Refleksi: Terang bulan, terang di pinggir kali, airya mengalir ke laut. 
Aksi-aksi bau terasi. Tetapi bagaimana dengan kali Ciliwung di ujung hidung??

http://www.gatra.com/artikel.php?id=108180


Road to Bali
Jangan Jadi Bulan-bulanan


Kelestarian kawasan laut dan pesisir adalah bagian tak terpisahkan dari siklus 
karbon. Pengakuan penting ini muncul dari Konferensi Tingkat Tinggi Asia 
Pacific Economic Corporation (APEC) di Sydney, Australia. Rupanya, dalam 
memandang ekosistem laut itu, terumbu karang dianggap sebagai komponen penting.

"Karena itu, kami menyambut program Coral Triangle Initiative (CTI) dalam upaya 
perlindungan terumbu karang dan perikanan." Begitulah penggalan salah satu 
butir deklarasi para pemimpin negara anggota APEC, yang dikumandangkan Ahad 
pekan lalu.

Boleh saja ada yang menganggap deklarasi ini tak banyak bedanya dengan 
"pernyataan rutin" yang biasa keluar setelah kumpul ramai-ramai. Tapi 
termaktubnya CTI dalam deklarasi APEC punya arti lain bagi perjalanan diplomasi 
Indonesia.

Bagi Menteri Luar Negeri, Hassan Wirajuda, CTI merupakan langkah awal bagi 
terbentuknya arah baru pembicaraan tentang pemanasan global yang digelar UNFCCC 
(badan PBB tentang perubahan iklim dunia) di Bali, Desember nanti. "Kami ingin 
ada semacam Bali Roadmap yang bisa memberi arah pembicaraan, bahkan kerangka 
baru 2012 mengenai Kyoto Protocol," kata Hassan.

Beberapa bulan sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memang sibuk 
melayangkan surat kepada sejumlah pemimpin negara. "Dear John,... saya berharap 
dukungan Anda terhadap inisiatif Indonesia untuk suatu kerja sama multilateral 
yang disebut Coral Triangle Initiative," tulis Presiden SBY kepada Perdana 
Menteri Australia, John Howard.

Kepada Presiden Amerika Serikat, George W. Bush, SBY menekankan pentingnya 
kerja sama ini. "Mr. President, kita mesti segera meluaskan dan menyediakan 
kerangka kerja serta peluang bagi pendanaan usaha-usaha konservasi sumber daya 
alam maritim dan pesisir," tulis SBY. Ia juga mengirim surat kepada sejumlah 
kepala negara, seperti Malaysia, Filipina, Timor Leste, dan Papua Nugini.

Tak hanya itu, "Presiden juga telah menyampaikan inisiatif Indonesia untuk 
membentuk Forestry Eight dalam pertemuan APEC lalu," kata juru bicara 
kepresidenan Dino Patti Djalal di Sydney, Sabtu pekan lalu. Sehari kemudian, 
SBY dan Howard kembali bertemu untuk menyaksikan penandatanganan kerja sama 
kehutanan. Selain Howard, Bush juga berjanji menganggarkan US$ 20 juta untuk 
program penghijauan di Indonesia. "Kalau nanti kita siapkan lokasinya, kita 
bisa tagih tuh dananya," ujar Hassan.

Forestry Eight dan CTI merupakan usulan program pelestarian lingkungan yang 
sedang getol diluncurkan pemerintah. F8 merupakan usulan pembentukan wadah 
negara-negara yang memiliki hutan tropis terbanyak. "Sejauh ini, sudah ada 
delapan negara yang menyatakan ikut bergabung, yakni Brasil, Malaysia, Papua 
Nugini, Gabon, Kamerun, Kosta Rika, Timor Leste, dan Indonesia sendiri," kata 
Dino Patti Djalal. Karena itu, Forestry Eight juga disebut F8.

Negara yang punya hutan hujan tropis memiliki peran penting. Soalnya, sekitar 
25% emisi global dianggap berasal dari negara-negara yang memiliki hutan akibat 
deforestrasi, illegal logging, kebakaran hutan, dan prahara lainnya. Namun 
sebaliknya, negara F8 pula yang bertindak sebagai paru-paru dunia, membersihkan 
udara dari emisi karbon yang dikeluarkan negara-negara industri selama ini.

