http://www.antara.co.id/arc/2007/8/29/hipertensi-dapat-sebabkan-kerusakan-ginjal/

29/08/07 13:34

Hipertensi Dapat Sebabkan Kerusakan Ginjal

Jakarta (ANTARA News) - Peningkatan tekanan darah hingga melebihi ambang batas 
normal (hipertensi) dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal dan bisa merupakan 
salah satu gejala munculnya penyakit ginjal.

Dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan ginjal hipertensi Dr.J. Pudji 
Rahardjo, SpPD-KGH di Jakarta, Rabu, menjelaskan bila tekanan darah melebihi 
140 mmHg/90 mmHg maka aliran darah ke ginjal akan terganggu.

Bila salah satu faktor pendukung kerja ginjal, misalnya aliran darah ke ginjal, 
jaringan ginjal atau saluran pembuangan ginjal terganggu atau rusak maka fungsi 
ginjal akan terganggu atau berhenti sama sekali (gagal ginjal tahap akhir), 
kata dr. Pudji.

"Ateroskeloris menyebabkan aliran darah ke organ berkurang dan bisa 
mengakibatkan kematian sel organ, kalau organnya ginjal menyebabkan gagal 
ginjal," ujarnya.

Ia menjelaskan, seorang penderita gagal ginjal tahap akhir hanya bisa bertahan 
hidup dengan menjalankan cuci darah (hemodialisis) seumur hidupnya.

"Dan itu biayanya sangat mahal, sekitar Rp600 ribu sampai Rp700 ribu untuk 
sekali dialisis. Padahal seorang penderita gagal ginjal paling tidak harus cuci 
darah dua kali seminggu," jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa ada hubungan timbal balik antara hipertensi 
dan penyakit ginjal.

Adanya kerusakan pada bagian ginjal tertentu, terutama bagian korteks/lapisan 
luar, kata dia, akan merangsang produksi hormon renin yang akan menstimulasi 
terjadinya peningkatan tekanan darah dan hipertensi.

Selain itu, saat ginjal rusak ekskresi atau pengeluaran air dan garam akan 
terganggu sehingga mengakibatkan isi rongga pembuluh darah meningkat dan 
tekanan darah naik.

Hipertensi, yang sebagian besar disebabkan oleh faktor keturunan, kebiasaan 
makan garam, stress dan gangguan metabolisme lemak dan karbohidrat, merupakan 
gangguan kesehatan yang diderita 10 persen-30 persen orang dewasa di semua 
negara di dunia.

Terapi hipertensi yang ditujukan untuk menurunkan tekanan darah menjadi kurang 
dari 140 mmHg/90 mmHg, kata dia, bisa dilakukan dengan menggunakan obat-obat 
antihipertensi seperti diuretik, beta bloker, antagonis kalsium, ACE inhibitor, 
alfa bloker, dan angiotensin II antagonis.

"Penanganan hipertensi yang disertai kerusakan ginjal ditujukan untuk mencapai 
target ideal 130 mmHg/80 mmHg, dilakukan dengan lebih dari satu obat 
antihipertensi," tambahnya.

Sementara upaya pencegahan, katanya, bisa dilakukan dengan menerapkan gaya 
hidup sehat, menghindari penggunaan produk tembakau dan alkohol, membatasi 
konsumsi kafein, dan mengukur tekanan darah secara rutin untuk deteksi dini.(*)

Kirim email ke