Refleksi: BPS adalah Badan Propaganda Sangberkuasa, jadi harus disesuasi dengan 
pengabdian politik kekuasaan yang berpedoman pada azas BBS[Bikin Bapak-bapak 
Senang]. Data-data atau angka-angka statistik harus diindahkan dan dimerdukan 
seperti Hadasah mendongeng cerita Seribu Satu Malam kepada Nebukadnesar.


http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/24/0902.htm


Statistik dan Pembangunan
Oleh Dr. Ir. DEDI SUFYADI, M.S. 
BANYAK orang yang tidak tahu tanggal 26 September sebagai Hari Statistik. Saya 
juga yang mengetahui sebelumnya benar-benar tidak tahu. Pengetahuannya juga 
amat terbatas, mungkin hanya sekadar mengetahui. Untuk itulah tulisan ini hanya 
ingin memberi tahu bahwa hari ini merupakan hari kebahagiaan bagi para 
statistikawan. Sudah sepantasnya kinerja mereka, kita apresiasi guna 
kemaslahatan bersama.

Untuk tahu saja, Jan Tinbergen dapat hadiah Nobel berkat statistik. Myrdal juga 
mendapatkan penghargaan yang sama karena kritiknya terhadap pendekatan 
statistik. Pak Sajogyo jadi sosiolog moyan berkat ketekunannya menghasilkan 
konsep-konsep statistik.

Presiden SBY tak mau senyum pada Gubernur Bengkulu (PR, 18/9/2007), gara-gara 
lemahnya data statistik korban gempa. Memang, data statistik pegang peranan 
penting dalam pembangunan. Katakanlah data warga miskin (Gakin) sangat 
menentukan bagi suksesnya program pengentasan kemiskinan.

Demikian peran statistika yang banyak bermanfaat dalam berbagai bidang 
kehidupan. Para pengguna data statistik sangat berharap ada layanan optimal 
dari penyedia data statistik. Dalam hal ini para pegawai Biro Pusat Statistik 
(BPS) dan Instansi terkait dituntut untuk berkemampuan sebagai pelayan. Pelayan 
yang ramah, tamah, dan minimal suka senyum pada tamu yang sedang butuh data 
statistik.

Bicara statistik dan pembangunan sangat relevan. Melalui angka statistik kita 
bisa lihat keberhasilan pembangunan. Oleh karena itu, sangatlah pantas bila 
kita mau menghargai kinerja para statistikawan. Para Mantri statistik di 
pedesaan tiada terik dan tiada hujan terus bekerja mengumpulkan data guna 
dipersembahkan pada para pengguna.

Di bidang pembangunan ekonomi dan kemasyarakatan angka statistik punya andil 
dalam menciptakan keberhasilan berbagai program pembangunan, seperti halnya 
dalam program pengentasan kemiskinan dan program peningkatan kesempatan kerja. 
Sebagaimana diketahui data statistik yang akurat akan menghasilkan perencanaan 
pembangunan ekonomi dan kemasyarakatan yang kuat.

Di bidang pembangunan politik seperti dalam pilpres, pilgub, dan pilkada; data 
penduduk yang reliable dan valid turut menentukan kehormatan dan keberhasilan 
perhelatan tersebut. Betapa tidak terhormatnya, masa iya orang yang sudah 
meninggal dunia masih terdata sebagai pemilih. 

Di bidang pembangunan ilmu, kedudukan statistik sangat jelas sebagai salah satu 
komponen dari sarana berpikir ilmiah di samping logika, bahasa, dan matematika. 
Bila matematika selalu menuntun kita dalam proses berpikir deduktif, maka 
statistika senantiasa membimbing kita dalam proses induktif. Statistika harus 
mendapat tempat yang sejajar dengan matematika agar keseimbangan berpikir 
deduktif dan induktif yang merupakan ciri dari berpikir ilmiah dapat dilakukan 
dengan baik.

Sebagaimana diketahui peranan statistik sangat banyak dalam penelitian, mulai 
dari tahap pengambilan sampel sampai dengan tahapan pengujian hipotesis. Dengan 
demikian dapat dikatakan statistik merupakan pengetahuan untuk melakukan 
penarikan kesimpulan induktif secara lebih seksama.

Kinerja BPS dalam peningkatan profesionalisme petugasnya saya nilai sangat 
bagus. Penyegaran dan pelatihan karyawan sering diselenggarakan. Begitu pula 
penyediaan data statistik yang dilakukan BPS boleh dibilang sudah bagus, tapi 
pemanfaatannya yang didasarkan pada kebutuhan para pemakai data statistik masih 
sering kali dipertanyakan. Katakanlah untuk melihat data mobilitas penduduk di 
BPS, para peneliti masih mengalami kesulitan. Tampaknya dialog antara produsen 
dan pemakai data statistik harus lebih ditingkatkan.

Di negeri ini, BPS mesti lebih diperkenalkan ke masyarakat. Betapa tidak? Pada 
suatu saat saya melaksanakan proses belajar bersama para mahasiswa di ruang 
kelas, ketika para mahasiswa tersebut saya tanya apa itu BPS? Mereka semuanya 
geleng kepala. Hal ini saya nilai sungguh ironis, ternyata para calon ilmuwan 
kita itu tidak tahu BPS. Oleh karena itu, BPS sebagai lembaga yang langsung 
bertanggung jawab pada presiden harus sama terkenalnya dengan lembaga 
pemberantas korupsi yang bernama KPK.

Begitu pula, BPS sebagai penyedia data statistik jangan sampai kalah oleh Bank 
Dunia dan Bank Indonesia dalam data perekonomian nasional. BPS kalah oleh BKKBN 
dalam data kependudukan. BPS kalah oleh Disduknaker dalam data pilkada. Saya 
kira sentralisasi pendataan di negeri ini sebaiknya dipertahankan. Terus 
terang, saya khawatir dengan adanya otonomi daerah karena peran BPS ini semakin 
ciut. Sudah saatnya para mantri statistik lebih kita hargai jangan sampai terus 
jadi prajurit.

BPS sesuai namanya mesti menjadi pusat data yang terjaga netralitasnya dari 
kepentingan politik mana pun, baik politik pembangunan maupun politik 
kekuasaan. Terus terang keberhasilan pembangunan tidak bisa dilihat dari data 
statistik yang kena virus politik. Katakanlah, angka pengangguran itu rendah 
tapi kenyataannya tinggi. Jumlah orang miskin sedikit tapi kenyataannya banyak. 
Begitu juga dalam konteks pilkada janganlah sampai muncul istilah politik data 
penduduk. Maksud saya, misalnya jumlah pemilih itu banyak tapi yang terdata 
hanya sedikit saja, karena yang mendata bukan BPS.

Demikian lah BPS mesti terbebas dari politik kekuasaan tapi mesti mengabdi pada 
politik normatif akademik yang menjunjung tinggi nilai kebenaran. Selamat 
bekerja para statistikawan. 

Penulis, dosen Kopertis Wilayah IV Jabar Banten Dpk. di Unsil Tasikmalaya.

Kirim email ke