Refleksi: Selama politik pemerintah Indonesia mengkulikan dan membabukan 
warganegarnya guna mendapatkan devisa dan selama tidak diciptkannya jumlah 
lapangan kerja dalam negeri  yang dapat mengabsorvaikan tenaga kerja sesuai 
pertumbuhan demografi, selama itu penyiksaan TKI akan tetap berlangsung.

http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=292072

Jumat, 29 Juni 2007,


Penyiksaan TKI Tiada Henti


Penyiksaan terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, khususnya 
Timur Tengah, Malaysia, dan Singapura, seperti tak ada habisnya. Mulai 
penyiksaan/kekerasan fisik, pemerkosaan, hingga gaji tidak dibayar. Bahkan, 
banyak yang bunuh diri karena depresi.

Saya heran, kasus tersebut terjadi berulang-ulang dan sudah puluhan tahun. 
Semestinya, kita banyak belajar dari kejadian sebelumnya, sehingga ada 
penanganan khusus bagi TKI, terutama perlindungan hukum bagi mereka di tempat 
kerja di negeri orang. Ternyata, tidak banyak perubahan.

Saya punya kesan -semoga kesan ini salah-, kepedulian pemerintah terhadap TKI 
sangat rendah. Padahal, dengan TKI di luar negeri, pemerintah diuntungkan 
karena banyak memperoleh manfaat berupa pemasukan devisa.

Karena itu, pemerintah harus sungguh-sungguh menangani TKI. Memang sulit 
mengontrol banyaknya TKI. Namun, kalau pemerintah serius, hal-hal negatif yang 
menimpa TKI setidaknya bisa diminimalkan. Dengan demikian, perlakuan 
semena-mena terhadap TKI bisa dikurangi.

Mudah-mudahan, pemerintah terus berupaya memberikan perlindungan terbaik bagi 
TKI. Apalagi, di negeri ini, pemerintah tak mampu menyediakan lapangan kerja 
dan gaji yang memadai. Maka, perlakukan TKI dengan aman dan adil. 


Mukti Slamet, Jl Awikoen Madya Timur 8, Gresik

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke