http://www.bangkapos.com/opini.php?action=baca&topik=13&id=956 jum'at, 08 Juni 2007 21:26
Matinya Ekonomi Kerakyatan oleh: Sudarcun DAMPAK dari globalisasi adalah terjadi penghisapan negara maju terhadap negara berkembang melalui mekanisme pasar bebas (persaingan bebas ). Penghisapan itu melalui tiga jalur yaitu transfer modal yang dilakukan pemodal asing, transfer ilmu tehnologi dan transfer skiil. Tiga jalur itu merupakan mata rantai komoditi yang harus diterima oleh negara-negara sedang berkembang melalui kaum kapitalis birokrat (penguasa birokrasi ),dan kaum kapitalis komprador (pengusaha ,konglomerat). Adapun alasan negara maju melakukan hal itu karena lahan untuk investasi dinegara maju tidak tersedia lagi, pasar hasil produksi sudah jenuh dan sumber bahan baku serta energi langkah. Ketika hal itu terjadi maka kaum pemikir menciptakan konsep baru yang disebut globalisme yaitu suatu ideologi baru kaum kapitalis global untuk menghegemoni dan mendominasi pola pikir dan prilaku masyarakat yang sedang berkembang terutama negara-nagara maju bahwa dengan bekerjasama dengan negara maju mereka dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Globalisasi mempunyai lima dimensi yaitu : modal tanpa bendera yang bisa beroperasi keseluruh dunia , tenaga ahli tanpa visa yang bisa masuk keluar negara lain tanpa hambatan , ilmu dan teknologi tanpa kendala yang bisa menguasai pemikiran bangsa-bangsa seluruh dunia , hasil produksi yang berupa barang dagangan tanpa cukai yang bisa diperdagangkan disemua tempat tanpa pungutan pajak , dan bahan mentah tanpa pemilik yang bisa digali dikumpulkan oleh siapa saja yang mempunyai teknologi serta kapital. Kelima dimensi itu bagi negara-negara maju adalah merupakan barang dagangan yang harus dipasarkan dengan berbagai cara, jika perlu dengan cara menumbangkan pemerintahan nasionalis progresif yang anti dengan berbagai bentuk penjajahan ,atau nasionalis yang anti penghisapan bangsa atas bangsa. Dominasi Kapitalis Ketika mengutip tulisan Bapak Mubyanto , Kompas Senin 13 agustus 2001 memberi angin segar bagi rakyat jelata . Karena bapak Mubyanto berbicara ekonomi atas dasar kondisi riil kehidupan rakyat Indonesia ,dimana hakikatnya sebagian masyarakat Indonesia hidup dalam kondisi ekonomi agraris seperempat komersial ,seperempat Feodalisme, seperempat Kolonialisme, seperempat kapitalisme. Bahwa ada sebagian kecil yang masih hidup berburuh, meramu, menangkap ikan, dan agraris subsitensi . Ukuran yang selayaknya digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan adalah pemerataan pendapatan, bukan pertumbuhan ekonomi. Pikiran yang demikian oleh pakar ekonomi kapitalisme disebut "ekonomi bego". Bego atau pintarnya ahli ekonomi sebenarnya harus dilihat dua sudut pandangan, yaitu ekonomi kerakyatan dan pandangan ekonomi kapitalis . Bagi pandangan ekonomi kerakyatan, rakyat merupakan soko guru kemakmuran suatu bangsa rakyat sendiri yang menentukan tingkat kesejahteraanya . Bagi rakyat ,tingkat kesejahteraan di ukur dari pemerataan distribusi alat produksi. Bagi rakyat pedesaan ,kesejahteraan dapat diukur dari pemerataan distribusi tanah, khususnya tanah pertanian. Tanah harus didistribusikan secara merata dan adil, rakyat desa harus mempunyai hak untuk mengelolah tanah pertaniaan secara merata dan adai .Untuk mewujudkanya , pemerintah (penguasa negara ) harus berpartisipasi dalam pendistribusian tanah merata dan adil. Bagi rakyat perkotaan, kesejahteraan dapat diukur dari pemerataan kesempatan kerja (bagi buruh) dan pemerataan berusaha ( bagi kaum pengusaha kecil menengah ). Peraturan perburuan