Refleksi: Apakah Rusia membutuhkan gas dari Jakarta,bila hampir seluruh Eropah memakai gas dari Rusia?
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=9176 Jumat, 31 Agt 2007, Sukhoi Dibayar dengan Gas Alam JAKARTA - Presiden Rusia Vladimir Putin akan berkunjung ke Indonesia pada pekan pertama September nanti. Pemerintah Indonesia melalui Departemen Pertahanan (Dephan) siap menyambutnya dengan tawaran imbal balik sumber daya energi ditukar dengan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Rusia. "Bentuknya seperti apa, secara teknis masih kami susun," ujar Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan Letjen Sjafrie Sjamsoeddin di gedung Dephan, Jakarta, kemarin (30/8). Putin, kata Sjafrie, akan membicarakan soal realisasi state credit senilai USD 1 miliar untuk pengadaan alutsista Mabes TNI. "Tapi, masih ada beberapa item yang tidak masuk dalam state credit itu sehingga imbal balik tersebut bisa jadi salah satu solusinya," kata mantan Pangdam Jaya tersebut. Pekan lalu, Sjafrie baru saja pulang dari Rusia untuk membicarakan kemungkinan pengadaan pesawat tempur Sukhoi. Departemen Pertahanan secara konkret akan menganalisis kemungkinan imbal balik itu dengan Departemen terkait. Misalnya, Departemen Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Departemen Keuangan. "Saat ini belum ada skemanya, tapi ini mungkin jadi solusi alternatif untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI dalam anggaran yang sangat terbatas," jelas mantan Kapuspen TNI tersebut. Menurut Sjafrie, Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto sudah dilibatkan dalam pembicaraan tersebut. "Ini salah satu bentuk kreativitas, tapi memang harus dipikirkan secara jeli," katanya. Saat ditanya apakah skema itu mirip dengan pembelian pesawat CN-235 yang dibayar dengan beras ketan oleh Thailand ? Sjafrie hanya tersenyum. Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono yang ada di sampingnya menimpali, "Tidak mirip itu, nggak sama." Menurut Juwono, anggaran pertahanan Indonesia tidak memungkinkan untuk melakukan pengadaan senjata secara besar-besaran. "Itulah mengapa prajurit-prajurit kita masih harus menggunakan alutsista yang usianya hampir sama dengan umur saya," kata menteri yang berusia 65 tahun tersebut. Dalam RAPBN 2008, anggaran Dephan naik menjadi sekitar Rp 33 triliun. "Kita masih top five, yang peringkat utama Depdiknas, lalu Pekerjaan Umum, kita mengalah dan tahu diri lah," tuturnya. Juwono menilai, sepanjang tidak merugikan aset negara, skema imbal balik seperti itu sangat realistis. "Nanti Pak Purnomo (Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Red) akan kami ajak bicara," ujarnya. Dari Senayan, anggota Komisi I (bidang pertahanan) Deddy Djamaluddin Malik meminta Dephan berhati-hati dalam menyusun skema usul itu. "Jangan sampai Indonesia dirugikan," katanya. Politisi PAN tersebut khawatir nilai investasi energi yang akan diambil Rusia jauh lebih besar dibandingkan alutsista yang akan dimiliki TNI. "Bagaimanapun, kalau itu jadi, parlemen harus diajak bicara," tandasnya. (rdl)
