http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/18/0901.htm


Dehumanisasi Manajemen 
Oleh FAISAL AFIFF 

BELUM lama berselang diberitakan ada sekitar 600 orang pimpinan (CEO) 
perusahaan berskala global mengikuti konferensi UN Global Compact di Geneva, 
Swiss, untuk bertukar pikiran mengenai standardisasi perilaku moral dan etika 
praktik manajemen korporasi. 

Mereka merumuskan pijakan humanisasi organisasi bisnis yang lebih kokoh bagi 
peningkatan program pertanggungjawaban sosial perusahaan (corporate social 
responsibility), sehingga praktik manajemen mereka yang lazimnya berorientasi 
profit semata, semakin bergeser menjadi "memanusiakan manusia". Wujud 
partisipasi konkretnya bisa mencakup upaya-upaya bersama untuk mengurangi 
kesenjangan kemiskinan, menjaga kelestarian lingkungan, menegakkan hak asasi 
manusia, dan bahkan ikut aktif mengurangi wabah korupsi, terutama di belahan 
dunia Timur yang mayoritas warga masyarakatnya masih berkubang nestapa.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa para industrialis Barat belakangan ini 
semakin punya "hati" terhadap masyarakat Timur yang masih serba kekurangan. 
Agaknya mereka menyadari bahwa kerakusan meraup profit di belahan Timur, lambat 
laun malah ikut menabur kemiskinan dan menebar kesenjangan materi antara Timur 
dan Barat, yang kemudian beresultante melahirkan perlawanan terselubung, berupa 
tumbuh kembangnya aksi-aksi terorisme global menentang hagemoni ekonomi dan 
bisnis Barat. Hal itu jusru kontra produktif bagi kelanggengan dan kenyamanan 
usaha para industrialis Barat, karena dunia menjadi tidak aman lagi, serba 
rawan akan sabotase serta terorisme yang semakin marak, kian kuat militansinya, 
dan semakin rapi pengorganisasiannya. 

Jika kini praktik manajemen di lahan kaum kapitalis Barat bisa sukses 
berkembang tanpa limit, justru dikarenakan pelaksanaannya sangat mengedepankan 
nuansa kemanusiaan. Refleksi praktik tersebut dapat terlihat antara lain dari 
terpeliharanya pelayanan publik secara prima, terhormatnya hukum sebagai 
panglima kebenaran, ternistanya korupsi, terjaganya kelestarian lingkungan, 
terawasinya mutu produk-produk industri.

Selai itu, terlaksananya standardisasi upah pekerja yang memadai, 
terlindunginya hak konsumen, terciptanya keadilan sosial, teraktualisasinya 
demokrasi yang adil dan merata, terpeliharanya kesehatan masyarakat, dan 
terjaganya kualitas pendidikan yang unggul. Semangat kemanusiaan atau 
humanisasi di balik praktik manajemen ini secara konsisten dievaluasi, 
diperbaharui, dan disempurnakan seirama perkembangan zaman. Sayangnya, hal-hal 
demikian acapkali luput dari perhatian para pengkritik kapitalisme.

"Managing people"

Pada mulanya, penerapan konsepsi ilmiah mengenai praktik manajemen yang pertama 
kali dirintis dan diaplikasikan di dunia bisnis Barat, seiring gelora revolusi 
industri di abad ke-18, sangatlah berorientasi pada profit semata. Unsur 
manusia (buruh dan karyawan) hanya diposisikan "sejajar" dengan perangkat mesin 
di pabrik. Perang Dunia II yang terjadi akibat petualangan, persaingan, dan 
kerakusan mengejar profit - terutama di kalangan politisi dan industrialis - 
telah menyadarkan bangsa Barat akan pentingnya mengedepankan semangat 
kemanusiaan di balik tirai praktik manajemen bisnis mereka. Kemudian timbul 
kesadaran kolektif bahwa lunturnya kemanusiaan hanya berujung meletupkan 
konflik-konflik sosial yang parah di tengah masyarakat, bahkan sanggup memicu 
agresi liar peperangan yang memporak-porandakan kehidupan berbangsa dan 
bernegara yang berdampak menyengsarakan semua pihak, baik kaum papa maupun kaum 
berpunya. 