harus memihak dan melindungi nasib buruh ,kredit usaha harus didistribusikan kepada pengusaha kecil dan menengah secara merata dan adil oleh lembaga keuangan dan perbankan pemerintah. Untuk mewujutkan baik untuk kesejahteraan buruh dan pengusaha kecil menengah ,pemerintah (penguasa negara) harus berpartisipasi aktif dalam pendistribusian modal usaha dan transpormasi manajemen usaha .pandangan demikian yang oleh kapitalisme mungkin disebut "ekonom bego" dan bagi paham ekonomi kerakyatan bukan di pandang "bego" atau pintar tetapi dipandang sebagai proses kehidupan yang manusiawi. Bagi pandangan ekonomi kapitalisme ,kaum kapitalis khususnya kaun konglomerat merupakan "soko guru" kemakmuran suatu bangsa ,para konglomerat yang menentukan tingkat kesejahteraan suatu bangsa . Bagi paham kapitalisme tingkat kesejahteraan diukur dari pertumbuhan ekonomi melalui investasi yang memerlukan kapital besar , baik kapital milik pengusaha nasional maupun milik pengusaha internasional. Kapital bank, kapital industri dan kapital dagang harus dibentuk dan dikembangkan menjadi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui ivestasi. Karena ivestasi akan melahirkan kesempatan kerja dan peningkatan penyediaan barang/jasa untuk diperdagangkan. Kesempatan kerja berarti rakyat yang bekerja dan mendapatkan upah,makin besar investasi makin luas kesempatan kerja dan makin tinggi pendapatan rakyat (kaum pekerja atau buruh), selanjutnya makin tinggi tingkat kesejahteraan. Investasi harus dilakukan sampai ketingkat desa. Tanah-tanah pertaniaan rakyat pedesaan diperkenankan dikuasai oleh pemilik modal untuk dijadikan pertanian komersial (bertani untuk memenuhi kebutuhan pasar baik pasar domestik maupun pasar internasional). Kaum tani harus mengubah dirinya menjadi buruh tani yang tunduk kepada pemilik modal. Dalam ekonomi kapitalisme akan terjadi pemusatan alat-alat produksi baik kapital maupun tanah ke beberapa orang saja ,dengan pemusatan itu akan terjadi pengelolaan alat produksi yang efektif dan efisien , sehingga hasil produksi mampu bersaing di pasar, selanjutnya bisa menguasai pasar dan dapat mencipta laba. Akumulasi laba akan menjadi kapital baru kemudian divestasikan ( memperluas usaha ) kembali, ini berarti memperluas kesempatan kerja dan mempertinggi produksi barang/jasa. Makin besar laba ,makin luas investasi ,makin luas kesempatan kerja makin besar pendapatan suatu bangsa akhirnya makin tinggi pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Tessis akhir adalah makin sejahtera kehidupan rakyat. Pandangan demikian oleh pandangan kapitalisme disebut "ekonom pintar", dan bagi paham ekonomi kerakyatan disebut "proses perburuhan" artinya suatu proses dimana suatu bangsa akan dijadikan buruh baik buruhnya kapitalis nasional maupun buruhnya kapitalis global. Adapun solusi untuk mengatasi sedikit demi sedikit peran ekonomi kapitalis adalah, kita harus berjuang untuk mengkikis habis sistem ekonomi kolonial serta menuntut pemerintah untuk mengolah sistem ekonomi kapitalis menjadi ekonomi kerakyatan. Rakyat harus dimartabatkan kembali karena rakyat yang menentukan kemerdekaan negara ini. Merekalah yang memberi makan kepada para pejuang kemerdekaan, bukan konglomerat. Namun setelah merdeka kaum konglomerat menikmati hasil kemerdekaan, sedangkan rakyat semangkin melarat. Marilah kita bersama-sama membangun kesadaran berbangsa dan bernegara. Nation dan Character Building sangat perlu bagi Demokrasi politik dan Demokrasi ekonomi. (*)Ketua Umum Forum Mahasiswa Serumpun Bangka Belitung Yogyakarta [Non-text portions of this message have been removed]
