=================================
Seri : "Membangun Keluarga Indonesia"
=================================
[EQ]
CHRISYE : SEBUAH MEMOAR MUSIKAL
[Naga Legendaris INDONESIA]
Oleh : Alberthiene Endah
Bermimpilah,
sebab harapan akan memberi hidup
Berkaryalah,
sebab seni akan memberi makna
[Naga belajar . . . sampai menutup mata]
54. Konser Tunggal !
Kemudian, . .
Mereka bahkan bertanya, Bisa nggak, konsernya digelar dua kali? Jay dengan
lantang langsung menjawab, Kemarin kenapa Anda nggak percaya?
Itulah yang akhirnya terjadi. Semangat kami makin terpompa!
Yang terjadi pada saya? Justru sebaliknya! Nyali saya merosot dan terus
merosot menjelang pentas. Saya panas-dingin! Jay memerlukan beberapa hari
mengarantina saya di hotel agar rasa percaya diri saya muncul! Kami menginap
bertiga. Jay, saya, dan Erwin. Kami bicara apa saja. Erwin dan Jay berusaha
keras memantapkan hati saya. Di situlah saya melihat begitu luar biasanya figur
dua orang ini. Mereka bukan orang-orang yang hanya bekerja dengan giat dan
bakat. Mereka menyimpan hati yang luar biasa pada dunia musik Indonesia.
Perjuangan batin mereka dalam melancarkan proyek ini jauh lebih besar dan patut
dihargai ketimbang tenaga yang keluar.
Hari-hari itu, jumlah rokok dan kopi saya tak terhitung. Jay sampai
berteriak. Stop rokoknya!
Kami sampai pada H-1. Geladi resik di lokasi yang sesungguhnya, Plenary Hall
JCC. Di situlah saya merasa begitu terharu. Saya melihat begitu banyak orang
terlibat. Musisi, tim produksi, kru, dekorator, jumlahnya ratusan. Semua
bekerja untuk sebuah konser seorang.... saya!
Ini pengalaman batin yang sangat luar biasa.
Seperti ada jawaban Tuhan atas ketakutan saya. Orang-orang yang saya lihat
hilir-mudik di Plenary Hall seperti mengusung suara yang bersahutan, Chrisye,
ayo bangkit! Ayo bangkit!
Saya seperti dirasuki energi yang entah dari mana datangnya! Menyanyi dengan
segenap hati dan keberanian yang sangat total! Ya, ini kesempatan saya! Ini
peluang emas! Jawaban Tuhan! Geladi resik yang sangat menyentuh emosi. Saya
melihat orang-orang terdekat saya menyaksikan penuh haru. Saya melihat ada Alex
Kumara, Gauri, Ponco Sutowo, dan banyak lagi. Astaga, teman lama ngumpul semua.
Gauri menghampiri saya dan berkaca-kaca. Chris, lu besok harus nunjukin
siapa diri lu! katanya memeluk saya. Saya mengangguk-angguk penuh haru.
Apa yang terjadi pada malam terakhir menjelang pentas? Suara saya hilang!
Sungguh-sungguh hilang! Latihan tiga bulan nonstop dan geladi resik yang begitu
berat membuat kerongkongan saya terganggu. Saya shock! Yang lain juga! Erwin,
Jay, Gauri kelabakan. Semua ide tentang obat serak dikerahkan. Erwin meminta
saya istirahat malam itu. Tidak mengeluarkan suara apa-apa.
Di jalan pulang, saya menitikkan air mata. Apakah ini akan jadi malapetaka?
Terbayang belasan ribu tiket yang sudah terjual habis. Besok mereka akan
menonton penyanyi senior dengan suara yang rusak!
Itu adalah malam paling menakutkan yang pernah saya rasakan. Sepanjang malam
saya berdoa sambil menangis. Yanti membuatkan ramuan tradisional, campuran
kecap dan jeruk nipis. Ia terus-menerus duduk memeluk saya sepanjang malam,
memberi kekuatan.
Chris, besok adalah malam yang sangat penting bagi kariermu... Yakinlah,
kamu bias. ujar Yanti berulang-ulang.
Dan hari H akhirnya datang. Ajaib! Pagi-pagi saya terbangun dengan suara yang
kembali jernih. Saya mencoba menyanyi. Lancar. Begitu bahagianya sampai saya
memeluk Yanti. Saya langsung sujud sholat dan segera bersiap ke JCC.
Sore menjelang pentas saya waswas melihat panggung yang belum selesai.
Bangku-bangku kosong juga membuat saya nervous. Apakah itu benar akan terisi?
Konser dimulai
.
Sulit digambarkan bagaimana perasaan saya. Ketika Jay memberi kode agar saya
muncul di panggung, langkah saya gemetar. Mata saya terkesiap. Plenary Hall
penuh sesak. Saya nyaris menangis sebelum menyanyi! Ribuan pertanyaan
memukul-mukul gendang telinga saya. Apakah semua orang ini datang untuk
mendengar. . . suara saya? Tuhan, inikah saya di mata orang lain?
Saya menyanyi dengan roh yang begitu berkuasa! Perjuangan kami berbulan bulan
latihan, rasa haru saya, dan kekuatan yang muncul dan penonton membuat saya
tampil dengan total! Yang membuat saya terharu adalah gelombang suara yang
dahsyat dari penonton. Mulai dari orang-orang berusia setengah baya (angkatan
saya), anak muda, sampai ABG, semua hafal lagu-lagu saya dari era Badai Pasti
Berlalu sampai yang paling baru! Saya luar biasa terharu. Rasanya ingin
bersujud dan menangis.
Tengah malam, ketika konser berakhir dan tepuk tangan panjang membahana,
pandangan saya kabur. Sebuah perasaan yang hebat menguasai diri saya. Saya
seperti dilambungkan ke tempat yang tinggi, tapi sekaligus juga disadarkan
bahwa saya adalah seseorang yang sangat kecil. Kecil sekali. Saya melihat
kebesaran yang sangat nyata. Kebesaran Tuhan.
Jauh di deretan penonton, saya melihat wajah-wajah bahagia memberi aplaus
bagi sukses penampilan saya. Seluruh sahabat saya sejak zaman Sabda Nada ada.
Dan dua orang yang duduk di deretan terdepan membuat saya makin rnengharubiru.
Papi dan Mami. Dari senyum dan tangis mereka saat itu saya tahu, keduanya
bahagia dan bangga. Saya berhasil menjawab pertanyaan yang puluhan tahun
dilontarkan Papi pada saya, Chrisye, apa kamu yakin mau jadi penyanyi...?
_____
Usia terus merambat, album-album yang statis,
dan membanjirnya penyanyi-penyanyi baru,
sempat membuat saya berfikir tahun 90-an
adalah masa pensiun saya.
_____
Malam itu semua pertanyaan telah terjawab.
_____
[bersambung . . .]
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3
---------------------------------
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on,
when.