http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/082007/27/0901.htm


Media dan Pilkada
Oleh M.Z. AL-FAQIH 
BEBERAPA daerah di Jawa Barat dalam waktu dekat ini akan menyelenggarakan 
pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung. Tengoklah! Kota Tasikmalaya, Kota 
Cimahi, Kota Bekasi, dan Kota Cirebon. Semua daerah itu tengah sibuk menyiapkan 
kerja demokrasi itu. Dalam perhelatan ini setiap warga negara punya hak untuk 
dicalonkan dan mencalonkan diri. Demokrasi dan konstitusi republik ini menjamin 
hal tersebut. Para bakal calon yang berhasrat pasti akan berjuang mati-matian 
untuk merebut hati para pimpinan partai politik sebagai upaya memuluskan 
ambisinya. Bagi yang punya kepercayaan diri tinggi akan memproklamasikan diri 
melalui jalur perseorangan (independen). 

Banyak pihak berpendapat bahwa salah satu kunci keberhasilan SBY dalam 
memenangi pilpres adalah karena SBY pandai mengemas dirinya melalui media 
sehingga citra positif yang diwartakan media itu dapat mendongkrak perolehan 
suaranya. 

Mungkin hal ini menguntungkan bagi sang calon, tetapi belum tentu positif bagi 
pemilih. Bila kita menengok ke dasar filosofis diadakannya pemilihan langsung 
ini, maka tujuan utama pemilu kepala daerah adalah mewujudkan demokratisasi di 
ranah politik. Pemilu kepala daerah diharapkan dapat memunculkan pemimpin yang 
dikenal massa dan mengerti apa yang massa butuhkan. 

Media dalam hajat politik ini harus berhati-hati, jangan sampai media terdorong 
menjadi alat dari sekelompok kepentingan yang kemudian akan mengingkari 
kedaulatan publik. Bukan mustahil, calon yang berkepentingan dalam upaya 
mendongkrak citra positif dirinya akan memanfaatkan media. Media digunakan 
sebagai alat mengonstruksi selera pemilih. Bila apa yang media gambarkan 
tentang sang calon tidak bertabrakan dengan kenyataan sesungguhnya mungkin itu 
tidak masalah. Namun, bila ternyata apa yang digambarkan media tidak sesuai 
dengan kehidupan yang sesungguhnya, hal ini bisa menodai demokrasi yang ingin 
dibangun di negeri ini. 

Media, bagaimanapun kemampuannya terbatas. Dirinya hanya mampu mewartakan 
sebagian realitas bukan keseluruhan realitas dari para calon. Ini yang disebut 
dengan proses pembingkaian. Mungkin kehidupan calon yang dipotret oleh media 
hanya kulit luarnya saja. Tentunya hal-hal yang positifnya saja. Bila media 
gagal mewartakan sebagian besar realitas sang calon sebenarnya, massa pemilih 
dalam hal ini masih seperti membeli kucing dalam karung. Karena para pemilih 
tidak mengenal dengan utuh para calon pemimpinnya. Tidak aneh di beberapa 
tempat setelah pemilu kepala daerah selesai ternyata perubahan tidak terwujud 
sebagaimana yang dijanjikan oleh para calon pada saat kampanye berlangsung. 
Rakyat kembali terluka! Ini yang harus diwaspadai oleh media cetak dan media 
penyiaran di Jawa Barat. Berdasarkan data KPI Jawa Barat, jumlah media 
penyiaran yang terdata saat ini jumlahnya 730 lembaga penyiaran (radio dan TV). 
Bila tidak hati-hati, media penyiaran bisa terperosok menjadi pihak yang ikut 
menodai substansi demokrasi.

Demi menciptakan pemilu kepala daerah yang ideal, media sudah selayaknya 
mengedepankan investigasi report. Media harus mampu menampilkan kehidupan para 
calon seobjektif mungkin. Ini dimaksudkan agar massa pemilih mengerti siapa 
yang layak untuk dipilih dan diberi mandat untuk memimpin. Bukankah media 
memiliki tanggung jawab sosial terhadap publik? Abainya media terhadap hal ini 
berakibat menjauhnya tatanan politik dari situasi yang demokratis karena 
politik pada akhirnya hanya dimonopoli sekelompok pihak yang punya modal dan 
kekuasaan, yang mampu melakukan rekayasa sosial dan politik, termasuk 
mengarahkan massa untuk memilih seorang calon. 