Tak heran jika seusai Perang Dunia II, para akademisi berbagai perguruan tinggi 
di Barat, terutama di Eropa, mulai aktif menyosialisasikan dan mengingatkan 
masyarakatnya bahwa esensi dari praktik manajemen adalah humanisasi: managing 
people. Bukan lagi hanya memanage angka-angka, uang, teknologi, administrasi, 
ataupun tumpukan kertas, tetapi memanage manusia yang punya eksistensi, cinta, 
rasa, dan martabat diri. Pada era inilah praktik manajemen versi ideologi 
kapitalisme mulai mengedepankan corak kemanusiaannya, khususnya yang diterapkan 
di negeri mereka sendiri. Hasilnya memang menakjubkan. Tingkat kemakmuran dan 
kesejahteraan masyarakat Barat pun lantas menanjak pesat, peradaban bersinar, 
serta ilmu dan teknologi melejit tak alang kepalang, hingga detik ini.

Berbekal semangat humanisasi kapitalisme inilah, mengalir paradigma mengenai 
orientasi praktik manajemen yang "memanusiakan manusia", di mana gaungnya pun 
seringkali kita dengar di tanah air, seperti diperkenalkannya konsep manajemen 
altruistik (a social behavior carried out by an individual or organization to 
benefit another without anticipation of rewards from external sources), yang 
belakangan popular disebut sebagai manajemen berbasis pemangku kepentingan. 
Konsep inilah yang kemudian menginspirasi munculnya aktivitas CSR (corporate 
social responsibility) oleh para industrialis di Indonesia. 

Menurut Winwin Yadiati, CSR didefinisikan sebagai "komitmen perusahaan untuk 
berperilaku etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang 
berkelanjutan seraya meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, 
komunitas lokal, dan masyarakat luas" ("PR", 2007). CSR mengilhami pula 
hadirnya gagasan maupun program filantropi global - MDGs (Millennium 
Development Goals) - yang diprakarsai para pelaku sektor publik, yang notabene 
disponsori dunia Barat. 

Target penting yang dicanangkan program MDGs adalah untuk mengurangi kemiskinan 
global dengan terlebih dahulu menghilangkan permasalahan buta huruf, kemudian 
menjamin kesempatan memperoleh pendidikan bagi anak-anak di seluruh pelosok 
dunia. Program ini bertujuan memperluas pelayanan kesehatan bagi kaum papa, 
menegakkan kesetaraan gender dengan meningkatkan pemberdayaan kaum wanita, 
menjaga kelestarian lingkungan hidup, serta menghilangkan perdagangan dan 
perbudakan manusia. Kesemua sasaran tersebut, diharapkan dapat dicapai 
selambat-lambatnya 2015.

Dehumanisasi

Sayangnya di era reformasi ini, tren humanisasi praktik manajemen tak lantas 
diadopsi tulus hati oleh para pengambil keputusan di tanah air. Jika ada 
pejabat publik ataupun pebisnis kita yang berbicara kemanusiaan, rasanya "sulit 
dipercaya", sebab faktanya hanya menjadi jargon pemanis belaka: lain di mulut 
lain di hati. Belum tegas terlihat motivasi kuat untuk menghadirkan semangat 
humanisasi di balik tirai praktik manajemen yang dicanangkannya itu. Malah yang 
kasat mata setelah 10 tahun mengarungi samudra reformasi, justru menguatnya 
tren dehumanisasi praktik manajemen di bumi nusantara tercinta ini. 

Fenomenanya bisa tampak pada kenaikan drastis harga bensin demi mengurangi 
subsidi, tertatih-tatihnya penanganan korban Lumpur Lapindo, perubahan tarif 
jalan tol demi investasi baru, pemaksaan penggunaan kompor bertabung gas 
menggantikan minyak tanah, komersialisasi pendidikan demi peningkatan kualitas, 
standardisasi pengupahan yang masih pas-pasan, melonjaknya penghasilan pejabat 
publik tanpa diimbangi prestasi, karut-marut dan rawannya pelayanan publik, 
maraknya bunuh diri tanpa ada yang mau peduli, membumbungnya harga barang 
kebutuhan pokok sehari-hari, kerusakan lingkungan yang menggelindingkan bencana 
alam, minimnya perlindungan terhadap TKW penghasil devisa, serta hampanya 
penanganan gelombang kemiskinan maupun PHK yang kelak akan menjadi "bom waktu". 

