-mlmsg {        FONT-SIZE: small; FONT-FAMILY: 
arial,helvetica,clean,sans-serif}#ygrp-mlmsg TABLE {     }#ygrp-mlmsg SELECT {  
 FONT: 99% arial,helvetica,clean,sans-serif}INPUT {      FONT: 99% 
arial,helvetica,clean,sans-serif}TEXTAREA {   FONT: 99% 
arial,helvetica,clean,sans-serif}#ygrp-mlmsg PRE {    FONT: 100% monospace}CODE 
{     FONT: 100% monospace}#ygrp-mlmsg  {     LINE-HEIGHT: 1.22em}#ygrp-text {  
      FONT-FAMILY: Georgia}#ygrp-text P {     MARGIN: 0px 0px 1em}#ygrp-tpmsgs 
{      CLEAR: both; FONT-FAMILY: Arial}#ygrp-vitnav {  FONT-SIZE: 77%; MARGIN: 
0px; PADDING-TOP: 10px; FONT-FAMILY: Verdana}#ygrp-vitnav A {   PADDING-RIGHT: 
1px; PADDING-LEFT: 1px; PADDING-BOTTOM: 0px; PADDING-TOP: 0px}#ygrp-actbar {    
 CLEAR: both; MARGIN: 25px 0px; COLOR: #666; WHITE-SPACE: nowrap; TEXT-ALIGN: 
right}#ygrp-actbar .left { FLOAT: left; WHITE-SPACE: nowrap}..bld {        
FONT-WEIGHT: bold}#ygrp-grft {  PADDING-RIGHT: 0px; PADDING-LEFT: 0px; 
FONT-SIZE: 77%; PADDING-BOTTOM: 15px; PADDING-TOP: 15px; FONT-FAMILY:
 Verdana}#ygrp-ft {     PADDING-RIGHT: 0px; BORDER-TOP: #666 1px solid; 
PADDING-LEFT: 0px; FONT-SIZE: 77%; PADDING-BOTTOM: 5px; PADDING-TOP: 5px; 
FONT-FAMILY: verdana}#ygrp-mlmsg #logo {      PADDING-BOTTOM: 10px}#ygrp-vital 
{      PADDING-RIGHT: 0px; PADDING-LEFT: 8px; MARGIN-BOTTOM: 20px; 
PADDING-BOTTOM: 8px; PADDING-TOP: 2px; BACKGROUND-COLOR: #e0ecee}#ygrp-vital 
#vithd {       FONT-WEIGHT: bold; FONT-SIZE: 77%; TEXT-TRANSFORM: uppercase; 
COLOR: #333; FONT-FAMILY: Verdana}#ygrp-vital UL {        PADDING-RIGHT: 0px; 
PADDING-LEFT: 0px; PADDING-BOTTOM: 0px; MARGIN: 2px 0px; PADDING-TOP: 
0px}#ygrp-vital UL LI {       CLEAR: both; BORDER-RIGHT: #e0ecee 1px solid; 
BORDER-TOP: #e0ecee 1px solid; BORDER-LEFT: #e0ecee 1px solid; BORDER-BOTTOM: 
#e0ecee 1px solid; LIST-STYLE-TYPE: none}#ygrp-vital UL LI .ct {    
PADDING-RIGHT: 0.5em; FONT-WEIGHT: bold; FLOAT: right; WIDTH: 2em; COLOR: 
#ff7900; TEXT-ALIGN: right}#ygrp-vital UL LI .cat {   FONT-WEIGHT: 
bold}#ygrp-vital A {       TEXT-DECORATION: none}#ygrp-vital A:hover {
        TEXT-DECORATION: underline}#ygrp-sponsor #hd {  FONT-SIZE: 77%; COLOR: 
#999}#ygrp-sponsor #ov { PADDING-RIGHT: 13px; PADDING-LEFT: 13px; 
MARGIN-BOTTOM: 20px; PADDING-BOTTOM: 6px; PADDING-TOP: 6px; BACKGROUND-COLOR: 
#e0ecee}#ygrp-sponsor #ov UL {   PADDING-RIGHT: 0px; PADDING-LEFT: 8px; 
PADDING-BOTTOM: 0px; MARGIN: 0px; PADDING-TOP: 0px}#ygrp-sponsor #ov LI {       
 PADDING-RIGHT: 0px; PADDING-LEFT: 0px; FONT-SIZE: 77%; PADDING-BOTTOM: 6px; 
PADDING-TOP: 6px; LIST-STYLE-TYPE: square}#ygrp-sponsor #ov LI A {  FONT-SIZE: 
130%; TEXT-DECORATION: none}#ygrp-sponsor #nc {      PADDING-RIGHT: 8px; 
PADDING-LEFT: 8px; MARGIN-BOTTOM: 20px; PADDING-BOTTOM: 0px; PADDING-TOP: 0px; 
BACKGROUND-COLOR: #eee}#ygrp-sponsor .ad {   PADDING-RIGHT: 0px; PADDING-LEFT: 
0px; PADDING-BOTTOM: 8px; PADDING-TOP: 8px}#ygrp-sponsor .ad #hd1 {   
FONT-WEIGHT: bold; FONT-SIZE: 100%; COLOR: #628c2a; LINE-HEIGHT: 122%; 
FONT-FAMILY: Arial}#ygrp-sponsor .ad A { TEXT-DECORATION: none}#ygrp-sponsor 
.ad A:hover {       TEXT-DECORATION:
 underline}#ygrp-sponsor .ad P {        MARGIN: 0px}o { FONT-SIZE: 
0px}..MsoNormal {    MARGIN: 0px}#ygrp-text TT {     FONT-SIZE: 120%}BLOCKQUOTE 
{    MARGIN: 0px 0px 0px 4px}..replbq {      }
       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke