http://batampos.co.id/content/view/29354/97/

      Rabu, 29 Agustus 2007  

      Pengkhianat Republik 

      Oleh: Erison*

      Sedikit mengulangi tentang pengertian sebuah nasionalisme. National dapat 
diartikan bangsa, sedangkan isme lebih diartikan sebagai sebuah paham atau 
ideology. Nationalism atau nasionalisme dapat diartikan dangan bahasa Indonesia 
yang sederhana adalah sebuah pemahaman tentang kebangsaan. Di negara ini bangsa 
itu diberi nama Bangsa Indonesia, yang juga sekaligus menjadi nama negara 
(Sumpah Pemuda 1928). Di Indonesia paham tentang kebangsaan ini juga dibarengi 
dengan paham tentang tanah air (negara). Salah satunya, atas dasar itulah 
Indonesia menyebutnya dengan Nusantara (wawasan nusantara). Pada banyak negara 
paham tentang tanah air (negara) ini sering tidak dimasuksertakan dengan paham 
kebangsaan. Inilah sedikit pengertian tentang nasionalisme.


      Bila sepakat merujuk pada pengertian di atas maka berbicara tentang 
nasionalisme adalah berbicara tentang kebangsaan. Berbicara tentang bangsa 
adalah berbicara tentang manusia, orang atau seseorang atau juga kaum di negara 
yang dimaksud. Berbicara tentang bangsa mestilah berbicara tentang konteks 
kekinian, dan semua dasar pemikiran haruslah dimulai dari internal individu, 
kelompok/kaum dan bangsa itu sendiri. Rasanya sangat-lah tidak nyambung serta 
sulit ditemukan maksudnya bila kita berbicara tentang bangsa Indonesia pada 
saat ini, kita malah mengutip masa lalu dan pemikiran-pemikian orang diluar 
bangsa Indonesia, apalagi dengan mengutip judul-judul buku orang yang bukan 
berbangsa Indonesia.


      Karena bila berbicara tentang bangsa kita harus memulainya dengan 
berbicara individu, maka bila kita berbicara tanggung jawab bangsa harus pula 
berbicara tentang tanggung jawab individu. Nah, di sini lah, segala persoalan 
bangsa dimulai dan dari sini pula lah kita dapat memperbaiki nasib bangsa ini 
ke depan. Di individu kita masing-masing melekat tanggung jawab kita terhadap 
bangsa sekaligus negara ini.

      Semakin besar/tinggi jabatan individu dalam negara maka semakin besar 
pula tanggung jawab individu tersebut terhadap bangsanya. Dengan kata lain, 
semakin kecil/rendah jabatan individu dalam negaranya maka semakin kecil pula 
lah tanggung jawabnya terhadap bangsanya. Seorang presiden punya tanggung jawab 
penuh terhadap seluruh bangsanya. Seorang gubernur punya tanggung jawab penuh 
terhadap seluruh rakyat/bangsa di provinsi nya, begitu juga seorang 
bupati/walikota punya tanggung jawab penuh terhadap masyarakat/bangsa di 
kabupaten/kota nya. Sehingga, sesungguhnya sekecil apapun permasalahan yang 
terjadi di masyarakat tidak-lah boleh ada lagi kata-kata dari pejabat di negeri 
ini yang menyalahkan masyarakat sepenuhnya. Si-pemegang jabatan haruslah 
koreksi diri karena dengan jabatannya itu ada tanggung jawabnya terhadap 
rakyat. Bila tanggung jawab ini tidak disadari atau malah diabaikan, maka 
sesungguhnya tak ada orang yang memaksanya untuk tetap menjabat. Menjadi rakyat 
jelata saja sudah-lah cukup baginya.


      Menilai tulisan-tulisan dari penyumbang tulisan yang terdahulu pada koran 
ini. Rasanya terlalu gampang si-penulis menyalahkan masyarakat dengan kata-kata 
tidak nasionalisme hanya karena tidak mengibarkan bendera merah putih, atau 
hanya karena tidak ikut upacara atau hanya karena tidak ikut meramaikan 
perayaan di lapangan. Mungkin karena pengertian tentang nasionalisme si-penulis 
kurang tepat sehingga contoh yang diambilpun menjadi salah. Contoh yang diambil 
semestinya bukan menjadi bukti tidak nasionalismenya masyarakat, tetapi itu 
merupakan akibat dari tidak nasionalismenya penyelenggara negara. Karena apa 
yang terjadi pada masyarakat sesungguhnya adalah tanggung jawab penuh dari 
pemerintahan, karena untuk itu-lah negara ini berdiri dan untuk itu-lah mereka 
diberikan jabatan memimpin di sana.