Saya jadi paham mengapa Plato (Filsuf Yunani kuno) tidak tertarik dengan sistem 
demokrasi karena para kaum cerdik cendikia (filsuf) tidak akan diberikan ruang 
untuk memimpin sebab pemimpin selalu datang dari sekelompok oligarki, terutama 
mereka yang beruang dan berpengaruh, yang mampu merekayasa kehidupan sosial 
politik. 

Kita sebagai warga Jawa Barat jika tidak ingin demokrasi dibajak oleh kaum 
oligarki itu, sudah saatnya kita mendorong media agar berdiri di garda terdepan 
dalam mengawal demokrasi. Kita pinta media untuk mengarahkan demokrasi berpihak 
pada rakyat bukan sekelompok pihak. Media punya tanggung jawab itu karena media 
merupakan pilar demokrasi. Kembalikan demokrasi sebagai alat menyuarakan 
kepentingan publik. Jangan sampai demokrasi yang sejatinya bepihak pada rakyat, 
justru menjadi alat untuk melayani kaum oligarki. 

Pengalaman media dalam menyuarakan demokrasi di Indonesia telah memiliki 
sejarah yang panjang. Di zaman pergerakan nasional sudah berdiri sebuah surat 
kabar yang mengawal demokrasi. Medan Prijaji nama surat kabar itu. Medan 
Prijaji di bawah pimpinan Tirto Adi Soerjo muncul sebagai media yang berpihak 
pada rakyat dalam melawan kezaliman kolonial. Media ini memberikan bantuan 
hukum (advokasi) pada rakyat yang hak-haknya dilanggar oleh rezim kolonial. 
Medan Prijaji adalah media yang pertama kali memperkenalkan metode boycott 
dalam melakukan perlawanan politik terhadap pemerintah kolonial. Kita sebagai 
warga Jawa Barat patut berbangga pada Medan Prijaji karena dalam kiprahnya ada 
di Jawa Barat, tepatnya di Kota Bandung.  

Perekat sosial

Media juga punya tanggung jawab menciptakan pemilu kepala daerah yang aman dan 
tertib. Bagaimanapun, pemilu kepala daerah menyimpan potensi konflik horizontal 
yang besar. Kedekatan para calon dengan massa pemilih berpotensi menimbulkan 
konflik tatkala calon yang diusung kalah dalam pemilihan. Dalam konteks ini, 
media punya peran melakukan penyadaran terhadap massa pemilih dan para calon 
bahwa siapa pun yang kalah harus siap menerima kekalahan, dan siapa pun yang 
menang juga jangan berbangga berlebihan. Yang menang harus menunjukkan kinerja 
yang nyata. Ini adalah fungsi media sebagai perekat sosial.

Bangsa ini telah terlalu sering hidup dalam konflik. Saatnya kita berpikir 
bagaimana membangun negeri ini dari keterpurukan. Bila kita baca 
laporan-laporan surat kabar rasanya sudah hampir tak ada yang dibanggakan 
dengan yang namanya Indonesia. Bencana datang tak kunjung henti, selesai 
bencana yang satu datang bencana yang lain. Penduduk miskin makin bertambah. 
Angka pengangguran meningkat. Anak negeri minim prestasinya. Semuanya seolah 
menggambarkan kepada kita bahwa di Indonesia hampir tidak ada lagi yang bisa 
dibanggakan. Janganlah semua itu ditambah lagi dengan konflik pascapemilu 
kepala daerah. Ibu pertiwi akan semakin meratap ketika menyaksikan itu, bahkan 
founding fathers pun tak akan tenang di alam kubur mereka. Kita yang masih 
yakin dengan Indonesia, mari berbuat sesuatu demi anak cucu kita di masa yang 
akan datang. Lebih baik terlambat daripada tidak berbuat. Mari! ***  

Penulis, anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Barat, Wakil Sekretaris 
Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Barat, dan Dosen Universitas Sangga Buana YPKP.

Kirim email ke