KOMPAS
 Selasa, 28 Agustus 2007 

 
Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan 


Bambang Heru

Badan Pusat Statistik atau BPS merilis produk domestik bruto triwulan II-2007 
(15/8). Pertumbuhan ekonomi triwulan itu mencapai 6,28 persen (year on year 
triwulan II), capaian tertinggi sejak krisis. 

Dengan inflasi 6,06 persen (year on year Juli 2007) dan bunga Sertifikat Bank 
Indonesia (SBI) yang menurun, capaian itu mengindikasikan perekonomian makro 
membaik. Namun, Gubernur BI Burhanuddin Abdullah menilai pertumbuhan ekonomi 
Indonesia belum berkualitas karena belum menyerap banyak tenaga kerja dan 
mengurangi kemiskinan (Media Indonesia, 20/7). Mungkinkah pertumbuhan 6,8 
persen seperti target pemerintah mampu mengurangi kemiskinan? 

Makna berkualitas, paling tidak mencakup makna mengurangi kemiskinan dan 
pengangguran. Kenyataannya, masih banyak orang menganggur dan miskin. Karena 
itu, perlu ciri investasi keberpihakan kepada mereka, tanpa mengekang investasi 
bagi yang besar. 

Kepercayaan 

Pada sisi lain, kini trust mulai menghilang dari bangsa ini. Orangtua tidak 
percaya kepada yang muda, pimpinan kehilangan kepercayaan terhadap bawahannya 
dan sebaliknya, masyarakat mengalami krisis kepercayaan terhadap pemerintah. 
Dalam konteks ini, perbankan mengalami krisis kepercayaan terhadap "pengusaha" 
mikro dan kecil. Lembaga itu lebih percaya terhadap "yang besar" meski 
kemungkinan kerugiannya juga besar (kasus BLBI). 

Sudah menjadi keniscayaan jika pemerintah menyediakan barang/jasa publik demi 
kemaslahatan masyarakat. "Pengusaha" mikro-yang tuna agunan finansial-diberi 
akses berupa dukungan trust untuk mendapat kredit perbankan. Kredit itu 
mengejawantahkan pemberian akses pada faktor produksi berupa entrepreneurship 
bagi si kecil. Kebijakan itu memberi kesempatan penduduk miskin menolong diri 
sendiri. Dapat dilihat di media, "orang kecil" terbukti lebih takut terlibat 
masalah hukum ketimbang "orang besar". Mereka selalu mengeluh jika ditanya cara 
mendapat kredit permodalan. 

Dengan cara ini, masyarakat yang sedang menganggur dan miskin dapat berusaha. 
Pemerintah tidak harus menyediakan uang cash dalam APBN/APBD, tetapi 
menganggarkan pada tahun berikut jika tahun berjalan ada "tunggakan merah". 

Data historis 

Menurut publikasi BPS, Tabel Input-Output Indonesia 1980, persentase nilai 
tambah di sektor primer-tempat masyarakat miskin, terutama di sektor 
pertanian-mengambil porsi 50,53 persen, tetapi persentase pekerjanya 55,50 
persen. Jika angka pertama dibagi angka kedua, hasilnya 0,91. Dari tabel tahun 
2000 (Tabel Input-Output terakhir BPS, tabel 2005 belum dipublikasikan) hasil 
bagi itu sebesar 0,59. Perbandingan angka 1980 dan 2000 bermakna persentase 
nilai tambah per kapita pekerja di sektor primer menurun signifikan, terjadi 
pemiskinan. 

Sebaliknya, perbandingan yang sama pada sektor sekunder-tempat masyarakat lebih 
"kaya"-menunjukkan dua hal. 

Rasio-rasio itu selain jauh lebih tinggi juga meningkat signifikan (150 tahun 
1980 dan 195 tahun 2000). Angka-angka itu menyiratkan masyarakat yang bekerja 
di sektor sekunder lebih sejahtera dan makin sejahtera selama kurun waktu itu. 

Gambaran pekerja di sektor tersier tidak terlalu berbeda dengan gambaran sektor 
sekunder. Artinya, pekerja, dan keluarganya, di sektor ini lebih baik. 

Sektor primer meski berkontribusi besar tetapi masih lebih kecil dibanding 
gabungan sektor sekunder dan tersier. Pertumbuhan dua sektor terakhir harus 
terus didorong tetapi tanpa mengabaikan sektor primer. 

Target pertumbuhan 6,8 persen tidak akan berarti apa-apa jika penduduk miskin 
tidak diberi akses faktor produksi. Toh, akhirnya mereka tidak berhak atas 
nilai tambah perekonomian. Tetap miskin. Tahun 1995 pertumbuhan ekonomi 
Indonesia mencapai 8,07 persen. Namun, dua tahun kemudian, ekonomi krisis 
menyisakan jurang besar kaya dan miskin. 

Dari aspek pertumbuhan ekonomi, kebijakan yang memihak penduduk miskin 
(pro-poor) akan "mengganggu" besaran pertumbuhan karena sektor primer 
berkontribusi tinggi dalam struktur ekonomi. Pemberian kredit untuk usaha yang 
dianggap kurang efisien seperti tidak relevan. Namun, pemberian bantuan semacam 
BLT (bantuan langsung tunai), atau bantuan yang berupa transfer lain, malah 
membebani kumulatif nilai tambah yang sudah tercipta (belum kerepotan dalam 
implementasinya). 

Dengan pemberian akses pada faktor produksi bagi si miskin, selain pertumbuhan 
ekonomi berkualitas, dapat didefinisikan sebagai pertumbuhan ekonomi yang lebih 
berwawasan kebangsaan. Pertumbuhan ekonomi yang "mengerti" masalah bangsa: 
pengangguran dan kemiskinan. 

Bambang Heru Kepala Subdirektorat Konsolidasi Neraca Regional, BPS

Kirim email ke