Jika F8 banyak berurusan dengan hutan, CTI dirancang sebagai wadah 
negara-negara yang punya wilayah terumbu karang terkaya di dunia. Anggotanya, 
selain Indonesia, mencakup Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini, dan 
Kepulauan Solomon. Karena itu, anggota negara CTI biasa juga disebut CT6.

CTI itu sering juga disebut Amazon of The Seas, karena koralnya yang kaya bak 
hutan Amazon di Brasil. CTI dinilai sebagai pusat kehidupan dan keanekaragaman 
biota laut dunia. Menurut penelitian The Nature Conservancy (TNC), sebuah LSM 
lingkungan internasional, CTI menyimpan harta karun berupa 600 spesies koral 
dan 3.000 jenis ikan serta komunitas hutan bakau terluas di dunia.

TNC memperkirakan, khusus di kawasan Filipina dan Indonesia saja, CTI mampu 
menyediakan keuntungan ekonomi mencapai US$ 1,6 milyar dan US$ 1,1 milyar per 
tahun. "Jadi, CTI ini sangat penting, merupakan ladang mata pencaharian lebih 
dari 120 juta orang di kawasan itu," kata Rili Djohani, Direktur Program TNC 
Wilayah Indonesia.

Karena itu, sejauh ini, baik CTI maupun F8 mendapat sambutan lumayan hangat di 
luar negeri. Program CTI termaktub dan disebutkan dalam deklarasi APEC tadi, 
sedangkan F8 sudah melangkah pada serangkaian kesepakatan dengan diadakannya 
nota kesepakatan yang diteken Hassan Wirajuda dan Menteri Luar Negeri 
Australia, Alexander Downer, di Ruang Teale, Hotel Four Season, George St., 
Sydney, Ahad pekan lalu.

Kerja sama kehutanan ini terkait dengan lahan gambut Kalimantan, dengan 
mengadakan sejumlah proyek konservasi. Proyek-proyek ini diharapkan dapat 
memotong hingga 700 juta ton gas emisi rumah kaca. Australia berjanji 
mengucurkan dana sedikitnya US$ 100 juta untuk periode hingga 30 tahun. "Baik 
CTI maupun F8 benar-benar sebuah terobosan baru bagi konservasi terumbu karang 
dengan memanfaatkan suatu momentum politik," kata Rili.

Tapi, kenapa program seperti ini tak dari dulu dilakukan? Bukankah hutan dan 
terumbu karang sudah banyak yang menderita? "Kalau dibilang Indonesia 
terlambat, negara yang lain juga sama terlambatnya," kata Hassan kepada Gatra. 
Bagi Rili pun, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. "Dukungan 
politis dan pendanaan dari negara CT6 sangat diperlukan untuk kawasan CTI," 
tutur Rili.

Hanya saja, Riza Damanik, Manajer Kampanye Laut dan Pesisir Wahana Lingkungan 
Hidup Indonesia, mengingatkan bahwa langkah diplomatik ini jangan melulu 
mengharapkan bantuan asing. Upaya konservasi tak optimal jika sejumlah penyakit 
lama di dalam negeri belum juga disembuhkan. "Itu seperti pembalakan liar, 
penangkapan ikan oleh orang asing di wilayah Indonesia, sampai soal penegakan 
hukum yang masih lemah," kata Riza.

Lepas dari masalah itu, bagi Masnellyarti Hilman, Deputi Bidang Peningkatan 
Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Kementerian 
Lingkungan Hidup, memang sudah saatnya negara-negara berkembang yang kaya 
sumber daya alam bersatu.

Apalagi, Indonesia baru-baru ini mendapat tudingan tak sedap: dituduh menjadi 
negara ketiga penghasil gas emisi terbesar di dunia. Itu gara-gara kebakaran 
hutan yang terjadi setiap tahun. "Forum-forum itu juga berfungsi memperkuat 
posisi runding Indonesia untuk menghadapi tudingan-tudingan itu. Jangan sampai 
kita jadi bulan-bulanan," katanya.

Nur Hidayat, Bernadetta Febriana, Anthony, dan Mukhlison S. Widodo
[Lingkungan, Gatra Nomor 45, Beredar Kamis 20 September 2007] 

<<62.jpg>>

Kirim email ke