http://www.antara.co.id/arc/2007/11/19/azan-berkumandang-di-gereja-new-york/

19/11/07 16:53

Azan Berkumandang di Gereja New York

New York (ANTARA News) - "Allahu Akbar Allaahu Akbar... Laa Ilaaha Ilallaah", 
demikian azan --panggilan salat bagi kaum muslim-- dilantunkan dari awal hingga 
akhir dengan suara bariton oleh Christopher Herbert dan menggema di Gereja 
Marble Collegiate di kawasan Manhattan, New York.

Suara azan yang dikumandangkan anggota jamaah Marble Collegiate Church itu 
merupakan salah satu acara yang mengawali berlangsungnya dialog segitiga 
kalangan penganut agama Kristen, Yahudi dan Islam di New York, Minggu.

Dialog yang mengusung tema "Perspektif dari Tiga Agama" tersebut menghadirkan 
tiga pemimpin agama, yaitu pemimpin masyarakat muslim Indonesia Syamsi Ali, 
Pendeta Yahudi Peter J. Rubinstein, dan Pendeta Edwin G. Mulder --mewakili 
komunitas Marble Collegiate Church.

Mengawali sesi dialog, Syamsi Ali, yang juga Ketua Dewan Masjid Al-Hikmah New 
York, membawakan bacaan Alquran Surat Ali Imran ayat 102 yang maknanya 
menekankan bahwa persaudaraan merupakan sebuah karunia. 

Tidak hanya azan, dialog itu juga dimulai dengan pembacaan doa dan puji-pujian 
ala Yahudi dan Kristen. 
Menurut Syamsi, pengumandangan azan oleh salah satu Gereja telah melalui 
konsultasi dengan pihaknya. 

"Mereka menanyakan apa yang bisa dibawakan untuk menghormati kedatangan warga 
muslim. Saya katakan azan saja. Beliau (Chrisopher Herbert, red) sendiri 
mengambil sekolah teologi di Universitas Harvard di Boston," kata Syamsi ketika 
menjawab pertanyaan ANTARA tentang berkumandangnya azan di Marble Collegiate 
Church. 

Gereja yang didirikan pada tahun 1854 itu sendiri dipadati oleh ratusan anggota 
Gereja serta beberapa warga muslim dan Yahudi.


Dialog segitiga --Islam, Kristen, Yahudi-- berlangsung santai karena ketiga 
pemimpin agama kerap saling melontarkan gurauan. 

"Sekarang dia dulu yang jawab," kata Rubenstein sambil menunjuk Syamsi Ali 
ketika Pendeta Mulder mengajukan pertanyaan kedua kepadanya. 

"Oh, terima kasih karena memberikan kesempatan duluan kepada yang paling muda," 
kata Syamsi yang disambut tawa gemuruh dari jamaah. 

Bertindak sebagai moderator, Pendeta Mulder mengajukan lima pertanyaan kepada 
Syamsi dan Rubenstein, yaitu apa pedoman dan prinsip agama yang dianut; masalah 
terkini yang menjadi keprihatinan masing-masing; apa peranan rumah ibadah 
masing-masing dalam bidang politik; apa artinya saling menghormati; serta 
bagaimana mereka merayakan Hari Pernyataan Terima Kasih. 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab secara singkat oleh Syamsi, Rubenstein 
dan Mulder. 

Tentang masalah terkini, Syamsi menjawab bahwa persepsi yang salah tentang 
Islam adalah salah satu isu yang saat ini sangat memprihatinkan. 

"Prihatin karena ada kesalahpahaman terhadap Islam, juga adanya Islamophobia 
(ketakutan akan Islam, red). Media sangat berperan besar dalam membangun 
pemahaman," kata Syamsi. 

Rubenstein melihat perdamaian dengan keadilan sebagai masalah serius yang harus 
diwujudkan sementara Pendeta Mulder menyebut rasisme sebagai salah satu masalah 
besar dan memprihatinkan. 

Tentang peranan rumah ibadah dalam bidang politik, ketiga pemimpin agama 
memberikan jawaban serupa, yaitu berusaha mendorong jamaahnya untuk melihat 
masalah-masalah yang berada di sekililingnya dan bagaimana mereka dapat 
berkontribusi untuk memecahkannya. 

Untuk isu Hari Pernyataan Terima Kasih, Syamsi menerangkan bahwa setiap waktu 
bagi muslim adalah pernyataan terima kasih. 

"Kami dibiasakan untuk selalu mengucapkan kata `Alhamdulillahi Robbil 
`Alamiin`," ujarnya. 

Sambil menutup sesi dialog, Pendeta Mulder menyebut berlangsungnya dialog 
segitiga sebagai hal yang khusus yang mewarnai Thanksgiving. 

Seperti diungkapkan Mulder, dialog seperti pada hari Minggu itu telah memasuki 
tahun ke-15.

Kirim email ke