Biasanya, dalam tren dehumanisasi praktik manajemen seperti itu, orang akan 
berkecenderungan menanggalkan pula etika dan moralita kerjanya. Narsisme dan 
egosentrisme akan menguat. Agama pun tergadaikan sebatas formalisme ritualitas 
belaka. Tujuan dari semua tingkah laku kolektif pun, akhirnya direduksi menjadi 
satu kata: uang atau "profit". Sepintas, perjalanan situasi ke-Indonesia-an 
saat ini boleh dibilang hampir identik dengan siklus sosial Eropa, yang pernah 
mengagung-agungkan profit semenjak era revolusi industri hingga titik klimaks 
saat pecahnya Perang Dunia II. 

Tidak hanya itu, sejarah sebelum era itu pun senantiasa mengajarkan bahwa 
ketika area humanisasi suatu bangsa mengecil sehingga lokasi dehumanisasinya 
membesar, maka yang akan terjadi kemudian adalah konflik sosial berdarah, 
chaos, desintegrasi, atau bahkan kepunahan. Hal ini yang patut direnungkan dan 
dicermati bersama.

Walaupun hakikat reformasi adalah humanisasi di segala bidang kehidupan demi 
kemerdekaan jiwa dari tirani berpuluh-puluh tahun oleh bangsa sendiri, namun 
dalam kenyataannya reformasi belum juga berkesanggupan meredusir dehumanisasi 
praktik manajemen warisan Orla dan Orba. Bahkan, demokrasi di era Orde 
Reformasi yang kita banggakan, hanya menghasilkan antrean panjang rakyat yang 
berebut sembako, atau berpanas-panas menunggu jatah minyak tanah. 

Penyempitan ruang humanisasi praktik manajemen seperti itu, bisa diprediksikan 
semakin memperlemah survival anak bangsa untuk bisa lolos dari krisis 
multidimensi hasil warisan dosa-dosa kesejarahan masa lalu. Hal tersebut jauh 
berbeda dengan masyarakat Barat, semisal Eropa, yang sukses meloloskan diri 
dari jerat dehumanisasi atas dosa-dosa kolektif dari jejak kekeliruan nurani 
masa lalunya. Fasilitas publik terus disempurnakan, terutama bagi para 
penyandang cacat, yang merefleksikan tanda-tanda semakin humanisnya praktik 
manajemen di sana. Gelimang kemakmuran tidak lantas membuat Uni Eropa takabur 
menyepelekan spirit humanisasi, justru sebaliknya semakin diperkokoh memperkaya 
peradaban mereka. 

Dalam napak tilas pribadi, penulis bersyukur memperoleh kesempatan melakukan 
observasi empiris mempelajari dinamika Uni Eropa saat ini dengan menyusuri 
daratan Amsterdam-Brussels-Paris, menjelajahi kota hingga ke pelosok desa, 
berjumpa para petani, pengusaha, hingga kalangan akademisi di berbagai 
perguruan tinggi. Hal yang mengejutkan, umumnya orang di sana lebih antusias 
membahas perkembangan di Vietnam atau Malaysia. Bila berbicara mengenai 
Indonesia, mereka lebih tertarik mempertanyakan permasalahan yang tengah 
dihadapi negara kita. Sungguh kontras dibandingkan dengan perjalanan yang sama 
era tahun 70-an, di mana penulis seringkali kewalahan menjawab pertanyaan 
tentang ketertarikan masyarakat Eropa akan eksotisme Indonesia. 

Memang, Indonesia adalah negeri cantik yang tengah terbenam dalam pusaran arus 
beban permasalahan makro-sosial dan mikro-ekonomi yang datang secara bersamaan. 
Dalam situasi demikian tidak ada resep solusi teoritikal "mujarab" yang bisa 
diterapkan. Satu-satunya jalan terang yang terbuka hanyalah dengan kesadaran 
kolektif untuk menolak setiap langkah yang beraroma dehumanisasi, sekaligus 
berkeberanian menghumanisasikan praktik manajemen di negeri ini. Meletakkan 
kebijakan pondasi "memanusiakan manusia" di atas tirai perhitungan angka-angka 
presentase profit ataupun sederetan perhitungan statistik pertumbuhan yang 
kerap meninabobokkan realitas kemanusiaan di lapangan. Semoga di Bulan Suci 
Ramadan yang sarat pesan empati sosial ini, nuansa kemanusiaan kita pun 
perlahan-lahan beranjak mekar, meneduhkan zaman yang katanya sudah bertambah 
edan.*** 

Penulis, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandu

Kirim email ke