      Memahami Perilaku Masyarakat
      Penulis tidak sepenuhnya menyalahkan contoh dari penulis lainnya yang 
langsung menyalahkan masyarakat tidak nasionalisme. Tetapi, penulis mencoba 
menguraikan bahwa kecenderungan perilaku masyarakat sekarang terhadap negaranya 
adalah lebih dikarenakan tidak nasionalisme-nya pemerintah sebagai 
penyelenggara negara.


      Meskipun partisipasi aktif masyarakat (bangsa) sangat dibutuhkan dalam 
membangun negara, namun penyelenggara negara (pemerintah) sebagai pelayan 
masyarakat juga harus menyadari bahwa partisipasi rakyat ada batasnya dan tidak 
bisa dipaksakan. Karena rakyat sudah mengupah para pejabat dan pegawai negeri 
sipilnya melayani mereka dalam mambangun negara ini. Makanya, agak aneh rasanya 
bila ada kedinasan yang mengajak, meminta dan bahkan mencaci maki masyarakat 
yang kotanya kotor, bukankah mereka sudah membayar milyaran rupiah pajak bahkan 
kutipan setiap bulannya untuk membayar penyelenggara negara dalam membersihkan 
kota-nya tersebut. Memang kesadaran masyarakat sebagai bangsa sangat dibutuhkan 
agar semua tujuan pembangunan tercapai. Tetapi, menimbulkan kesadaran rakyat 
tersebut juga harus dengan contoh yang baik dari pemerintah, dan dalam 
memberikan contoh yang baik itu-pun masyarakat sudah membayar mahal sepanjang 
hidupnya, meskipun tidak jarang hidup mereka sendiri terlunta-lunta dan tinggal 
di rumah yang dianggap liar oleh pemerintah yang sebenarnya adalah pelayannya. 
Jadi, nyaris sebenarnya masyarakat (rakyat) tidak dapat disalahkan terhadap 
perjalanan hidupnya.


      Perkembangan yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Para penyelenggara 
negara (pelayan) tersebut seolah-olah adalah pemilik tanah air ini. Pelayan 
justru minta dilayani, upah yang dibayarkan oleh majikan (rakyat) untuk 
menyejahterakannya malah digunakan untuk menindas majikan dengan 
kebijakan-kebijakan yang tidak bersolusi sedikitpun. 


      Untuk memancing kembali rasa nasionalisme seluruh anak bangsa ini 
sekaligus agar anak bangsa dan negeri ini benar-benar merasa tidak terjajah 
lagi, maka ada beberapa hal harus dilakukan oleh pemimpin di negeri ini, yaitu; 
Pertama, ia adalah pemimpin yang mau mengatasi problem daerah dan bangsa ini 
dengan program nyata, bukan dengan retorika atau karisma, (atau nasehat 
paranormal), atau dengan data-data yang penuh dengan rekayasa. Pemimpin seperti 
ini adalah pemimpin yang tahu kalau rasa lapar itu adalah karena tidak adanya 
beras yang akan dimakan. Pemimpin yang tahu kalau kemiskinan itu karena tidak 
adanya lapangan pekerjaan sebagai sumber pengahasilan. Pemimpin yang tahu kalau 
berdagang kaki lima itu adalah bagian usaha keras masyarakat untuk 
mempertahankan hidup ditengah mahalnya harga sewa ruko. Pemimpin yang tahu 
bahwa masyarakat juga perlu berteduh ketika hujan dan beristirahat ketika lelah 
meskipun di rumah yang dianggap liar. Pemimpin yang juga harus tahu bahwa semua 
keharusan dalam aturan dan perundang-undangan adalah kewajiban pemerintah juga 
mencarikan solusinya. 


      Kedua, ia adalah pemimpin yang mau menerima kritik, dan bukan 
menyimpannya dalam hati sebagai dendam. Ketiga, ia adalah pemimpin yang tidak 
menghalangi kelompok lain memasuki arena politik dan kekuasaannya, hanya karena 
takut tersaingi (sehingga harus membentengi diri dengan UU Politik, Perda dan 
lain-lainnya yang sangat licik dan konservatif). 


      Keempat, ia adalah pemimpin yang anti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme 
seratus persen, tanpa syarat (dan karena itu rasa malu harus mendahului kursi 
dan jabatan politiknya). Pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang memandang 
setiap anak bangsa memiliki kebutuhan dasar yang sama. Tidak ada perlakuan 
khusus bagi keluarga, sahabat, rekan sekelompok, se-partai apalagi se-suku. 
Kelima, ia adalah pemimpin yang berani berkata "tidak" pada ketidakadilan dan 
berkata "iya" pada kebenaran meskipun harus kehilangan jabatan. Dari sini-lah 
nasionalisme dipertanyakan, dari sini pula nasionalisme dimulai. ***

      *)Erison, Nationalist Cluster berdomisili di Batam
     

Kirim email ke