http://www.suarapembaruan.com/News/2007/08/27/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Pemerintah Harus Tegas terhadap Gerakan Antinegara dan Pancasila
[JAKARTA] Pancasila merupakan pilihan ideologi bagi bangsa Indonesia yang 
pluralisme dan semboyan Bhineka Tunggal Ika adalah pemersatu Negara Kesatuan 
Republik Indonesia. Sayangnya hampir seluruh nilai Pancasila semakin luntur dan 
pemerintah seakan membiarkan hal ini terjadi. 

Demikian dikatakan Ketua Gerakan Spirit Pancasila, Guruh Soekarno Putra di 
sela-sela acara Mengenang Sang Guru di Ubud, Bali, Minggu (26/8). "Dalam 
peringatan HUT ke-62 RI kita diliputi keprihatinan karena hampir seluruh sila 
Pancasila belum terwujud. Banyak warga mengalami kesulitan menjalankan ibadah 
menurut keyakinannya. Sila kerakyatan atau demokrasi belum dihayati, terbukti 
banyak kekerasan dan kerusuhan," ujar Guruh. 

Dikatakan, sekarang ini sudah waktunya segenap komponen bangsa Indonesia 
membuka jalan lebih lebar dan legowo bahwa Pancasila yang mampu mempersatukan 
bangsa ini dari segala bentuk ancaman keruntuhan. Dan pelurusan sejarah serta 
pengamalan Pacasila dalam seluruh perikehidupan berbangsa harus dilakukan. 

Diungkapkan, ketika era Orde Baru (Orba) berkuasa, Pancasila sempat menjadi 
polemik, terkait klaim, yang pertama kali mengusulkan adalah Muhammad Yamin, 
bukan Bung Karno. Namun, dengan ditemukannya naskah otentik Notulen Sidang 
BPUPKI di Arsip Nasional dan Surat Wasiat Bung Hatta kepada Guntur Sukarno, 
masalah itu tak lagi mengemuka. 

Sayangnya, lanjut Guruh, Pancasila juga mendapat citra negatif melalui program 
penataran Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila (P4). Masyarakat tidak 
diberi ruang untuk mengemukakan pendapat. Pancasila menjadi alat politik untuk 
mempertahankan kekuasaan. "Inilah yang kemudian merusak Pancasila," ujarnya. 

Sementara itu, aktivis Gerakan Spirit Pancasila, Dr I Wayan Sutisna dari 
Universitas Udayana menegaskan meskipin Pancasila adalah dasar negara yang 
sudah final, namun, pengamalannya dalam kehidupan bernegara dan berbangsa harus 
nyata. Bung Karno menegaskan dalam pidatonya di depan sidang Badan Penyelidik 
Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia 1 Juni 1945, sekaligus menandai 
hari lahir Pancasila, Weltanschauung (pandangan dunia) apa pun tak akan menjadi 
kenyataan jika tak diperjuangkan. 

"Pancasila adalah sebuah visi besar untuk membangun Indonesia agar mampu 
mengukir prestasi di dunia global. Setelah meletakkan fondasi negara yang 
kokoh, pascakemerdekaan, perjuangan dilanjutkan untuk mewujudkan cita-cita 
luhur Pancasila. Masyarakat adil sejahtera. Bahwa kita masih jauh dari yang 
dicita-citakan, itu karena defisit pengamalan Pancasila," ujarnya. [E-5] 


Last modified: 27/8/07 

Kirim email ke