KOMPAS
Selasa, 28 Agustus 2007 

 Pelayanan Kesehatan
Mereka Memilih Melahirkan di dalam Hutan Samuel Oktora dan B Josie Susilo 
Hardianto 

Tak mudah membayangkan apa yang akan dilakukan Mama Iyai jika nanti ia 
melahirkan. Rumahnya ada di Kampung Woge di Desa Ugaikagopa, sekitar empat jam 
jalan kaki dari Bomomani, di Distrik Mapia, Kabupaten Nabire. Hanya ada jalan 
setapak yang menghubungkan Woge dengan Bomomani, naik-turun gunung masuk-keluar 
hutan. Mama Wake yang tinggal di Bomomani mengatakan, umumnya perempuan di 
pedalaman masuk ke hutan jika waktu melahirkan tiba. Dengan dibantu tua-tua 
perempuan, mereka melahirkan di dalam kegelapan hutan. 

Cara melahirkan semacam ini memang berkaitan pula dengan keyakinan mereka soal 
dilarangnya laki-laki (khususnya suami) melihat darah istri yang mengalir dari 
tubuh ketika melahirkan. Namun, kini masyarakat pedalaman Papua umumnya sudah 
mengenal pelayanan kesehatan di puskesmas. Kalaupun pilihan melahirkan di dalam 
hutan itu diambil, tentu lebih didasarkan pertimbangan waktu dan biaya yang 
tidak sedikit. 

Seperti diungkapkan Ny Agustina Manggori, warga Bomomani, dia selalu ketakutan 
kalau anak-anaknya sakit. "Bagaimana tidak, alat di puskesmas minim, begitu 
pula obat-obatan. Jika anak saya sakit, untuk pertolongan pertama memang saya 
ke puskesmas atau ke mantri kesehatan. Biasanya saya lihat perkembangan, kalau 
dalam dua hari ke depan tak ada tanda-tanda kesembuhan, saya langsung membawa 
ke kota. Namun, ke kota kan biaya transportasinya sangat besar," katanya 
setengah mengeluh. 

Selain itu, memaksakan diri pergi ke puskesmas di Bomomani belum tentu akan 
memperoleh perawatan yang lebih baik. Ruang inap yang digunakan khusus untuk 
ibu setelah melahirkan tidak dilengkapi kasur, yang ada hanya dipan kayu. 
Bahkan, alat bantu melahirkan, partus set, seperti gunting dan jarum jahit, 
tidak tersedia. 

Padahal, puskesmas di Bomomani merupakan puskesmas induk yang membawahi dua 
puskesmas, yaitu di Timepa dan Modio. Jarak kedua tempat pelayanan kesehatan 
masyarakat itu sekitar tujuh hingga delapan jam jalan kaki dari Bomomani. 

Selain itu, warga yang akan memeriksakan kesehatan di puskesmas tersebut juga 
harus tabah sebab fasilitas yang dimiliki masih memprihatinkan. Dari pedalaman 
mereka harus berangkat pagi-pagi sekali agar dapat tiba di puskesmas yang 
berada di ibu kota distrik tersebut pukul 08.00 atau 09.00 WIT. 

Sudah seperti itu pun, tak jarang harapan mereka berujung kekecewaan. Setelah 
jauh-jauh datang untuk berobat, mereka mengaku sering mendapat diagnosis yang 
kurang akurat sebab hanya dilakukan secara visual. 

Minim fasilitas 

Di puskesmas yang berjarak sekitar 185 kilometer dari Nabire itu, stetoskop 
tidak ada. Puskesmas itu juga tidak memiliki laboratorium untuk memeriksa dahak 
ataupun hemoglobin. Alat pengukur tekanan darah yang ada sudah rusak, sedangkan 
termometer tidak ada sama sekali. 

"Kami hanya memeriksa kondisi pasien secara visual, lalu kami memberikan obat 
sesuai dengan keluhan pasien," ujar perawat Puskesmas Bomamani, Salmon Holombo. 

Tidak mengherankan jika imunisasi di kawasan pedalaman, seperti Distrik Mapia 
dan Kamu di Kabupaten Nabire, Papua, sampai saat ini amat jarang dilakukan. 
Imunisasi tak bisa rutin digelar. Selain vaksin begitu lama dikirim dari ibu 
kota kabupaten, di puskesmas setempat listrik pun belum masuk. 

"Obat dari kota dikirim biasanya dua atau tiga bulan sekali. Begitu juga dengan 
vaksin untuk imunisasi," kata bidan Puskesmas Bomamani, Fransiska Deba. Praktis 
imunisasi dilakukan jika kiriman vaksin tiba. Sebenarnya, imunisasi itu bisa 
rutin dilakukan apabila puskesmas memiliki ruangan atau tempat penyimpanan 
khusus untuk vaksin sehingga dapat disiapkan stok. Namun, itu pun tentunya 
memerlukan listrik. 

Masalah lain yang dihadapi masyarakat pedalaman Papua adalah terbatasnya 
obat-obatan yang tersedia. Di puskesmas, umumnya hanya tersedia obat untuk 
penyakit malaria, diare, gangguan pernapasan, penurun panas, antibiotik, dan 
vitamin. 

Menurut Holombo, kasus penyakit yang banyak ditangani Puskesmas Bomomani selain 
malaria adalah infeksi saluran pernapasan akut dan diare. Yang memprihatinkan, 
persediaan obat untuk itu terbatas. Bahkan, alkohol kadar 70 persen sering 
dicuri anak-anak muda untuk mabuk-mabukan. 

Problem lain, dokter belum ada. Di Puskesmas Bomomani, saat ini hanya ada enam 
perawat, satu bidan, dan kepala puskesmas. Kepala Puskesmas Bomomani Leo Tebai 
pun lebih banyak berada di Nabire. Saat tim Ekspedisi Tanah Papua Kompas 2007 
bertandang ke puskesmas itu pertengahan Agustus lalu, Leo Tebai sedang di kota. 

"Kepala puskesmas sudah mengusulkan dua kali ke dinas kesehatan untuk segera 
ditempatkan dokter. Namun, sampai sekarang belum ada realisasi," ujar Holombo. 

Belum memenuhi standar 

Secara terpisah, dokter Puskesmas Moanemani, Distrik Kamu, Saiful Rohman, 
mengungkapkan, peralatan yang dimiliki puskesmas yang jaraknya sekitar 200 
kilometer dari Nabire itu belum memenuhi standar sebagaimana puskesmas di Jawa. 
"Obat-obatan cukup lengkap. Namun, di sini belum mempunyai alat sterilisasi 
otoclaf. Untuk kelas puskesmas, paling tidak harus ada alat sterilisasi. Karena 
itu, untuk mensterilkan peralatan, kami menggunakan kompor atau alkohol. 
Alat-alat itu kami rebus mendidih atau dicuci terlebih dahulu lalu dibakar 
dengan alkohol," kata Saiful, dokter pegawai tidak tetap. 

Ia juga mengatakan, penyakit yang kerap dialami masyarakat Moanemani selain 
malaria dan diare adalah tuberkulosis (TBC). "Saya memperkirakan pasien di sini 
paling banyak penderita TBC. Sebab, faktor pemicunya cukup besar, antara lain 
kurang gizi dan umumnya di dalam rumah warga terdapat tungku api untuk 
menghangatkan badan, sementara ventilasi tidak ada," katanya

Kirim email ke